HUT RI ke-81, Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) Gelar Susur Sungai

SAMARINDA – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) menggelar aksi Susur Kemerdekaan di Sungai Karang Mumus (SKM) pada Senin (17/8/2026).

Kegiatan berkonsep paddle board ini mengusung tema “Deklarasi Kemerdekaan Sungai Sebagai Ruang Hidup bagi Manusia dan Makhluk Tuhan Lainnya”, dimulai dari Sekolah Sungai Muang dan berakhir di Markas GMSS-SKM.

“Jadi kami melakukan susur sungai Karang Mumus sepanjang 17 km, untuk memperingati 81 tahun Indonesia merdeka, dan kami juga akan melakukan pembacaan deklarasi kemerdekaan sungai Karang Mumus,” ujar Ketua Pelaksana Lapangan GMSS-SKM, Bachtiar yang akrab disapa Mas Yo.

Mas Yo menegaskan pentingnya memulihkan fungsi ekosistem sungai bagi seluruh makhluk hidup.

WhatsApp Image 2026 08 17 at 19.52.50
Bahctiar kerap disapa Mas Yo selaku Pelaksana Lapangan GMSS-SKM (Foto: Abika/Media Kaltim)

“Kami menganggap bangsa Indonesia sudah merdeka, tapi sungai kita belum merdeka, harusnya sungai menjadi habitat semua makhluk,” lanjutnya.

Perjalanan 17 km tersebut dibagi ke dalam empat titik lintasan, yakni dari Sekolah Sungai Muang, Tepian Lempake, Jalan S. Parman, serta rute sepanjang 4 km dari GMSS menuju muara. Kegiatan ini diikuti oleh 32 peserta terdaftar yang juga melibatkan komunitas paddle board dari Balikpapan, Tenggarong, dan Samarinda.

Baca Juga:   Harga Bapok Terpantau Stabil Jelang Akhir Ramadan

“Kami dari GMSS menyuarakan untuk memulihkan sungai Karang Mumus, jadi sungai tidak boleh dijadikan kanal semua jadi kita harus berbagi ruang sungai, biar ekosistem yang dulunya ada kembali semula dan Samarinda masih punya sungai,” tegas Mas Yo.

Senada dengan hal tersebut, Ketua GMSS-SKM, Misman, menyambut baik dan menekankan bahwa aksi ini merupakan bagian dari gerakan moral masyarakat terhadap lingkungan.

WhatsApp Image 2026 08 17 at 19.52.50 1
Misman Ketua GMSS SKM (Foto: Abika/Media Kaltim)

“Kegiatan ini dilakukan dalam rangka berjuang untuk kembali berbudaya terhadap air, kita harus jaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitasnya,” tutur Misman.

Misman merinci bentuk nyata dari budaya menjaga air tersebut dalam perlakuan sehari-hari terhadap sungai.

“Dengan arti tidak mencemari sungai, tidak membuang setitik, sebutir, sehelai sampah ke sungai, kemudian sungai di bagian kota (hilir) yang sudah terlanjur di beton sudah jadi kanal tidak masalah tapi yang hulu harus dipertahankan sungai sedia kalanya,” jelasnya.

Ia menambahkan edukasi penting mengenai perlindungan hak ekosistem air bersih.

“Kita akan mengedukasi untuk berbudidaya terhadap dengan memperlakukan sungai sebagai sumber air bersih yang sehat, untuk tidak merampas hak-hak sungai seperti ekosistemnya,” tambah Misman.

Baca Juga:   Progres Teras Samarinda Tahap Dua Capai 60 Persen, Ditarget Rampung Tahun Ini

Sebagai langkah konkret jangka panjang, Misman mendesak peran serta pemerintah dalam penanganan limbah pemukiman.

“Kalau mau menyelamatkan sumber air bersih dan sehat di sungai Karang Mumus ini, kita atau pemerintah yang kompeten dalam hal ini harus membuat IPAL di setiap drainase parit ataupun got yang muaranya ke sungai, supaya tidak langsung masuk ke dalam sungai,” tutupnya.

Penulis : Abika Ramadhan
Editor : Nicha R

BERITA POPULER