Teks foto 1: Peta BMKG menunjukkan sejumlah wilayah Samarinda masuk kategori 31–60 hari tanpa hujan. (BMKG Stasiun Meteorologi APT Pranoto)
SAMARINDA – Hujan diperkirakan masih sulit turun di Samarinda hingga akhir Oktober 2026. Kota Tepian kini masuk kategori hari tanpa hujan sangat panjang, yakni 31–60 hari, sementara kualitas udara sempat berada pada level tidak sehat, Rabu (2/9/2026).
Kepala Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, mengatakan kemarau tahun ini dipengaruhi fenomena El Nino dengan intensitas kuat yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kaltim.
“Kemarau kita di tahun ini disertai dengan fenomena global El Niño yang cukup kuat,” kata Riza.
Berdasarkan peta Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut Dasarian III yang diperbarui per 31 Agustus 2026, sejumlah titik pengamatan di Samarinda masuk kategori sangat panjang.
Kategori tersebut menunjukkan wilayah tersebut sudah mengalami 31–60 hari tanpa hujan secara berturut-turut. “Wilayah Kota Samarinda ini sudah berada pada kategori sangat panjang,” tegasnya.
Kondisi kering diperkirakan masih bertahan sepanjang September. Peluang hujan tetap kecil karena pertumbuhan awan konvektif belum terbentuk secara signifikan.
Hujan lokal sesekali masih terjadi di sejumlah wilayah hulu, seperti Kutai Kartanegara, Kutai Barat dan Mahakam Ulu. Namun, kondisi itu belum banyak memengaruhi cuaca di Samarinda. “Untuk potensi pertumbuhan awan-awan hujannya masih relatif cukup kecil,” ujar Riza.
UDARA SEMPAT TIDAK SEHAT
Kemarau panjang tidak hanya meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan. Kondisi tersebut juga memengaruhi kualitas udara di Samarinda.
Data sensor pemantau partikulat halus PM2.5 di Stasiun Meteorologi APT Pranoto menunjukkan konsentrasi partikel udara sempat masuk kategori tidak sehat pada beberapa jam, terutama pukul 09.00, 13.00 dan 14.00 WITA.
Pada pukul 15.00 WITA, konsentrasi PM2.5 turun menjadi 40,7 mikrogram per meter kubik atau masuk kategori sedang.
PM2.5 merupakan partikel udara berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat halus membuat partikel tersebut dapat terhirup hingga masuk ke saluran pernapasan.
Menurut Riza, pola angin musim kemarau yang dominan bergerak dari timur, tenggara hingga selatan membuat partikel debu dan asap lebih mudah tertahan di atmosfer. “Memang masih banyak sisa-sisa asap yang tertahan di atmosfer kita,” jelasnya.
BMKG mengingatkan warga menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.
“Kualitas udaranya pada tingkat sedang hingga tidak sehat, gunakan masker jika di luar,” tegas Riza.
Minimnya hujan juga dapat berdampak terhadap cadangan air baku. Risiko intrusi air laut berpotensi meningkat ketika debit sungai menurun, sehingga dapat memengaruhi mutu air yang diolah menjadi air minum.
Ancaman lain yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya kerentanan karhutla. Lahan dan vegetasi yang semakin kering lebih mudah terbakar, sementara asapnya dapat memperburuk kualitas udara.
BMKG meminta masyarakat mulai menghemat penggunaan air selama kemarau masih berlangsung.
“Langkah-langkah mitigasi kalau untuk kekeringan, ya kita hemat-hemat air,” kata Riza.
Pewarta: Abdi
Editor: Agus S



