Foto: Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Jasno. (Hadi Winata/Radar Samarinda)
SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda melanjutkan pembangunan infrastruktur pengendalian banjir di kawasan Jalan Pasundan, Kecamatan Samarinda Ulu. Proyek tersebut mendapat alokasi anggaran sekitar Rp19,06 miliar melalui APBD 2026.
Pembangunan drainase ini dinilai penting lantaran kawasan Jalan Pasundan masih kerap dilanda genangan ketika hujan dengan intensitas tinggi.
Bahkan, limpasan air disebut dapat mencapai kawasan Rumah Sakit Dirgahayu dan berdampak terhadap aktivitas masyarakat.
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Jasno, mengatakan pembangunan drainase di kawasan tersebut merupakan salah satu pekerjaan yang harus dipertahankan meski pemerintah tengah melakukan efisiensi anggaran.
Menurutnya, pengurangan anggaran seharusnya lebih diarahkan pada kegiatan yang manfaatnya tidak bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
“Kalau bicara efisiensi, kita lebih mengefisienkan kegiatan yang kurang bermanfaat. Namun, kegiatan untuk masyarakat seperti drainase ini penting. Pembangunan yang menjadi prioritas, apalagi pengendalian banjir, harus tetap berjalan,” kata Jasno, Sabtu (29/8/2026).
Pembangunan saat ini merupakan bagian dari penanganan banjir yang telah dilakukan secara bertahap sejak 2023.
Sebelumnya, saluran air di kawasan tersebut telah diperlebar untuk meningkatkan daya tampung dan memperlancar aliran saat hujan.
Kali ini, infrastruktur yang dibangun memiliki panjang sekitar 197,7 meter, lebar 5 meter dan tinggi 2,25 meter.
Saluran tersebut diproyeksikan menjadi jalur utama untuk mengalirkan air menuju Sungai Mahakam.
Selain saluran drainase, pemerintah juga membangun pintu air dengan ukuran lebar 1,2 meter dan tinggi 3 meter.
Keberadaan pintu air diharapkan dapat membantu mengendalikan debit sekaligus mempercepat pembuangan air saat curah hujan meningkat.
Penanganan tersebut tidak hanya menyasar Jalan Pasundan. Pemerintah juga menargetkan persoalan genangan di Jalan Gunung Merbabu dan wilayah di sekitarnya dapat ikut teratasi.
Jasno menyebut kondisi di lapangan menunjukkan persoalan banjir di kawasan tersebut cukup serius.
Hujan dengan durasi maupun intensitas yang tidak terlalu tinggi saja dapat menyebabkan air menggenangi sejumlah titik.
“Kalau hujan sedikit saja, air sudah masuk ke kawasan Rumah Sakit Dirgahayu. Dari Jalan Pasundan itu mulai tenggelam. Maka penting dibangunnya drainase ini,” ujarnya.
Di sisi lain, Jasno mendorong Pemerintah Kota Samarinda tidak hanya mengandalkan APBD dalam membiayai program pengendalian banjir.
Bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperluas penanganan infrastruktur drainase.
Samarinda sendiri disebut memperoleh bantuan keuangan sekitar Rp320 miliar pada 2026.
Menurut Jasno, dukungan tersebut dapat diarahkan untuk membiayai pembangunan maupun perbaikan drainase di kawasan lain yang masih memiliki persoalan genangan.
“Anggaran itu bisa digunakan untuk perbaikan drainase berikutnya, dan memang anggaran Pemkot sebaiknya untuk masyarakat, salah satunya pengendalian banjir,” pungkasnya.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



