Foto: Andi Satya Adi Saputra (Kiri) menerima panji partai Golkar sebagai Ketua DPD Golkar Kota Samarinda. (Foto: K. Irul Umam/ Media Kaltim).
SAMARINDA – Andi Satya Adi Saputra resmi menakhodai DPD Partai Golkar Kota Samarinda. Di bawah kepemimpinannya, Golkar membidik tambahan kursi legislatif sekaligus memperluas basis kader dari kalangan generasi muda.
Andi Satya ditetapkan sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Samarinda melalui sidang pleno Musyawarah Daerah (Musda) XI Golkar Samarinda yang berlangsung di Hotel Fugo, Jalan Untung Suropati, Samarinda, Sabtu (8/8/2026).
Terpilihnya Andi Satya menandai dimulainya kepemimpinan baru di tubuh Golkar Samarinda. Ia membawa target untuk mengembalikan posisi partai sebagai salah satu kekuatan politik utama di Kota Tepian.
Tidak sekadar mempertahankan suara yang telah dimiliki, Andi Satya bahkan membidik penambahan kursi pada pemilu mendatang. Ia berharap Golkar Samarinda mampu meraih suara terbanyak.
“Untuk membawa Golkar kembali ke puncak kejayaannya, semoga nanti di tahun pemilu yang akan datang mendapatkan suara terbanyak untuk DPD Kota Samarinda. Syukur-syukur bisa tambah satu atau dua kursi,” ujar Andi Satya.
Namun, bagi Andi Satya, target elektoral tersebut tidak bisa dicapai hanya dengan mengandalkan kader lama. Ia melihat regenerasi sebagai kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Terlebih, pemilih pada kontestasi politik mendatang akan banyak berasal dari kelompok generasi muda.
Karena itu, Golkar Samarinda akan membuka ruang lebih besar bagi kader-kader baru, termasuk generasi milenial dan kelompok generasi muda lainnya.
“Pemilu yang akan datang itu akan didominasi oleh dua, pertama gen Z dan juga milenial,” katanya.
Menurutnya, akan menjadi kerugian bagi Golkar apabila partai tidak mampu menarik kader-kader baru dari kelompok tersebut.
“Nanti ke depan kita akan mulai bersosialisasi, kita akan melakukan rekrutmen dan mencari kader-kader potensial yang berasal dari dua tokoh, milenial,” ujarnya.
Bagi Andi Satya, regenerasi bukan berarti meninggalkan kader lama. Justru, partai harus mampu mempertemukan pengalaman kader senior dengan energi politik generasi baru.
Sebab, ia menyadari Golkar merupakan salah satu partai politik paling senior di Indonesia. Usia organisasi yang panjang, menurutnya, harus diimbangi kemampuan untuk membaca perubahan zaman.
“Partai Golkar ini partai yang sangat tua, partai paling senior di Indonesia, harus bisa mengikuti perkembangan zaman supaya bisa diterima di era sekarang,” tegasnya.
Andi Satya bukan nama baru di dunia politik Kaltim. Pria kelahiran 11 Juli 1982 itu merupakan dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang kemudian terjun ke jalur legislatif.
Pada periode 2024–2029, ia tercatat sebagai anggota DPRD Provinsi Kaltim dari Fraksi Golkar. Ia juga menjalankan sejumlah tugas kedewanan, di antaranya sebagai anggota Badan Musyawarah, anggota Badan Pembentukan Perda, serta Wakil Ketua Komisi IV.
Dengan latar belakang yang berprofesi seorang dokter menjadi warna tersendiri dalam perjalanan politiknya. Ia membawa semangat “Melayani dengan Hati, Mengabdi dengan Aksi” sebagai bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat.
Langkahnya masuk politik bermula pada 2023. Saat menjalankan ibadah haji bersama Rudy Mas’ud, yang ketika itu menjabat Ketua DPD Golkar Kaltim, Andi Satya mendapat tawaran untuk berkolaborasi di Partai Golkar.
Dengan dukungan keluarga, ia kemudian memilih terjun ke dunia politik dan mencalonkan diri sebagai legislator. Pilihan itu membuatnya menjalani dua dunia sekaligus, yakni pelayanan medis dan pengabdian politik.
Sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi, ia tetap menjalankan profesinya, sementara di parlemen ia mendorong kebijakan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Salah satu perhatian yang disebutkan dalam profilnya adalah mendorong lahirnya regulasi terkait penanggulangan HIV/AIDS, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak di Kaltim.
Kini, setelah dipercaya memimpin Golkar Samarinda, agenda Andi Satya tidak hanya soal mengejar kursi. Ia juga menghadapi pekerjaan rumah untuk membangun struktur partai yang mampu menjangkau kelompok pemilih muda.
Data kependudukan nasional menunjukkan generasi Z dan milenial memang menjadi kelompok besar dalam struktur pemilih Indonesia, hampir 70 persen. Karena itu, keputusan Golkar Samarinda untuk membuka ruang rekrutmen kepada generasi muda dapat menjadi salah satu strategi penting menghadapi kontestasi politik berikutnya.
Bagi Andi Satya, partai yang telah berusia panjang tidak boleh terjebak dalam cara-cara lama. Golkar harus bergerak mengikuti zaman, mencari wajah-wajah baru, dan menyiapkan kader yang mampu diterima oleh pemilih generasi baru. Sebab, setelah sidang pleno menetapkan dirinya sebagai ketua, tantangan sebenarnya baru dimulai.
Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Nicha R



