Teks foto: Sekretaris DPD Partai Golkar Kaltim, M Husni Fahruddin alias Ayub, saat memberikan sambutan dalam Musda XI Partai Golkar Kota Samarinda, Sabtu (8/8/2026). (K Irul Umam/Media Kaltim)
SAMARINDA – Sekretaris DPD Partai Golkar Kalimantan Timur, M Husni Fahruddin alias Ayub, memasang standar tinggi bagi Ketua DPD Golkar Kota Samarinda yang akan memimpin partai ke depan. Ketua harus berani, memiliki kapasitas, mampu memimpin kader, dan tidak bermental lemah.
Pesan itu disampaikan Ayub dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Kota Samarinda di Hotel Fugo, Jalan Untung Suropati, Samarinda, Sabtu (8/8/2026).
Di hadapan kader dan sejumlah tokoh politik, Ayub menggunakan perumpamaan singa dan domba untuk menggambarkan karakter pemimpin yang dibutuhkan Golkar Samarinda.
“Jadilah ketua atau pemimpin seperti singa. Yang seandainya anggotanya pun kadernya pun adalah domba, maka suatu saat domba akan menjadi singa,” kata Ayub.
Sebaliknya, ia mengingatkan risiko jika seorang ketua justru memiliki mentalitas lemah ketika memimpin kader yang memiliki keberanian lebih besar.
“Janganlah menjadi ketua atau pemimpin bermental domba. Karena berbahaya manakala anak buah Anda bermental singa. Maka ada dua kemungkinan, Anda akan dimakan atau anak-anak buah Anda akan menjadi domba,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Musda XI Golkar Samarinda mengerucut pada satu nama calon ketua, yakni Andi Satya Adi Saputra.
Ayub mengungkapkan, komunikasi politik untuk menyatukan dukungan terhadap satu nama masih berlangsung hingga malam sebelum Musda.
“Sampai tadi malam akhirnya di perahu sudah itu kita sedang berusaha untuk sepakat mengaklamasikan satu nama,” ungkapnya.
KADER HARUS BERANI MENGAWASI
Ayub juga mengingatkan kader Golkar mengenai posisi partai dalam mengawal pemerintahan. Menurutnya, kader politik tidak boleh hanya menjadi pendukung kekuasaan.
Ketika kebijakan pemerintah dinilai benar, Golkar harus mendukung. Namun jika ditemukan pelanggaran, kader harus berani menjalankan fungsi pengawasan.
“Kalau ada pelanggaran yang dibuat, mari kita awasi dan kita sangat kompak,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian kalangan politik yang tidak terbuka terhadap masukan dan kurang membangun tradisi berdialektika.
“Kita terbiasa tidak menerima saran dan masukan. Kita tidak membiasakan diri berdialektika. Kita tidak membiasakan diri untuk belajar, membaca, memberikan saran dan masukan konstruktif,” katanya.
Karena itu, Ayub meminta kader Golkar terus meningkatkan kapasitas, wawasan, dan kemampuan membaca persoalan.
“Jangan sampai kalah ilmu, jangan sampai kalah gagasan, jangan sampai kalah sekolah,” ujarnya.
MODAL BESAR MENUJU 2029
Pesan tersebut disampaikan ketika Golkar memiliki modal politik cukup besar di Kaltim.
Pada Pemilu Legislatif 2024, Golkar menjadi partai dengan kursi terbanyak di DPRD Kaltim dengan 15 kursi dari total 55 kursi. Gerindra memperoleh 10 kursi dan PDI Perjuangan sembilan kursi.
Golkar juga menjadi partai dengan perolehan suara tertinggi untuk DPR RI dari daerah pemilihan Kaltim dengan 538.147 suara. Hasil tersebut mengantarkan dua wakil Golkar ke Senayan.
Di Samarinda, Musda XI menjadi bagian dari konsolidasi untuk memperkuat mesin politik menuju Pemilu 2029.
Andi Satya Adi Saputra sebelumnya juga menyampaikan target agar Golkar kembali menjadi salah satu kekuatan politik utama di Kota Tepian.
Ayub mengingatkan modal politik tersebut harus diikuti peningkatan kualitas kader. Menurutnya, Golkar membutuhkan kader yang mampu berpikir, berdialektika, menerima kritik, mengawal pemerintahan, serta berani mengambil sikap ketika diperlukan.
Reporter: K Irul Umam
Editor: Agus S.



