Foto: Kabut asap di Kota Samarinda (Istimewa)
SAMARINDA – Kabut tipis dan aroma asap mulai dirasakan warga di sejumlah kawasan Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), Selasa (1/9/2026). Kondisi tersebut mulai menjadi perhatian, karena berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat. Khususnya kegiatan di luar ruangan.
Di tengah musim kemarau dan masih berlangsungnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah, kualitas udara Samarinda secara umum saat ini masih berada dalam kategori sedang.
Berdasarkan data stasiun pemantauan resmi, Indeks Kualitas Udara atau Air Quality Index (AQI) di Samarinda berada pada kisaran 77 hingga 94. Angka tersebut masih masuk dalam zona kuning atau kategori Sedang.
Dalam kondisi tersebut, udara secara umum masih dapat diterima untuk masyarakat. Namun, keberadaan partikel debu dan kabut asap tipis mulai terdeteksi di sejumlah wilayah, akibat aktivitas kebakaran hutan dan lahan musiman.
Kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, penderita asma, serta masyarakat dengan penyakit jantung.
Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan tanda-tanda penurunan kualitas udara mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.
“Memang mulai ada agak perih, kemudian juga mulai ada kabut. Jadi, disarankan untuk kelompok yang rentan seperti anak-anak, lansia, itu tetap kalau aktivitas keluar rumah menggunakan masker,” ujar Suwarso, Selasa (1/9/2026).
Masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari. Namun kegiatan luar ruangan perlu disesuaikan dengan kondisi kualitas udara.
Anak-anak usia sekolah, misalnya, disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga, ketika tingkat polusi mengalami peningkatan.
Dalam 24 jam terakhir, kualitas udara sempat mencapai kategori kuning pada pukul 12.00 hingga 13.00 Wita. Sementara itu, kondisi sempat membaik dan berada pada kategori hijau sekitar pukul 19.00 hingga 20.00 Wita.
Jika kualitas udara memburuk, kegiatan olahraga dan aktivitas fisik berat di luar ruangan sebaiknya dikurangi. Terutama bagi kelompok sensitif.
Di lingkungan sekolah, jendela ruang kelas dapat ditutup ketika udara luar tercemar dan pendingin ruangan digunakan apabila tersedia. Sementara masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi, seperti N95.
Meski saat ini masih berada dalam kategori Sedang, kondisi kualitas udara Samarinda tetap perlu dipantau. Diperkirakan indeks kualitas udara berpotensi bergeser mendekati kategori Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif apabila kondisi cuaca kering dan angin kencang terus berlangsung.
Perubahan arah dan kecepatan angin juga dapat memengaruhi persebaran partikel debu maupun asap di wilayah Samarinda.
Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya melihat kondisi kabut secara kasatmata, tetapi juga mengikuti perkembangan indeks kualitas udara sebelum melakukan aktivitas luar ruangan.
BPBD Samarinda mencatat kondisi udara tidak merata di seluruh wilayah kota. Kawasan Samarinda Utara dan Palaran sempat mengalami kondisi udara yang lebih buruk dibandingkan wilayah lainnya.
Namun, kondisi tersebut berangsur membaik dan kualitas udara pada perkembangan siang hari kembali berada dalam kategori sedang. Terkait kemungkinan adanya asap kiriman dari daerah lain, BPBD Samarinda belum dapat memastikan hal tersebut.
Suwarso menyebut terdapat kebakaran di wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Penanganan dilakukan bersama dengan pihak terkait untuk mencegah api meluas.
“Memang ada kebakaran di daerah perbatasan kita dengan Kukar, tapi kan rata-rata kita bisa padamkan bersama dengan pihak Kukar,” jelasnya.
BPBD Pantau Dampak Kesehatan
Selain memantau kualitas udara, BPBD Samarinda berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya gangguan kesehatan akibat paparan asap. Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah perkembangan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Kalau indikasinya terjadi peningkatan maka otomatis Dinas Kesehatan melalui fasilitas pelayanan kesehatannya akan melakukan pengobatan-pengobatan maupun pemeriksaan-pemeriksaan,” ungkap Suwarso.
Warga yang mengalami batuk, sesak napas, mata perih, tenggorokan kering, atau iritasi akibat paparan asap diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Masyarakat juga dianjurkan memperbanyak minum air putih, mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan, serta menutup pintu dan jendela apabila kabut asap semakin pekat.
Dengan AQI yang masih berada di kisaran 77–94, kondisi Samarinda saat ini memang belum masuk kategori tidak sehat secara umum. Namun, kelompok sensitif tetap perlu mendapat perhatian lebih, terlebih apabila cuaca kering dan angin kencang terus berlangsung.
BPBD mengimbau masyarakat terus memantau perkembangan kualitas udara dan tidak melakukan aktivitas pembakaran sampah maupun pembukaan lahan dengan cara membakar yang dapat memperburuk kondisi udara serta meningkatkan risiko karhutla.
Penulis: Hanafi
Editor: Muhammad Rafi’i



