RS Primecare Hadir di Samarinda, Bawa Teknologi Mutahir Dengan Konsep Smart Hospital

SAMARINDA – Samarinda kembali kedatangan pemain baru di sektor layanan kesehatan. Rumah Sakit (RS) Primecare Samarinda resmi memasuki babak baru, setelah sebelumnya berkembang dari sebuah klinik yang berdiri sejak 2021.

Namun, Primecare tidak datang sekadar menambah jumlah rumah sakit di Kota Tepian. Dengan membawa teknologi medis mutakhir, konsep smart hospital, serta strategi minimal invasive, rumah sakit ini membidik pasar pasien Kaltim yang selama ini memilih berobat ke Jakarta, Surabaya, bahkan luar negeri. Seperti Malaysia dan Singapura.

Direktur Utama Primecare, John Kwari, mengatakan perjalanan Primecare di Samarinda sebenarnya telah dimulai sejak 2021 melalui Primecare Clinic.

Klinik tersebut menjadi cabang keempat Primecare setelah sebelumnya hadir di Jakarta. Dari perjalanan itu, manajemen mengaku mendapatkan banyak masukan dari pasien, keluarga, dokter hingga komunitas kesehatan agar layanan ditingkatkan menjadi rumah sakit.

“Kalau bisa kenapa nggak rumah sakit saja? Karena kita perlu rumah sakit yang berbeda dari yang sudah ada di sini,” ujar John.

Menurutnya, konsep utama yang hendak dibangun bukan semata-mata soal kemewahan fasilitas atau kecanggihan alat medis. Primecare ingin menempatkan pasien sebagai pusat pelayanan.

Konsep tersebut diterjemahkan melalui patient-centered care, holistic care, serta service excellence.

“Siapa saja bisa bangun rumah sakit, ada CT Scan dan alat lainnya. Tapi yang kami kerjakan adalah bagaimana patient-centered care dan holistic care itu berjalan,” katanya.

Dilengkapi 96 Tempat Tidur

Direktur RS Primecare Samarinda, dr Boy ER Wajong, menjelaskan bahwa rumah sakit tersebut memperoleh izin operasional pada 13 Februari 2026 lalu. Primecare berdiri di atas lahan seluas sekitar 8.000 meter persegi, dengan luas bangunan mencapai 11.000 meter persegi.

Fasilitas tersebut memiliki 16 ruang poliklinik dan 96 tempat tidur rawat inap. Komposisinya terdiri dari 23 tempat tidur standar, 22 Deluxe, 25 VIP/Junior Suite, satu Suite Room dan satu President Suite.

Selain itu tersedia 14 tempat tidur perawatan intensif yang terdiri dari HCU, ICU dewasa, PICU, NICU, isolasi intensif dan perinatologi.

Baca Juga:   Siapkan Hole In One 2 Mobil dan Uang Tunai Ratusan Juta

Saat ini, Primecare didukung sekitar 130 karyawan. Sekitar 95 persen di antaranya direkrut dari Samarinda dan sekitarnya. Sementara tenaga medis mencapai sekitar 52 dokter spesialis dan dokter umum, termasuk 11 dokter spesialis tetap yang menjadi bagian dari Primecare.

“Kami mempunyai kurang lebih 50 dokter spesialis dan dokter umum. Di antaranya ada 11 dokter tetap, yaitu spesialis yang memang menjadi karyawan Rumah Sakit Primecare,” kata dr Boy.

Jual Teknologi, Kejar Pasien Luar Daerah

Salah satu senjata Primecare adalah teknologi medis. Rumah sakit tersebut menyiapkan Laser Holmium, teknologi yang dapat digunakan untuk menghancurkan batu ginjal sekaligus menangani pembesaran prostat.

Selain itu terdapat C-Arm, CT Scan 126 slice, laboratorium dan bank darah. Teknologi tersebut menjadi bagian dari strategi Primecare mengembangkan layanan dengan pendekatan minimal invasive surgery.

Menurut dr Boy, tindakan minimal invasif memungkinkan operasi dilakukan dengan trauma yang lebih kecil. Sehingga berpotensi mempercepat proses pemulihan pasien.

“Kita memang mempunyai keunggulan di bidang minimal invasif. Operasi-operasi dengan teknologi yang cukup tinggi, seperti penggunaan Laser Holmium untuk prostat dan batu ginjal,” jelasnya.

Target pasarnya pun tidak hanya masyarakat Samarinda. Primecare melihat peluang pasien dari kabupaten dan kota lain di Kaltim yang membutuhkan teknologi tertentu yang belum tersedia di daerah asal mereka. Dengan teknologi sebagai magnet, cakupan layanan Primecare diharapkan tidak berhenti di Samarinda.

“Kalau di sini ada satu-satunya laser, pasti Kutai Barat, Kutai Timur dengan kasus-kasus seperti itu akan ke sini,” kata dr Boy.

Bidik Pasien yang Terbang ke Malaysia

Ambisi Primecare bahkan lebih besar: menahan arus pasien Kaltim yang memilih berobat ke luar negeri. John Kwari mengakui bahwa Malaysia, Singapura maupun kota-kota besar di Indonesia masih menjadi tujuan masyarakat yang mencari layanan kesehatan tertentu.

Persoalannya bukan hanya biaya rumah sakit. Pasien juga harus mengeluarkan biaya tiket pesawat, akomodasi dan kebutuhan keluarga yang mendampingi. Karena itu, Primecare ingin menghadirkan layanan yang kompetitif di Samarinda.

“Kita harap pasien yang biasanya pergi ke Malaysia atau Singapura, kalau sudah merasa nyaman dan percaya dengan service quality kita, dokter, cara konsultasi, kesabaran dan empati kita, tidak perlu pergi ke negara lainnya,” tutur John.

Baca Juga:   Generasi Muda Harus Lebih Cerdas, Pentingnya Literasi Politik di Era Digital

Ia menegaskan, teknologi hanya salah satu bagian dari strategi Primecare. Menurutnya, kepercayaan pasien justru menjadi modal utama. Sebab, rumah sakit bisa membeli alat baru. Namun, membangun kepercayaan, kualitas pelayanan dan pengalaman pasien membutuhkan proses yang panjang.

Rasio Tempat Tidur Masih Terbuka

Dari sisi pasar, dr Boy menyebut Samarinda masih memiliki ruang untuk pertumbuhan fasilitas kesehatan. Ia menyebut rasio ketersediaan tempat tidur rumah sakit di Samarinda berada di kisaran 1,7 tempat tidur per 1.000 penduduk. Angka itu masih di bawah standar nasional yang disebut sekitar 3 tempat tidur per 1.000 penduduk. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan ketika Primecare mengajukan izin pendirian rumah sakit.

“Penduduk rasio ketersediaan tempat tidur di Samarinda itu baru 1,7 per 1.000 penduduk. Padahal standar nasional itu 3 per 1.000 penduduk. Oleh sebab itu peluang untuk penambahan masih ada,” ujarnya.

Primecare juga melihat pasar dari pasien dengan pembayaran asuransi perusahaan maupun out of pocket masih potensial. Bagi dr Boy, semakin tinggi teknologi dan semakin lengkap sistem pelayanan yang dimiliki, semakin luas pula cakupan pasar yang dapat dijangkau.

Laboratorium Genomik, Baca DNA Pasien

Primecare juga sedang menyiapkan diferensiasi lain yang lebih futuristis: laboratorium genomik. Laboratorium tersebut dikembangkan melalui kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.

Teknologi utamanya menggunakan sequencer, mesin yang mampu membaca DNA. Teknologi ini dapat digunakan untuk membantu diagnosis penyakit keturunan dan penyakit langka, mendeteksi mutasi gen tertentu, hingga mengidentifikasi potensi risiko sejumlah penyakit.

Di antaranya mutasi BRCA untuk kanker payudara dan EGFR untuk kanker paru, termasuk pengembangan pharmacogenomic untuk membantu menentukan obat yang lebih sesuai bagi pasien.

Ke depan, pemeriksaan genomik juga diarahkan untuk mendeteksi potensi penyakit seperti diabetes, penyakit jantung dan kanker sehingga pencegahan dapat dilakukan lebih dini.

Baca Juga:   Minat Kuliah di Unmul Melonjak Berkat Gratispol, Berikut Fakultas dengan Pendaftar Terbanyak 2025

“Ini adalah laboratorium yang cukup canggih karena menggunakan sequencer, suatu alat mesin pembaca DNA. Ini bisa dipakai sebagai diagnosis penyakit turunan maupun risiko terjadinya kanker,” jelas dr Boy.

Laboratorium genomik tersebut ditargetkan mulai diluncurkan dalam satu hingga dua bulan mendatang.

Menuju Smart Hospital

Di sisi digital, Primecare mengembangkan sistem rekam medis elektronik atau electronic medical record yang terintegrasi dengan aplikasi SATU SEHAT Kementerian Kesehatan.

Sistem informasi laboratorium atau LIS dan sistem radiologi PACS juga diintegrasikan untuk mempercepat proses pemeriksaan dan hasil expertise radiologi.

Tujuannya memangkas waktu tunggu pasien sekaligus mempercepat dokter dalam mengambil keputusan medis. “Ini akan sangat menolong kita untuk mempercepat diagnosis dan terapi bagi pasien,” ujar dr Boy.

Manajemen Primecare menyebut setidaknya ada empat pendekatan yang menjadi fondasi pengelolaan rumah sakit: kepatuhan terhadap regulasi, pengembangan mutu, menjaga pengalaman pasien, serta manajemen risiko.

Sebab, pelayanan rumah sakit bukan sekadar urusan alat dan bangunan. Ia menyangkut manusia, profesi, teknologi, prosedur dan keselamatan pasien.

Andi Harun Sambut Kehadiran Primecare

Sementara itu, Wali Kota Samarinda, Andi Harun, turut menyambut kehadiran RS Primecare sebagai bagian dari perkembangan fasilitas kesehatan di Kota Samarinda.

Kehadiran rumah sakit baru dengan dukungan teknologi medis modern, dinilai menjadi bagian dari kebutuhan kota yang terus tumbuh. Terlebih Samarinda memiliki posisi strategis sebagai salah satu kota penyangga Ibu Kota Nusantara.

Primecare sendiri bukan nama baru bagi Samarinda. Primecare Clinic pertama kali dibuka pada 11 November 2021 dan saat itu diresmikan langsung oleh Andi Harun. Hingga akhir 2023, klinik tersebut tercatat telah melayani lebih dari 16.000 pasien melalui layanan rawat jalan, rawat inap hingga home service.

Kini, klinik tersebut bertransformasi menjadi rumah sakit. Dengan lahan 8.000 meter persegi, bangunan 11.000 meter persegi, 96 tempat tidur, sekitar 52 dokter, teknologi minimal invasif, sistem digital hingga laboratorium genomik, Primecare memasang target yang lebih besar.

Pewarta: K Irul Umam
Editor: Muhammad Rafi’i

BERITA POPULER