SAMARINDA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mengusulkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai salah satu upaya membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pasalnya, karhutla di Kalimantan Timur melonjak tajam sepanjang Agustus 2026. Dalam satu bulan, luas area yang terbakar mencapai 3.131,93 hektare atau jauh melampaui luasan kebakaran selama Januari hingga Juli yang tercatat 233,23 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan peningkatan karhutla sepanjang Agustus cukup signifikan dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
“Kondisi ini memang sangat signifikan dan sudah cukup memprihatinkan bagi kita,” ujar Buyung, Rabu (2/9/2026).
Berdasarkan rekapitulasi BPBD Kaltim per 31 Agustus 2026, tercatat 559 kejadian karhutla sepanjang Agustus dengan total luas area terbakar 3.131,93 hektare.
Sebagai pembanding, sepanjang Januari hingga Juli hanya tercatat 125 kejadian dengan luasan 233,23 hektare.
Dengan tambahan kejadian sepanjang Agustus, total karhutla di Kaltim selama 2026 mencapai 684 kejadian dengan luas area terdampak 3.365,16 hektare. Luasan tersebut terdiri atas 1.824,83 hektare lahan, 1.499,82 hektare hutan, dan 40,51 hektare kebun.
“Kenaikan luasan kebakaran dari Januari-Juli ke Agustus terlihat sangat drastis sekali,” jelasnya.
Dari sebaran wilayah, Kabupaten Kutai Barat menjadi daerah dengan luasan area terbakar terbesar. Tercatat 93 kejadian dengan total luas mencapai 920,41 hektare.
Sementara Kabupaten Paser menjadi daerah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 195 kejadian dengan luasan 631,65 hektare.
Dua daerah lain yang mencatat luasan kebakaran cukup besar adalah Kutai Kartanegara dengan 772,73 hektare dari 64 kejadian dan Berau dengan 540,74 hektare dari 66 kejadian.
“Luasan paling tinggi di Kubar, sedangkan kejadian paling banyak ada di Paser,” tegas Buyung.
Peningkatan karhutla juga diikuti dengan penetapan status kebencanaan di sejumlah kabupaten dan kota.
Hingga awal September, Kabupaten Paser telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Karhutla. Sementara enam daerah, yakni Penajam Paser Utara, Mahakam Ulu, Samarinda, Berau, Kutai Barat, dan Kutai Timur, berstatus Siaga Darurat.
Adapun Kutai Kartanegara, Balikpapan, dan Bontang berada pada Status Siaga Bencana.
“Kabupaten Paser sudah tanggap darurat, sedangkan enam daerah lainnya menetapkan siaga darurat,” tuturnya.
Selain penanganan operasi darat bersama TNI, Polri, relawan, dan pemadaman mandiri oleh warga, BPBD Kaltim menilai penanganan dari udara mutlak dibutuhkan. Pengajuan teknologi modifikasi cuaca kini tengah difinalisasi untuk segera dikirimkan ke pemerintah pusat.
“Surat usulan OMC ke BNPB saat ini sedang proses paraf dan penandatanganan,” ungkap Buyung.
Rencana operasi hujan buatan tersebut diperkuat kajian teknis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan.
Analisis atmosfer menunjukkan kelembapan relatif (RH) pada lapisan 850 hPa di Kaltim berada pada kisaran 70–100 persen. Level 850 hPa menunjukkan posisi di atmosfer bawah yang bebas dari pengaruh langsung permukaan bumi. Posisi ini ada di sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut.
Potensi pertumbuhan awan hujan cukup menjanjikan, terutama pada periode 3 hingga 8 September 2026 dengan peluang di atas 70 persen yang terkonsentrasi di wilayah tengah dan utara Kaltim.
“Hasil kajian teknis BMKG menjadi bahan pertimbangan utama pelaksanaan OMC oleh BNPB,” kata Buyung.
Sementara itu, peningkatan karhutla juga tercermin dari pemantauan titik panas atau hotspot. Data satelit yang dipantau pemerintah menunjukkan peningkatan titik panas di sejumlah wilayah Kaltim selama Agustus.
Data akumulasi satelit NASA-NOAA2 dan NASA-SNPP menunjukkan konsentrasi hotspot berada antara lain di Kabupaten Berau, Paser, Kutai Barat, dan Kutai Timur.
“Kondisi titik panas meningkat tajam seiring puncak musim kemarau di berbagai wilayah,” bebernya.
Ancaman polusi asap juga kian nyata akibat potensi asap lintas batas (transboundary haze) dari provinsi tetangga seperti Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, yang terbawa sirkulasi angin ke arah utara menuju wilayah Kaltim.
Sejumlah titik di Kaltim bahkan mulai mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dalam kategori tidak sehat.
“Asap kiriman akibat arah angin berpotensi memperparah kualitas udara di Kaltim,” pungkas Buyung.
Pewarta: Abdi
Editor: Nicha R






