Protes Pemadaman Listrik Bergilir, HMI Tuntut Kompensasi PLN

SAMARINDA – Pemadaman listrik bergilir yang berlangsung selama sekitar empat bulan memicu aksi protes Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Samarinda. Puluhan mahasiswa mendatangi Kantor PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Samarinda di Jalan Gajah Mada, Rabu (28/10/2026), untuk menuntut transparansi penyebab gangguan, kepastian pemulihan pasokan listrik, serta kompensasi bagi pelanggan terdampak.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa meminta PLN membuka data teknis terkait gangguan pasokan listrik yang memicu pemadaman bergilir. Mereka juga menyoroti dampak pemadaman terhadap kegiatan ekonomi masyarakat, pelayanan publik, dan aktivitas pendidikan.

Kedatangan massa diterima manajemen PLN UP3 Samarinda di halaman kantor. Dalam orasinya, HMI menilai penjelasan mengenai gangguan pembangkit yang selama ini disampaikan melalui media sosial belum cukup menjawab keresahan masyarakat.

Kepala Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda HMI Cabang Samarinda, Muhammad Shefa, mengungkapkan bahwa argumen klise mengenai “gangguan pembangkit” yang kerap diunggah di media sosial PLN sudah tidak lagi memuaskan publik.

“Kami meminta transparansi penyebab gangguan pembangkit itu apa. Kedua, kami meminta komitmen pihak PLN UP3 untuk mengatasi pemadaman bergilir di Kota Samarinda. Ketiga, kami meminta kompensasi kepada pelanggan yang terdampak,” tegas Shefa.

Baca Juga:   Diduga Kelelahan, Operator Crane Ditemukan Tak Bernyawa di Galangan Kapal Loa Bakung

Menurut Shefa, dampak pemadaman dirasakan berbagai kelompok masyarakat. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di bidang kuliner, disebut mengalami kerugian akibat bahan makanan yang rusak karena lemari pendingin tidak berfungsi.

Di sektor fasilitas umum dan keagamaan, sejumlah pengelola masjid dilaporkan menghadapi kerusakan mesin generator set (genset) akibat penggunaan berulang. Sementara itu, kegiatan belajar-mengajar dan agenda akademik juga disebut terganggu karena pemadaman yang tidak memiliki kepastian jadwal.

HMI turut mendesak PLN memberikan kompensasi kepada pelanggan terdampak, khususnya pelanggan pascabayar. Mereka meminta pemberian kompensasi mengacu pada ketentuan perlindungan konsumen dan regulasi yang berlaku.

Menanggapi desakan tersebut, Manajer PLN UP3 Samarinda, Adrian Sitompul, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas ketidaknyamanan dan kerugian yang dialami warga Samarinda.

Adrian menjelaskan, kondisi pasokan listrik dipengaruhi kombinasi gangguan teknis dan jadwal pemeliharaan pada empat pembangkit, yakni PLTGU Senipah, PLTU Indo Eka, PLTU Asam-Asam, dan PLTU Graha Power Kaltim (GPK).

Sebagai langkah jangka panjang, PLN tengah menyiapkan penambahan kapasitas daya secara bertahap dengan total daya mencapai 278 Megawatt (MW) (Tahap I sebesar 158 MW dan Tahap II sebesar 120 MW).

Baca Juga:   Legalitas Kepemilikan Jadi Sorotan dalam Pembahasan Raperda Sempadan Sungai di Samarinda

Namun, Adrian secara jujur mengakui bahwa proses penormalan butuh waktu dan pemadaman masih berpotensi terjadi dalam beberapa pekan ke depan.

“Kami mohon maaf kepada masyarakat. Memang dengan kondisi saat ini dan keterbatasan kita, kemungkinan pemadaman dalam beberapa minggu ke depan masih akan terjadi. Karena itu, kami akan terus melakukan percepatan dan berkoordinasi,” jelas Adrian.

Terkait ganti rugi atau kompensasi, PLN menyatakan harus berpatokan pada regulasi indikator Tingkat Mutu Pelayanan (TMP) dan keputusan manajemen tingkat atas. Pihaknya belum bisa menjamin kepastian waktu maupun besaran kompensasi yang akan diterima warga.

Penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab tuntutan HMI. Shefa menilai penyebutan nama-nama pembangkit tanpa disertai rincian data teknis belum memberikan gambaran utuh mengenai akar persoalan yang menyebabkan pemadaman berkepanjangan.

Atas desakan mahasiswa, PLN akhirnya menyepakati untuk menggelar pertemuan lanjutan pada Selasa mendatang setelah waktu Zuhur. PLN berjanji akan membuka data secara mendetail mengenai kondisi teknis keempat pembangkit tersebut.

Meski menyepakati jadwal pertemuan, HMI Samarinda menegaskan tidak akan tinggal diam. Pihaknya saat ini tengah mengonsolidasikan kekuatan bersama elemen masyarakat dan pedagang terdampak untuk menghadirkan massa yang lebih besar pada Selasa pekan depan.

Baca Juga:   Ethnic Borneo, Sambut 2025 di Swiss Belhotel Borneo Samarinda

“Untuk saat ini kami masih menghitung eskalasi massa, mungkin di hari Selasa nanti ada aksi teatrikal sedikit dari bubuhan HMI Samarinda,” pungkas Shefa.

Pewarta: Dimas
Editor: Nicha R

BERITA POPULER