SAMARINDA – Kepulan asap terlihat dari balik jendela helikopter ketika penerbangan memasuki wilayah Bantuas, Kecamatan Palaran, Samarinda. Dari ketinggian sekitar 1.000 kaki, sejumlah titik api terlihat masih membakar lahan dan kawasan berhutan.
Pemandangan itu menjadi bagian dari pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda dan sekitarnya yang dilakukan dari udara, Rabu (9/9/2026).
Selama sekitar 40 menit, helikopter Eurocopter AS350 Ecureuil atau Airbus Helicopters H125 dengan nomor registrasi PK-DBM menyusuri sejumlah wilayah yang terindikasi mengalami karhutla.
Bagi saya, penerbangan tersebut sekaligus menjadi pengalaman pertama menggunakan helikopter selama menjalani profesi sebagai jurnalis.
Rombongan bertolak dari Bandara APT Pranoto sekitar pukul 14.00 Wita. Di dalam helikopter terdapat Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri, Ketua Info Taruna Samarinda (ITS) Joko Iswanto, seorang pilot, co-pilot, dan saya sebagai perwakilan wartawan.
Helikopter tersebut diturunkan BNPB Pusat untuk mendukung penanganan karhutla, khususnya melalui pemadaman dari udara.
Namun dalam penerbangan pemantauan kali ini, kantong water bombing tidak dipasang karena mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan penumpang.
Sebelum terbang, ada alasan sederhana dan mungkin ini faktor keberuntungan mengapa saya bisa mendapat kesempatan ikut berada di dalam helikopter.
Dari sejumlah wartawan yang hadir, saya dipilih karena memiliki berat badan paling ringan, sekitar 68 kilogram.
Saya sempat kaget dan tak percaya saat ditunjuk.
“Hah? Serius ini, Pak?” tanya saya langsung kepada Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri.
“Iya, tidak apa-apa. Sekalian ambilin gambar buat media yang lain ya,” sahut Saefuddin Zuhri sembari tersenyum.
Tanpa berpikir panjang, saya langsung menaiki dan masuk ke dalam kabin helikopter.
Ada rasa canggung dan seperti bermimpi.
Petugas ground crew memasangkan sabuk pengaman dan memberikan headset penerbangan. Setelah semua penumpang siap, mesin helikopter mulai menderu.
“Nanti headset ini dipakai ya, ngobrolnya lewat ini,” petunjuk sang crew.
Sembari membenarkan posisi headset, saya mencoba menyapa sang pilot.
“Capt, ngetes saja… jujur saya belum pernah naik helikopter soalnya,” ucap saya tertawa tipis mencairkan suasana.
Dari headset terdengar komunikasi antara pilot dan petugas Air Traffic Control (ATC) untuk mendapatkan izin lepas landas.
Saat helikopter mulai terangkat dan perlahan meninggalkan landasan Bandara APT Pranoto, jantung saya berdetak begitu kencang. Rasa khawatir, takut, sekaligus senang bercampur aduk menjadi satu.
Dari balik jendela helikopter, pemandangan rumah-rumah warga mendadak mengecil.
Saya bergegas mengeluarkan ponsel untuk mendokumentasikan momentum ini. Pantauan pertama saya arahkan ke kawasan Kecamatan Samarinda Utara. Di sana, terlihat jelas dua titik api (hotspot) Karhutla membumbung di antara lahan.
Ketika sibuk merekam video, tiba-tiba rasa takut akan ketinggian menghampiri. Seketika kaki saya terasa lemas dan mati rasa. Namun, demi tanggung jawab profesi untuk menyajikan liputan terbaik bagi publik, saya memberanikan diri untuk terus mengambil gambar dan rekaman video.
Sekitar 10 menit penerbangan, hamparan lubang bekas tambang terlihat di kawasan Samarinda. Sejumlah bagian kawasan tersebut dikelilingi asap.
“Bener Pak ya, ini lubang tambang?” tanya Ketua ITS, Joko Iswanto, kepada Wakil Wali Kota di sela-sela pemantauan. Anggukan kepala dari Saefuddin Zuhri mengonfirmasi hal tersebut.
Melalui headset, Captain Pilot memberikan arahan rute selanjutnya.
“Nanti kita ke area Bantuas dulu di kawasan Palaran, baru kita memutar kembali ke Bandara APT Pranoto,” instruksinya.
Joko Iswanto kemudian kembali bertanya, “Capt, ini ketinggian berapa?”
“Ini ketinggian 1.000 kaki,” jawab Captain Pilot.
Mendengar angka tersebut, saya kembali melirik ke bawah dan seketika bulu kuduk merinding. Helikopter lalu bergerak menuju wilayah Bantuas.
Dari ketinggian 1.000 kaki itu, terlihat setidaknya 7 titik api yang masih berkobar membakar lahan dan hutan.
Pilot kemudian menjelaskan bahwa BNPB telah melakukan pemadaman menggunakan teknik water bombing sejak pagi hari. Namun, api kembali muncul.
“Saya beri saran, pemadaman Karhutla ini harus dilakukan secara sinergis dari udara dan darat. Karena struktur tanah di sana adalah tanah gambut, sangat sulit memadamkannya hingga benar-benar mati total hanya dari udara,” jelas sang Captain.
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, menyetujui pandangan tersebut.
“Oh, iya benar. Harus ada tim darat juga. Karena yang terbakar itu ada di bawah lapisan tanah gambut, jadi tidak bisa 100 persen padam kalau hanya disiram dari atas,” jelas Wawali.
Helikopter terus bergerak memutar ke arah Kutai Lama. Di sana, kami mendeteksi setidaknya 4 titik api yang masih aktif. Penerbangan dilanjutkan menuju kawasan Desa Saliki. Saya cukup terkejut melihat luasnya perkebunan kelapa sawit di area tersebut, di mana tak jauh dari situ lagi-lagi tampak asap tebal membumbung tinggi akibat kebakaran hutan.
Selama berada di atas Desa Saliki, helikopter beberapa kali terasa bergoyang tidak stabil lantaran terhempas angin. Mengingat ukuran helikopter yang relatif kecil, guncangan tersebut cukup terasa dan memacu adrenalin.
Tanpa terasa, perjalanan berlanjut hingga memasuki wilayah Muara Badak. Di kawasan ini, dua titik karhutla terdeteksi.
Setelah seluruh pemantauan dan dokumentasi dirasa cukup, pilot kembali berkomunikasi dengan ATC untuk meminta izin mendarat.
Sekitar 40 menit setelah meninggalkan Bandara APT Pranoto, helikopter akhirnya kembali mendarat dengan mulus.
Kaki kembali menginjak landasan.
Rasa lega muncul setelah perjalanan singkat yang dipenuhi suara mesin, getaran, ketinggian, dan pemandangan asap karhutla.
Namun, ada satu hal yang terasa berbeda setelah melihat kondisi karhutla dari udara.
Dari permukaan tanah, titik api mungkin hanya terlihat sebagai bagian kecil dari sebuah kawasan. Dari udara, persoalannya terlihat jauh lebih luas.
Hutan, lahan, bekas tambang, perkebunan, dan permukiman terbentang dalam satu pandangan. Di antaranya, asap menjadi penanda bahwa api masih menyala di bawah sana.
Pemantauan dari udara juga memperlihatkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan lebih dari sekadar menjatuhkan air dari langit.
Untuk kawasan dengan kondisi tanah gambut, pemadaman dari udara perlu didukung penanganan dari darat agar api yang berada di bawah permukaan dapat benar-benar dikendalikan.
Bagi saya, penerbangan selama 40 menit tersebut bukan sekadar pengalaman pertama menaiki helikopter.
Sepanjang karier saya sebagai jurnalis di Media Kaltim, ada pelajaran jurnalistik di dalam momen penerbangan ini yang ikut terbawa ketika kembali ke daratan.
Jika ada kesempatan di lain waktu, saya tentu ingin merasakan kembali sensasi terbang dengan helikopter yang berukuran lebih besar untuk membandingkan pengalamannya.
Pewarta: Dimas
Editor: Nicha R





