Air Benanga Tinggal 0,5–1 Meter di Sejumlah Titik, Samarinda Dibayangi Krisis Air

Teks foto: Kondisi Bendungan Benanga, Samarinda, Kamis (27/8/2026). Tinggi muka air turun menjadi 7,10 meter akibat kemarau berkepanjangan. (Abdi/Media Kaltim)

SAMARINDA – Samarinda berpacu dengan kemarau. Tinggi muka air Bendungan Benanga kini turun menjadi 7,10 meter. Jika hujan di kawasan hulu tidak turun dalam 10–14 hari ke depan, pasokan air baku yang menopang pelayanan air bersih di sejumlah kawasan kota terancam semakin kritis.

Kondisi di lapangan menunjukkan penyusutan cukup tajam. Debit limpasan di mercu bendung telah menyentuh nol sentimeter. Di sejumlah titik tampungan, ketebalan air bahkan hanya sekitar 0,5–1 meter di atas endapan lumpur.

Pengelola Unit Pengelola Bendungan (UPB) Benanga Ahmad Fauzan mengatakan pasokan yang tersisa kini diprioritaskan untuk kebutuhan air baku.

“Kita fokuskan untuk air baku, lebih kita utamakan,” kata Fauzan di Bendungan Benanga.

Tinggi muka air 7,10 meter tersebut sudah berada di bawah kisaran normal pelimpasan 7,20–7,70 meter. Penurunan belum menghentikan pengambilan air baku secara keseluruhan, tetapi volume air di tubuh bendungan terus berkurang.

Baca Juga:   Setelah Penantian Panjang, Program Seragam Gratis Kaltim Siap Dibagikan Akhir November

“Kapasitas air di tubuh bendungan sudah mengalami berkurang,” ujarnya.

Situasi dikhawatirkan semakin berat apabila tidak ada hujan signifikan di daerah tangkapan air selama 10–14 hari ke depan. Kondisi tersebut membuat pengelola memperketat penggunaan air yang masih tersedia.

Fauzan mengingatkan pintu penahan tidak boleh dibuka karena air yang tersimpan kini menjadi cadangan penting untuk menjaga kebutuhan air baku.

“Jangan sampai pintu penahan ini dibuka,” tegasnya.

Bendungan Benanga memiliki peran penting dalam menopang pasokan air baku untuk instalasi pengolahan air yang melayani sejumlah wilayah Samarinda.

Kawasan yang bergantung pada sistem tersebut antara lain Samarinda Utara, Sungai Pinang, Samarinda Ilir hingga Samarinda Kota. Jangkauannya mencakup Bengkuring, Lempake, Kebon Agung, Pemuda, Lambung Mangkurat hingga sekitar Lembuswana.

Pengelola juga tidak memiliki sumber cadangan lain dalam kapasitas memadai. Tambahan air masih bergantung pada aliran dari kawasan hulu Pampang, Tanah Merah dan Sungai Siring.

Untuk mempertahankan cadangan, pintu penguras bendungan kini ditutup total. Pasokan untuk irigasi pertanian di kawasan hilir seperti Muang Hilir dan Betapus juga dikurangi.

Baca Juga:   Tante & Ponakan Bawa 2 Kg Sabu, Ternyata Suruhan Napi di Bontang

Bukaan irigasi yang normalnya 10 sentimeter dipangkas menjadi 5 sentimeter sesuai instruksi Balai Wilayah Sungai (BWS).

“Instruksi dari BWS supaya irigasi dikurangi,” kata Fauzan.

Penyusutan debit juga menimbulkan persoalan baru di bagian hilir. Minimnya aliran membuat limbah cair dari tiga industri rumahan tahu di sekitar kawasan tidak terbawa arus.

Limbah mengendap di tanah dan bagian sungai yang mengering hingga menimbulkan aroma tidak sedap di lingkungan sekitar.

“Limbah langsung ke sungai dampaknya ngeri, aromanya menyebar,” ujar Fauzan.

UPB Benanga bersama kelurahan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas telah turun ke lokasi. Pemilik usaha tahu diminta segera membuat bak pengolahan limbah bersekat atau septic tank bertingkat agar limbah tidak langsung dibuang ke sungai.

Kondisi Bendungan Benanga kini sangat bergantung pada datangnya hujan di daerah hulu. Selama kemarau masih berlanjut, pengelola memilih menahan sebanyak mungkin air yang tersisa dan memprioritaskannya untuk kebutuhan air baku masyarakat. (MK)

Pewarta: Abdi
Editor: Agus S.

BERITA POPULER