Foto: Titis Anggraini, pemilik usaha kuliner Titis Kitchen. (Hadi Winata/Radar Samarinda)
SAMARINDA – Bagi Titis Anggraini, pemilik usaha kuliner Titis Kitchen di kawasan Graha Indah, Samarinda, akses pembiayaan dari program Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi titik balik perkembangan bisnisnya.
Sejak berdiri pada 2016, usaha rumahan yang memproduksi snack ball dan layanan katering itu kini mampu mempekerjakan 10 hingga 15 tenaga kerja lepas berkat dukungan permodalan dari Bankaltimtara.
“Pertama kali pinjam untuk beli alat-alat produksi, terus yang kedua untuk renovasi dapur. Alhamdulillah, semua dimudahkan, bunganya ringan, dan cicilannya menurun,” ujar Titis.
Dua kali memanfaatkan KUR, Titis mengaku tak pernah kesulitan dalam proses pengajuan. Ia hanya diminta melampirkan dokumen dasar seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), foto kegiatan produksi, dan laporan keuangan sederhana.
“Syaratnya enggak rumit, yang penting usaha benar-benar jalan. Sekarang omzet juga naik karena alat dan dapur makin memadai,” tuturnya.
Pinjaman terakhir yang ia peroleh sebesar Rp150 juta, dengan tenor lima tahun dan bunga hanya 6 persen per tahun. Dengan skema cicilan menurun, Titis merasa lebih ringan dalam mengelola pembayaran.
“Per bulannya sekitar Rp3,3 juta, tapi makin lama makin turun, jadi enggak berat,” katanya.
*Dorongan dari Pemprov Kaltim*
UMKM yang dibantu pendanaannya tidak hanya dirasakan oleh Titis semata. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim kini gencar memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM melalui program KUR, sekaligus memberikan subsidi biaya administrasi untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim, Sri Wahyuni, menjelaskan bahwa dua program tersebut berjalan paralel untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat.
“Kita dorong dua hal sekaligus, rumah layak huni bagi MBR dan pembiayaan usaha mikro lewat KUR. Untuk KPR, Pemprov menanggung biaya administrasinya seperti akta, notaris, dan legalitas,” jelasnya.
Sementara bagi pelaku usaha kecil, bunga KUR hanya sebesar 6 persen karena selisih bunganya ditanggung pemerintah pusat. Tahun ini, Pemprov Kaltim menyiapkan kuota untuk 1.000 penerima manfaat, dengan plafon maksimal Rp10 juta per orang. Tahun depan, kuota itu akan digandakan menjadi 2.000 penerima.
“Kalau tahun ini alokasinya 10 miliar, insyaallah tahun depan kita naikkan. Harapannya, semakin banyak UMKM seperti Titis yang bisa berkembang dan membuka lapangan kerja,” ujar Sri.
*Pendampingan UMKM Lewat Kampus dan KKN Tematik*
Untuk memastikan dana KUR benar-benar digunakan secara produktif, Pemprov juga menggandeng perguruan tinggi sebagai mitra pembinaan bagi penerima manfaat. Bentuknya berupa pelatihan manajemen usaha hingga pendampingan langsung di lapangan.
“Pendampingannya dilakukan oleh dosen dan mahasiswa dalam program pengabdian masyarakat. Bahkan, kita dorong KKN tematik agar diarahkan untuk mendampingi UMKM penerima KUR,” tambah Sri.
Langkah ini diharapkan mampu membangun ekosistem pemberdayaan ekonomi yang lebih terintegrasi, di mana kampus, pemerintah, dan pelaku usaha kecil saling berkolaborasi.
*Dampak Nyata di Lapangan*
Titis sendiri menjadi contoh nyata manfaat program tersebut. Meski hanya beroperasi secara daring tanpa membuka toko fisik, pesanan produknya terus meningkat.
“Semua sistemnya online, tapi pesanan enggak pernah sepi. Dengan bantuan KUR, saya bisa tambah peralatan dan pekerja,” ungkapnya.
Kini, Titis Kitchen tak hanya menjadi usaha rumahan, tapi juga wadah pemberdayaan ekonomi bagi warga sekitar.
“Kalau usaha lancar dan cicilan juga lancar, saya berharap bisa naik kelas lagi. Semoga ada kesempatan pinjaman lanjutan untuk ekspansi produksi,” tutupnya.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



