Foto: Reses Masa Persidangan II Anggota DPRD Kota Samarinda, Arie Wibowo di Kecamatan Samarinda Utara, Kelurahan Sempaja Selatan, Gunung Mulya, RT 09. (Hadi Winata/Radar Samarinda)
SAMARINDA — Guyuran hujan deras tidak menyurutkan antusiasme warga RT 09 Gunung Mulya, Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara, untuk menghadiri kegiatan reses Masa Persidangan II Anggota DPRD Kota Samarinda, Jumat (22/5/2026).
Dalam agenda penyerapan aspirasi tersebut, persoalan krisis air bersih menjadi keluhan utama yang disampaikan masyarakat kepada Anggota DPRD Kota Samarinda sekaligus Sekretaris Komisi III DPRD Samarinda, Arie Wibowo.
Ketua RT 09 Gunung Mulya mengungkapkan, kebutuhan air bersih selama ini masih menjadi persoalan serius bagi warga. Saat musim kemarau tiba, masyarakat bahkan harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli air bersih demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau musim kemarau, sudah pasti sekitar Rp600 ribu dalam sebulan harus keluar untuk membeli air. Ini menjadi harapan besar warga semua agar air bersih bisa mengalir ke tempat kami,” ujarnya di hadapan peserta reses.
Menurutnya, warga berharap DPRD dapat membantu menjembatani komunikasi dengan pihak terkait agar persoalan air bersih yang telah lama dihadapi masyarakat segera mendapatkan solusi nyata.
Menanggapi hal tersebut, Arie Wibowo mengaku telah lama mengetahui persoalan utama yang dihadapi warga Gunung Mulya, bahkan sebelum dirinya duduk sebagai anggota legislatif.
Ia mengatakan, upaya penanganan telah mulai dilakukan bersama pihak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Bahkan dua hari sebelum pelaksanaan reses, dirinya telah membawa tim PDAM untuk melakukan survei lapangan di kawasan tersebut.
“Masalah utama kita di sini memang air bersih. Saya tidak mau mengumbar janji kosong, tetapi prosesnya sudah berjalan. Dua hari lalu saya sudah membawa teman-teman PDAM untuk survei langsung ke lokasi,” kata Arie.
Berdasarkan hasil survei sementara, kata dia, kendala utama distribusi air di wilayah Gunung Mulya adalah belum adanya reservoir atau tempat penampungan air.
PDAM saat ini tengah mengkaji dua alternatif lokasi pembangunan reservoir, yakni di kawasan Damri Jalan AW Syahranie dan di belakang kawasan KNPI.
“Ada dua opsi lokasi penampungan air yang sedang dikaji. Tinggal nanti kita lihat skema anggaran mana yang memungkinkan untuk direalisasikan,” jelas politisi Fraksi Golkar tersebut.
Sebagai tindak lanjut, Arie meminta pihak RT segera mendata jumlah rumah dan Kepala Keluarga (KK) yang nantinya dipastikan akan melakukan pemasangan sambungan PDAM.
Data tersebut diperlukan untuk menghitung kebutuhan suplai air bagi masyarakat setempat.
Ia menegaskan, penyelesaian persoalan air bersih menjadi fokus utama yang ingin segera diwujudkan karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
“Kalau masalah air ini selesai, saya juga tenang. Ini kebutuhan utama warga yang memang harus diprioritaskan,” tegasnya.
Arie juga menyebutkan proyek penyediaan air bersih tersebut diharapkan dapat terealisasi paling lambat dua tahun ke depan melalui kolaborasi pendanaan antara Pemerintah Kota Samarinda dan dana Pokok Pikiran (Pokir) DPRD.
“Respons dari PDAM cukup bagus dan wilayah ini memang masuk prioritas. Mudah-mudahan paling lambat dua tahun ke depan air sudah bisa mengalir ke wilayah ini,” tutupnya.(adv/dprdsamarinda)
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



