Foto: Burhansyah atau Ahmad Bukhary,marbot Masjid Al-Mukarram di Jalan Pasundan, Kelurahan Jawa, Samarinda. (Hadi Winata/Radar Samarinda)
SAMARINDA – Dengan suara yang pelan namun bergetar, marbot Masjid Al-Mukarram, bernama Burhansyah atau yang lebih akrab disapa Ahmad Bukhary mengenang kembali momen ketika ia menerima kabar bahwa dirinya terpilih mengikuti program Umrah Gratis Gratispol dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Bukhary tak pernah membayangkan namanya akan tercantum dalam daftar jamaah umrah. Menurutnya, kesempatan ini merupakan salah satu titik balik dalam hidupnya untuk bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci.
“Ya Allah Pak… merinding saya waktu itu. Orang seperti kami ini mana terpikir bisa ke sana. Secara logika tidak mungkin,” ucapnya, Sabtu (15/11/2025).
Bukhary mengisahkan semuanya berawal dari kabar seliweran yang didengarnya dari sesama marbot. Ia sempat menganggap itu hanya wacana yang belum tentu benar.
Sampai suatu hari ia membaca slogan program unggulan Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud melalui surat kabar, yang salah satunya menyebut adanya kuota keberangkatan umrah untuk para marbot.
Tak lama kemudian, data dirinya diminta oleh pengurus masjid. Disusul dengan permintaan KTP dan KK dari pihak kelurahan. “Kata mereka, siapa tahu masuk program umrah gratis untuk marbot Kelurahan Jawa,” ceritanya.
Hingga suatu hari, sebuah kabar besar datang. SK Gubernur untuk keberangkatan para marbot telah terbit dan namanya tercantum di dalamnya. “Merinding betul saya, Pak. Luar biasa senangnya.” ucapnya.
Bukhary berangkat pada 10 September 2025, bersama rombongan hampir 100 marbot dari Samarinda. “Kami cuma bayar biaya suntik dan jahit baju, itu saja. Dari Samarinda sampai pulang lagi, semuanya gratis,” ujarnya.
Program ini menanggung seluruh biaya perjalanan, akomodasi, dan kebutuhan ibadah. Sebuah kesempatan yang menurutnya mustahil bisa ia capai dengan kondisi ekonomi sebagai marbot.
Perjalanan itu berlangsung selama 10 hari, dan pada 20 September dini hari, ia kembali tiba di rumah. Namun bagi Bukhary, pengalaman spiritual itu akan melekat seumur hidup.
Sudah 11 tahun Bukhary merawat masjid: membersihkan, mengurus perlengkapan, memastikan masjid siap digunakan jamaah setiap hari. Namun baru tahun inilah ia bisa mewujudkan impian yang nyaris tak terwujud, menginjakkan kaki di Tanah Suci.
“Umrah pertama kali, Pak. Tidak pernah terbayang bisa ke sana,” tuturnya lirih.
Kebahagiaan itu membuat Bukhary tak henti menyampaikan rasa syukur dan terima kasih. “Kami berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada Bapak Gubernur Rudy Mas’ud, Wakil Gubernur, Bapak Seno Aji dan Pemerintah Kalimantan Timur. Semoga beliau semua diberi kesehatan dan dimudahkan urusannya. Program ini luar biasa untuk kami para marbot,” serunya
Bukhary berharap program ini terus berlanjut, karena menurutnya para marbot di berbagai masjid bekerja dalam sunyi dan jarang mendapat perhatian. Bagi mereka, kesempatan seperti ini bukan sekadar perjalanan ibadah, tetapi bentuk penghargaan atas pengabdian bertahun-tahun.
Baginya, umrah gratis melalui Gratispol bukan sekadar bantuan, melainkan hadiah yang mengubah hidupnya. Ia membawa pulang pengalaman rohani, kebahagiaan, dan cerita yang akan diceritakannya kepada keluarga serta jamaah masjid.
“Program ini betul-betul luar biasa, Pak. Tidak ada kata lain.”
Dengan senyum yang masih tampak tak percaya, Bukhary menutup kisahnya, seorang marbot sederhana dari Samarinda yang akhirnya bisa melihat Ka’bah untuk pertama kalinya, karena sebuah program yang menjangkau mereka yang selama ini bekerja dalam senyap.(adv/jer/diskominfokaltim)
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



