TENGGARONG — Tidak ada rencana khusus. Hanya ingin menikmati pagi bersama istri, mengendarai sepeda motor tanpa tujuan yang terlalu jelas. Istilahnya, sunmori alias Sunday morning ride, lalu membiarkan jalan menentukan ke mana kami akan berhenti.
Rencana sederhana itu justru membawa kami menemukan satu tempat. Saat mampir membeli kopi, Istri saya yang membuka Tiktoknya tidak sengaja melihat konten tentang Air Terjun Perjiwa. Tanpa pikir panjang, modal Google Maps kami langsung meluncur kesana.
Bagi sebagian warga Samarinda dan Tenggarong, nama Air Terjun Perjiwa mungkin bukan sesuatu yang asing. Bisa jadi, tempat ini sudah berkali-kali dikunjungi, terutama oleh mereka yang gemar mencari suasana alam tanpa harus pergi terlalu jauh.
Namun, bagi kami yang baru pertama kali datang, Perjiwa memberikan kejutan tersendiri.
Perjalanan menuju lokasi menjadi bagian dari pengalaman tersendiri. Kami diarahkan Google Maps masuk lewat pintu utama Stadion Aji Imbut. Sempat ragu, tapi saya percayakan ke Istri saja yang menjadi navigator.
Setelah kurang lebih 40 menit perjalanan dari Samarinda, ada loket untuk membeli tiket masuk ke air terjun perjiwa.
“35ribu Mas sama parkir motornya,” ujar Mbak penjaga loket.
Jujur, jalan menuju air terjunnya seperti jalan tol. Alias, berbatu berlumpur membuat motor kami ngepot.
Ada beberapa pilihan spot air terjun, kami memilih yang agak sedikit menanjak yang ternyata cukup ekstrem jalannya. Lebih cocok untuk motor sekaliber KLX.
Begitu sampai, suasana terasa lebih teduh. Bukan destinasi dengan kemewahan fasilitas seperti tempat wisata modern, tetapi justru kesederhanaannya yang membuat Perjiwa punya daya tarik menurut saya.
Ada rasa seperti menemukan tempat yang selama ini ternyata ada di dekat kita, tetapi belum sempat dikunjungi.
Wisata yang Masih Bisa Dikembangkan
Perjiwa mungkin belum bisa disebut sebagai destinasi wisata yang sempurna. Namun, justru di situlah terlihat peluang besarnya.

Potensi alamnya sudah ada. Air terjun menjadi daya tarik utama, sementara suasana sekitar menawarkan ruang untuk bersantai dan melepas penat yang istilah zaman ini “healing”.
Hanya saja, ada sejumlah hal yang menurut kami masih perlu dibenahi jika Perjiwa ingin berkembang menjadi destinasi wisata yang lebih nyaman dan menarik bagi pengunjung.
Salah satunya adalah akses jalan.
Perbaikan jalan menuju lokasi akan sangat membantu, terutama bagi wisatawan yang datang menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Akses yang lebih baik tentu juga akan membuat wisatawan tidak berpikir panjang untuk berkunjung kembali.
Kemudian persoalan kebersihan.
Tempat wisata alam akan kehilangan sebagian pesonanya jika sampah mulai terlihat di sejumlah titik. Karena itu, pengelolaan kebersihan menjadi pekerjaan penting yang tidak bisa dianggap sepele.
Penerangan juga menjadi catatan.
Jika ingin dikembangkan sebagai destinasi yang bisa dikunjungi lebih banyak wisatawan, penerangan di area tertentu akan membuat pengunjung merasa lebih aman dan nyaman, terutama ketika berada di kawasan sekitar tempat wisata pada sore hari.

Bukan Sekadar Air Terjun
Hal lain yang menurut kami menarik untuk dikembangkan adalah fasilitas pendukung.
Misalnya, pilihan kuliner yang lebih proper. Tidak harus restoran besar. Warung atau kios sederhana dengan konsep yang rapi, bersih, dan menawarkan makanan khas lokal saja sudah bisa menjadi nilai tambah.
Pengunjung datang bukan hanya untuk melihat air terjun. Mereka juga ingin duduk, makan, minum, berbincang, dan menikmati suasana.

Fasilitas mandi juga menjadi kebutuhan yang cukup penting.
Setelah bermain air atau sekadar menikmati air terjun, tentu pengunjung membutuhkan tempat untuk membersihkan diri sebelum melanjutkan perjalanan. Fasilitas kamar mandi dan ruang bilas yang bersih dan layak akan membuat pengalaman wisata menjadi jauh lebih nyaman.
Jika dikelola dengan baik, fasilitas-fasilitas tersebut juga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat sekitar.
Perjiwa dan Cerita Kecil di Balik Perjalanan
Yang menarik dari perjalanan ini justru bukan karena kami sengaja mencari Air Terjun Perjiwa.
Kami berangkat tanpa rencana.
Hanya ingin menikmati pagi bersama istri, mencari udara segar, melihat jalan yang belum tentu pernah dilewati, kemudian berhenti ketika menemukan sesuatu yang menarik.
Dan ternyata, perjalanan acak itu membawa kami ke tempat yang cukup menyenangkan.
Mungkin bagi orang lain Perjiwa bukan destinasi baru. Mungkin juga sudah banyak yang datang dan memiliki cerita sendiri tentang tempat ini.
Tetapi bagi kami, kunjungan pertama itu menjadi pengingat sederhana bahwa untuk menemukan tempat menarik, terkadang kita tidak perlu pergi terlalu jauh.
Cukup naik motor, berjalan tanpa terlalu banyak rencana, dan sesekali memberi kesempatan kepada jalan untuk menentukan tujuan.
Menjaga yang Ada, Mengembangkan yang Berpotensi
Air Terjun Perjiwa adalah salah satu contoh bahwa destinasi wisata tidak selalu harus dibangun dari nol.
Alamnya sudah tersedia.
Yang dibutuhkan adalah bagaimana potensi tersebut dirawat dan dikembangkan tanpa menghilangkan karakter alaminya.
Perbaikan akses, kebersihan, penerangan, fasilitas mandi, serta pilihan kuliner yang lebih tertata bisa menjadi langkah kecil untuk membuat Perjiwa semakin nyaman dikunjungi.
Pada akhirnya, wisata bukan hanya tentang seberapa bagus tempatnya.
Tetapi juga tentang bagaimana pengunjung merasa nyaman, masyarakat sekitar mendapatkan manfaat, dan alam tetap terjaga.
Bagi kami, perjalanan pagi itu mungkin hanya sebuah sunmori yang awalnya random.
Tapi siapa sangka, malah “nyangkut” di Air Terjun Perjiwa dan pulang membawa cerita.
Sebuah destinasi yang mungkin masih underrated, tetapi punya potensi untuk menjadi salah satu pilihan wisata alam menarik di sekitar Samarinda dan Tenggarong Seberang.
Oleh Andi Desky



