“Silaturahmi Bunyi”, Cara Seniman Topa Menjaga Tradisi Musik Etnik Tetap Hidup

Foto: Pertunjukan seni bertajuk Silaturahmi Bunyi oleh seniman asal Tenggarong, Kutai Kartanegara bernama Topa. (Hadi Winata/Radar Samarinda)

SAMARINDA – Alunan alat musik tradisional dan kontemporer bergema di penjuru Auditorium mini Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur (Kaltim).

Hentakan, tiupan, dan gesekan instrumen berbalut harmoni dalam pertunjukan seni bertajuk Silaturahmi Bunyi oleh seniman asal Tenggarong, Kutai Kartanegara bernama Topa.

Kepala BPKW Kaltim, Titit Lestari, mengatakan pertunjukan itu bukan sekadar hiburan, tetapi juga media edukasi dan pelestarian budaya.

“Kami menampilkan pertunjukan dari Kelompok Topa atas ide ‘Silaturahmi Bunyi’ dan berharap kolaborasi tersebut dapat memberikan tontonan, tuntunan, sekaligus edukasi bagi masyarakat luas,” ujar Titit Lestari.

Menurutnya, bunyi merupakan alat komunikasi yang efektif. Karena itu, karya yang dibawakan para seniman diharapkan mampu menginspirasi komunitas seni, mahasiswa, hingga masyarakat agar terus berkarya dan menjaga warisan budaya daerah.

Dalam pertunjukan tersebut, Kelompok Topa menghadirkan beragam alat musik tradisional yang dipadukan dengan instrumen kontemporer.

Harmoni bunyi yang tercipta menjadi bentuk pengembangan warisan leluhur tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisi yang melekat di dalamnya.

Baca Juga:   Silaturahmi ke Wawali Samarinda, Ini Pesan Rusmadi untuk Kacab BPJS Kesehatan yang Baru Bartugas

Titit menilai langkah kreatif para seniman lokal sangat penting, terlebih beberapa alat musik yang digunakan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

“Beberapa bunyi-bunyian tradisional yang dahulu hanya digunakan untuk ritual, kini memiliki ruang lebih luas untuk dikembangkan tanpa menghilangkan nilai luhur,” katanya.

Ia juga mengapresiasi konsistensi Kelompok Topa yang selama bertahun-tahun tetap bertahan di jalur musik etnik di tengah tantangan dunia seni modern.

Sementara itu, pimpinan sekaligus kreator Kelompok Topa, Triandi Yuniarso, menjelaskan pagelaran tersebut menjadi momentum refleksi pada Hari Kebangkitan Nasional.

“Kami harus selalu bangkit dalam berkarya dan semoga karya itu bisa bermanfaat bagi masyarakat,” ucap Triandi.

Kelompok Topa sendiri telah aktif sejak 2005 dan dikenal fokus mengeksplorasi bunyi dibanding memainkan lagu dalam format umum.

Mereka memadukan alat musik etnik khas Kalimantan Timur dengan instrumen Nusantara lain, termasuk alat musik ciptaan sendiri.

“Kami lebih bermain di wilayah bunyi, bukan pada lagu. Jadi tidak memainkan lagu seperti pada umumnya,” jelasnya.

Baca Juga:   Cegah Stunting, Pemkot Siapkan Rembug Tingkat Kecamatan se-Samarinda

Ia menuturkan konsep Silaturahmi Bunyi lahir dari keyakinan bahwa hubungan antarmanusia tidak hanya dibangun secara fisik, tetapi juga melalui rasa dan bunyi yang menyentuh jiwa.

“Harapannya kita tetap bisa bersilaturahmi, tidak hanya secara fisik, tapi juga silaturahmi jiwa melalui bunyi,” katanya.

Meski kerap menerima tawaran tampil di berbagai acara, Kelompok Topa memilih selektif karena musik yang mereka sajikan membutuhkan ruang apresiasi yang lebih intim dan mendalam.

“Musik kami bukan musik hiburan yang sekadar lewat. Kami ingin penonton benar-benar menikmati dan merasakan,” ujar Triandi.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan optimismenya terhadap perkembangan musik etnik di Kalimantan Timur.

Kehadiran institusi pendidikan seperti Sekolah Budaya dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman dengan jurusan etnomusikologi dinilai menjadi faktor penting tumbuhnya minat generasi muda terhadap seni tradisi.

“Saya tidak terlalu khawatir anak-anak muda melupakan tradisinya. Perkembangannya sekarang justru sangat bagus,” tutupnya.

Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky

BERITA POPULER