Kekeringan Akibat El Nino, Dinas ESDM Minta Warga Tak Sembarangan Manfaatkan Air Dari Eks Tambang

SAMARINDA – Kekeringan akibat fenomena El Nino mulai mendorong sebagian warga Kalimantan Timur mencari sumber air alternatif hingga ke kolam bekas tambang. Namun, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim mengingatkan air dari eks lubang tambang tidak boleh sembarangan digunakan sebagai sumber air baku, terlebih untuk konsumsi.

Di Kaltim sendiri tercatat terdapat 537 kolam bekas tambang. Kondisi tersebut menjadi perhatian ketika keterbatasan sumber air membuat sebagian masyarakat mulai memanfaatkan air yang berada di lubang bekas aktivitas pertambangan.

Kepala Dinas ESDM Kaltim Bambang Arwanto mengatakan pemanfaatan air eks tambang oleh warga muncul karena hujan tidak turun dalam beberapa waktu terakhir.

“Memang karena kekurangan air dan hujan juga tidak turun, itu menjadikan sumber air mereka. Tapi saya tidak melihat untuk minum. Mereka menggunakan untuk MCK saja,” kata Bambang.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian berada di kawasan Bayur. Di lokasi tersebut, masyarakat terlihat memanfaatkan air dari kolam bekas tambang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga:   Tega! Ada Janin Dibuang di Pelataran Warga Jalan HAMM Riffadin

Bambang menyebut aktivitas warga di kawasan tersebut cukup ramai, terutama pada sore hari. Selain mengambil air, warga juga menggunakan kawasan itu untuk mandi hingga memancing.

“Pertama karena memang untuk kebutuhan air dan mereka banyak mengambil air di situ. Kemudian mandi, ada yang mancing dan sebagainya,” ujarnya.

Meski air tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus (MCK), ESDM Kaltim tetap mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap air eks tambang otomatis aman digunakan sebagai air baku.

Terlebih, kondisi air yang terlihat jernih bukan menjadi jaminan bahwa air tersebut bebas dari kandungan yang membahayakan kesehatan.

Bambang menjelaskan setiap kolam bekas tambang memiliki karakteristik air yang berbeda.

Karena itu, kelayakan air harus dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium sebelum digunakan sebagai sumber air baku maupun air minum.

“Kami sebenarnya tidak menyarankan. Kami menyarankan air itu diuji laboratorium terlebih dahulu,” tegasnya.

Menurut Bambang, kandungan tertentu dalam air bekas tambang tidak dapat diketahui hanya dengan melihat kondisi fisiknya.

Baca Juga:   Tiga Pria Samarinda Terancam 6 Tahun Penjara Akibat Timbun 5,4 Ton Solar

Diperlukan pengujian untuk mengetahui kualitas serta memastikan apakah air tersebut memenuhi persyaratan untuk dimanfaatkan sebagai sumber air baku.

“Kami paham tidak semua kolam tambang itu bisa dipakai sebagai sumber air minum atau air baku. Itu pun masih harus dilakukan uji laboratorium,” katanya.

Karena itu, masyarakat yang berada di sekitar Bayur maupun kawasan lainnya diminta tidak menjadikan air dari eks lubang tambang sebagai sumber air minum sebelum terdapat hasil pemeriksaan yang memastikan kelayakannya.

“Kalau air minum, kami tetap menyarankan supaya air baku itu ada uji laboratorium dulu,” ujar Bambang.

Penulis: Hadi Winata
Editor: Nicha R

BERITA POPULER