SAMARINDA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Jalan Pelita 8, Kelurahan Pulau Atas, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda, terus meluas. Hingga Senin (5/10/2026) pukul 16.23 Wita, kobaran api membuat ketebalan asap dilaporkan mengganggu aktivitas warga dan para pengguna jalan di jalur utama.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, mengungkapkan bahwa wilayah Pulau Atas menjadi titik dengan frekuensi kejadian kebakaran tertinggi di Samarinda. Dalam kurun waktu sepekan terakhir, akumulasi lahan yang terbakar di kawasan tersebut diperkirakan telah mencapai 53 hektare.
“Angka ini masih bisa bertambah karena tim di lapangan masih terus berjuang memadamkan api,” ujar Suwarso saat ditemui di lokasi, Senin (5/10/2026).
Secara akumulatif, total area terbakar di seluruh wilayah Kota Samarinda hingga saat ini telah menembus 608,18 hektare. Selain Kecamatan Sambutan, titik api juga tersebar di Kecamatan Palaran, Samarinda Utara (kawasan Lempake), serta beberapa kecamatan lainnya.
Menurut Suwarso, karakteristik vegetasi berupa semak belukar yang mengering, struktur tanah gambut, hingga keberadaan deposit batu bara di lapisan bawah tanah menjadi pemicu utama cepatnya perambatan api di wilayah Sambutan.
Di tengah meluasnya titik api, tim gabungan kini harus bekerja ekstra keras karena tidak adanya dukungan armada helikopter water bombing. Unit helikopter pengebom air dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah dialihkan ke provinsi lain, sejak beberapa hari lalu.
“Helikopter sudah digeser BNPB sekitar empat hari lalu untuk memperkuat penanganan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah yang kondisinya dinilai lebih parah,” jelas Suwarso.
Meski demikian, BPBD Samarinda terus berkoordinasi dan mengimpor visual titik-titik api ke koordinator water bombing BNPB. Tujuannya agar bantuan helikopter dapat dialokasikan kembali ke Kaltim dan beroperasi dari Bandara APT Pranoto.
Saat ini, pemadaman sepenuhnya mengandalkan personel satgas darat dan relawan. Petugas harus menerapkan sistem estafet menggunakan tangki air, yang disedot dari sumber air atau sungai terdekat untuk menjangkau titik-titik api di area dalam.
Upaya pemadaman di lapangan dihadapkan pada sejumlah rintangan berat. Selain keterbatasan sumber air, medan perbukitan yang curam dan tidak memiliki akses jalan bagi kendaraan roda dua maupun roda empat menyulitkan suplai air ke titik api terdalam.
Tak hanya mengancam lahan, kobaran api dan asap pekat beberapa kali sempat menyeberang ke jalur utama Jalan Sultan Sulaiman. Akibatnya, mengganggu jarak pandang pengendara yang melintas. Pemadaman bahkan harus dilakukan hingga malam hari, demi mencegah api mendekati kawasan permukiman warga dan objek vital seperti gardu PLN.
Terkait status tanggap darurat Karhutla Kota Samarinda, Suwarso menyebutkan bahwa proses administrasi perpanjangan status saat ini sedang berjalan dan menunggu keputusan resminya.
Pewarta: Dimas
Editor: Muhammad Rafi’i



