SAMARINDA – Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kalimantan Timur Muhammad Faisal mendorong lebih banyak sekolah menjadikan budaya lokal sebagai bagian dari aktivitas nyata.
Hal ini disampaikan setelah melihat ratusan siswa SD Muhammadiyah 1 Samarinda mengenakan pakaian adat Kutai dan menggelar kirab di jalan protokol kota, Jumat (14/8/2026).
Faisal hadir langsung membuka sekaligus melepas Kirab Budaya Pakaian Adat Kutai yang digelar SD Muhammadiyah 1 Samarinda. Menurutnya, langkah sekolah tersebut menjadi contoh konkret bagaimana kecintaan terhadap budaya daerah dapat ditanamkan sejak usia dini.
Ia mengaku sangat bangga melihat antusiasme para siswa yang memadati halaman sekolah hingga menyusuri rute parade di pusat kota. Menurutnya, pelestarian budaya Kutai dinilai tidak boleh berhenti sebagai materi pembelajaran di sekolah.
“Ya senang, gembira, bahagia, karena mereka semua memakai busana adat Kutai, budaya kita sendiri di Kaltim. Mudah-mudahan ini bisa menanamkan kecintaan terhadap budaya sendiri,” ujar Faisal penuh antusias usai melepas peserta kirab.
Faisal menekankan pentingnya membangun rasa percaya diri terhadap warisan budaya sendiri. Menurutnya, pawai busana adat di ruang publik menjelang Peringatan HUT Kemerdekaan RI ini memiliki dampak edukasi ganda, baik bagi internal sekolah maupun masyarakat umum.
“Pesan saya, banggalah dengan budaya kita sendiri. Mari kita kenali, bangga, dan kita lestarikan budaya Kutai,” tegasnya.
Faisal menilai momentum menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-81 membuat kirab tersebut semakin relevan. Kehadiran ratusan siswa dengan pakaian adat khas Kutai di sepanjang jalan kota membuat budaya lokal hadir langsung di tengah masyarakat.
Menurut dia, penggunaan pakaian adat dengan corak kuning khas Kutai tidak hanya menjadi bagian dari kemeriahan perayaan kemerdekaan, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan identitas budaya Kaltim kepada masyarakat luas.
“Apalagi ini anak SD yang memulai, harusnya sekolah-sekolah lain tergerak untuk mendorong hal yang sama dan tidak ragu memulai,” lanjut Faisal.
Ia secara khusus turut mengapresiasi keputusan SD Muhammadiyah 1 Samarinda yang berencana menjadikan pakaian adat Kutai sebagai bagian dari kebiasaan sekolah setiap tanggal 15 setiap bulannya.
Program tersebut dinilai dapat membuat pengenalan budaya berlangsung secara konsisten, bukan sekadar dilakukan ketika ada perayaan atau agenda tertentu.
“Saya sangat berharap sekolah lain bisa mengikuti hal baik seperti ini,” tambah Faisal.
Ia bahkan berharap kebiasaan positif ini tidak berhenti di lingkungan sekolah saja, tetapi juga makin digalakkan di instansi pemerintahan dan sektor publik.
“Memang harusnya juga dipakai para PNS dan pegawai BUMD setiap bulan sekali atau setiap minggu di hari tertentu, seperti di beberapa daerah lain,” usulnya.
Tak hanya berdampak pada aspek edukasi dan pelestarian tradisi, agenda kebudayaan massal seperti kirab ini diyakini memberikan multiplier effect bagi perekonomian lokal.
Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya penyedia jasa sewa baju adat, perajin tekstil, hingga pembuat aksesori tradisional di Samarinda, turut merasakan dampak ekonomi langsung.
“Pastilah ya, ada efek luar biasa bagi pelaku ekonomi kreatif jika ada hal-hal seperti ini,” tegasnya menutup wawancara.
Kirab ini sekaligus menjadi puncak dari semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 yang diselenggarakan oleh pihak sekolah sejak awal pekan.
Para peserta menyusuri rute lintasan jalan protokol kota meliputi Jalan Berantas – Jalan Basuki Rahmat – Jalan Abul Hasan – Jalan Sei Telen – Jalan Sei Musi – Jalan Sei Barito – Jalan Berantas.
Pewarta: Abdi
Editor: Nicha R








