SAMARINDA – Bursa politik menuju Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Samarinda 2030 mulai memanas. Sejumlah partai politik telah mulai menyebut nama dan melakukan penjajakan figur.
PDI Perjuangan (PDIP) Kaltim justru memilih menahan diri.
Partai berlambang banteng itu belum menetapkan figur yang diplot untuk maju dalam kontestasi lima tahunan tersebut.
Sekretaris DPD PDIP Kaltim, Ananda Emira Moeis, mengatakan partainya tidak ingin kerja politik semata-mata diukur dari kepentingan elektoral.
“Kalau kita berpartai itu bukan melulu soal elektoral, bukan melulu soal kemenangan pemilu. Tapi bagaimana kita bekerja untuk masyarakat, untuk rakyat,” kata Nanda, Senin (21/9/2026).
Menurut dia, kemenangan elektoral nantinya diharapkan mengikuti kerja nyata yang dilakukan partai bersama masyarakat.
Karena itu, seluruh kader didorong turun ke lapangan. Mereka diminta mendengar persoalan warga, mencari solusi, sekaligus membangun program yang benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.
“Kita diperintah oleh Ibu Ketua Umum untuk turun ke bawah. Untuk bekerja, cari solusi, dengarkan, cari solusi, buat program yang memang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jadi itu dulu yang akan kita laksanakan,” ujarnya.
Nanda menyebut, belum adanya figur yang diplot bukan berarti mesin politik PDIP berhenti.
Sebaliknya, konsolidasi internal justru terus berjalan. Struktur partai sedang dipersiapkan hingga tingkat anak ranting. Persiapan saksi juga mulai dilakukan sebagai bagian dari kerja elektoral partai.
“Mesin partai sudah mulai dijalankan. Kita sedang konsolidasi pembentukan sampai ke anak ranting, lalu juga persiapan saksi-saksi,” katanya.
PDIP, lanjut Nanda, menjalankan dua pekerjaan sekaligus. Pertama, mempersiapkan kekuatan elektoral. Kedua, memastikan kader hadir di tengah masyarakat.
“Yang pastinya ada dua hal. Kita bekerja persiapan elektoral dan juga bekerja turun ke bawah bersama-sama dengan masyarakat,” tegasnya.
Soal kemungkinan munculnya kader yang akan didorong sebagai calon wali kota, Ananda mengatakan partainya belum menentukan nama.
Semua kader, kata dia, diberi ruang untuk turun dan memperkenalkan kerja mereka kepada masyarakat.
Setelah proses itu berjalan, barulah partai akan memotret tingkat popularitas dan elektabilitas masing-masing figur melalui survei.
“Karena semua kita minta untuk turun ke masyarakat. Pada saatnya nanti kita akan potret menggunakan media survei. Kita lihat elektabilitas, popularitasnya. Kita akan bicara nanti di situ,” jelasnya.
Dengan pola tersebut, PDIP tidak ingin sekadar mencalonkan seseorang karena nama besar atau dorongan internal partai.
Kerja politik, bagi Nanda, harus terlebih dahulu berangkat dari hubungan kader dengan masyarakat.
“Yang pastinya hari ini datangi rakyat dulu,” katanya.
Sikap tersebut sekaligus menjadi jawaban PDIP terhadap sejumlah partai yang sudah lebih awal memunculkan figur untuk Pilwali Samarinda 2030.
Nanda mengakui langkah partai lain tersebut. Namun, ia memastikan PDIP tidak merasa perlu ikut berlomba mengumumkan nama.
“Yang penting kerja aja dulu. Turun dulu ke bawah, turun dulu ke masyarakat,” ujarnya.
Samarinda memang menjadi salah satu arena penting dalam peta politik Kaltim.
Pada Pemilu Legislatif 2024, PDIP memperoleh 52.867 suara untuk DPRD Kota Samarinda berdasarkan penetapan KPU. Angka tersebut tersebar di lima daerah pemilihan.
Sebagai pembanding, Gerindra meraih 94.081 suara di pemilihan DPRD Kota Samarinda pada Pemilu 2024.
Sementara pada Pilkada Samarinda 2024, pasangan Andi Harun-Saefuddin Zuhri yang diusung Gerindra dan sejumlah partai lainnya berhadapan dengan kotak kosong. Data hasil Pilkada menunjukkan pasangan tersebut memperoleh 306.392 suara atau sekitar 88,12 persen, sedangkan kotak kosong memperoleh 41.301 suara.
Kini, menuju Pilwali 2030, konfigurasi politik tentu masih sangat mungkin berubah.
PDIP pun tampaknya memilih tidak membuka seluruh kartu terlalu dini.
Ketika ditanya mengenai sindiran dari partai lain yang mulai menyinggung langkah PDIP, Nanda memilih tidak memperpanjangnya.
“Ya, haknya mereka lah untuk menyindir. Silakan saja. Tapi yang pastinya kita ya bekerja aja,” katanya.
Bagi PDIP, pekerjaan rumah saat ini bukan menentukan siapa yang akan berdiri di panggung kontestasi.
Melainkan memastikan mesin partai hidup hingga akar rumput, kader bekerja, dan masyarakat merasakan kehadiran partai.
“Turun dulu ke bawah,” tutupnya.
Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Nicha R



