SAMARINDA — Pada Senin (7/9/2026), sedikitnya empat penerbangan rute Samarinda-Jakarta terpaksa dibatalkan akibat kondisi abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I APT Pranoto Samarinda, I Kadek Yuli Sastrawan, mengatakan operasional penerbangan sangat bergantung pada perkembangan aktivitas vulkanik, kondisi cuaca, serta jarak pandang di bandara tujuan maupun sepanjang jalur penerbangan.
Berdasarkan informasi resmi Bandara APT Pranoto Samarinda, empat penerbangan yang terdampak pada Senin (7/9/2026) merupakan penerbangan dari dan menuju Jakarta.
Keempatnya yakni Batik Air ID 6256/6257 rute Samarinda-Jakarta-Samarinda, Batik Air ID 6677/6676 dengan rute serupa, Citilink QG 423/422, serta Garuda Indonesia GA 581/580.
Abu vulkanik menjadi salah satu faktor utama yang membuat penerbangan harus dihentikan sementara. Material vulkanik di udara dapat mengganggu jarak pandang, berisiko terhadap kinerja mesin pesawat, serta membahayakan keselamatan penerbangan.
Kadek menjelaskan, secara umum kondisi operasional Bandara APT Pranoto Samarinda masih normal. Namun, penerbangan tidak dapat dipaksakan apabila kondisi di bandara tujuan maupun jalur penerbangan belum memenuhi standar keselamatan.
“Kalau bandara di sini beroperasi normal, bisa saja operasinya. Tapi kami tetap menunggu dan mengikuti perkembangan. Kalau Jakarta tiba-tiba sudah bagus dan tidak ada lagi abu vulkanik, pesawatnya bisa terbang. Kami di sini mendukung,” ujar Kadek.
Tidak hanya rute Samarinda-Jakarta, penerbangan menuju sejumlah wilayah di Kalimantan Timur juga mengalami kendala.
Kadek menyebut penerbangan perintis menuju wilayah seperti Kutai Barat dan Melak belum dapat dilakukan karena kondisi jarak pandang masih berada di bawah standar.
Bahkan dari informasi sebelumnya khusus rute perintis Melak–Datah Dawai (Mahakam Ulu) yang dilayani maskapai Smart Aviation, pembatalan penerbangan diperpanjang hingga Kamis, 10 September 2026.
“Untuk daerah seperti Kubar atau Melak dan Mahakam ulu, saat ini belum ada penerbangan karena jarak pandangnya masih di bawah standar,” katanya.
Sementara itu, penerbangan menuju Berau dan Maratua masih tersedia. Namun, penerbangan perintis mengalami pembatasan karena sebagian armada juga diminta membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Menurut Kadek, penggunaan pesawat perintis untuk mendukung penanganan karhutla dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas di lapangan.
“Pesawat perintis saat ini diminta bantuannya untuk penanganan karhutla. Karena di beberapa tempat lebih efisien, penerbangan perintis sementara dihentikan dulu sampai jarak pandangnya membaik,” jelasnya.
Ia menegaskan, penerbangan perintis akan kembali dioperasikan setelah kondisi jarak pandang memenuhi standar keselamatan penerbangan.
Di tengah pembatalan sejumlah penerbangan menuju Jakarta, penerbangan lainnya dari Bandara APT Pranoto Samarinda masih berjalan sesuai jadwal.
Namun, jadwal tersebut tetap dapat berubah sewaktu-waktu dengan mempertimbangkan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi abu vulkanik.
Pihak bandara mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi terbaru sebelum melakukan perjalanan, terutama bagi penumpang yang memiliki penerbangan menuju wilayah terdampak.
Bagi penumpang yang penerbangannya dibatalkan, dapat menghubungi maskapai masing-masing untuk mendapatkan informasi terkait perubahan jadwal, refund, maupun ketentuan penanganan lainnya.
Informasi juga dapat diperoleh melalui petugas Customer Service yang berada di terminal keberangkatan Bandara APT Pranoto Samarinda.
Kadek juga mengimbau masyarakat yang memiliki kepentingan perjalanan ke Jakarta untuk menyiapkan alternatif rute apabila penerbangan langsung masih terdampak.
“Harus mencari alternatif. Misalnya kalau memang tidak bisa ke Jakarta, tetapi tujuannya Jakarta, bisa dari Samarinda ke Surabaya atau dari Balikpapan ke Yogyakarta maupun Semarang,” ujarnya.
Dari sejumlah kota di Pulau Jawa tersebut, masyarakat dapat melanjutkan perjalanan menuju Jakarta menggunakan transportasi darat apabila penerbangan langsung belum memungkinkan.
Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penerbangan tidak hanya bergantung pada kondisi bandara keberangkatan.
Aktivitas vulkanik, abu vulkanik, cuaca, dan jarak pandang di bandara tujuan maupun sepanjang jalur penerbangan turut menjadi faktor penting dalam menentukan kelayakan penerbangan.
Karena itu, calon penumpang diminta tidak hanya berpatokan pada jadwal awal, tetapi terus mengikuti perkembangan informasi dari maskapai dan Bandara APT Pranoto Samarinda sebelum berangkat.
Penulis: Hanafi
Editor: Nicha R




