Foto: Kepala Bidang Bina Marga DPUPR-Pera Kaltim, Muhammad Muhran. (Ist)
SAMARINDA — Insiden tabrakan tongkang yang kembali menabrak Jembatan Mahakam Ulu memunculkan sorotan baru terhadap sistem pengamanan infrastruktur strategis di Sungai Mahakam.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (DPUPR-Pera) mengonfirmasi adanya kerusakan pada elemen pelindung jembatan dan pilar, meski kondisi struktur utama masih dalam tahap evaluasi teknis.
Kepala Bidang Bina Marga DPUPR-Pera Kaltim, Muhammad Muhran, mengatakan tim langsung turun ke lokasi setelah informasi insiden menyebar di media sosial dan pemberitaan. Peninjauan lapangan dilakukan sekitar pukul 10.00 Wita untuk memastikan dampak awal tabrakan tongkang Marine Power 3066.
“Begitu kami menerima informasi, kami langsung melaporkan ke pimpinan dan melakukan pengecekan langsung ke lapangan,” ujarnya.
Dari hasil pemeriksaan visual, pihaknya menemukan satu unit fender pelindung di sisi Samarinda–Loa Buah mengalami kerusakan serius.
Fender dilaporkan miring, retak, tergores, dan mengalami gompal akibat benturan. Selain itu, Pilar 8 dan Pilar 9 juga menunjukkan bekas tabrakan berupa goresan dan kerusakan permukaan beton.
“Fender di posisi terdepan dari arah Samarinda terdampak paling parah. Pilar 8 dan Pilar 9 juga menunjukkan tanda benturan,” kata Muhran.
Dirinya mengakui bahwa kejadian berulang ini berpotensi memengaruhi kesehatan struktur jembatan dalam jangka panjang, meski kesimpulan teknis belum bisa dipastikan sebelum hasil pengukuran geometri selesai.
Tim konsultan kini tengah melakukan pengukuran detail, termasuk kemiringan pilar, kerataan lantai jembatan, kondisi expansion joint, trotoar, hingga parapet. Hasil kajian teknis tersebut ditargetkan rampung dalam waktu dekat dan akan dipublikasikan ke publik.
“Secara visual kami sudah melihat indikasi dampak. Namun kesimpulan akhir harus menunggu data teknis dari pengukuran geometri,” jelasnya.
Muhran juga mengungkapkan bahwa uji dinamis jembatan sebenarnya baru dilakukan sekitar sepekan sebelum insiden terbaru.
Dengan terjadinya tabrakan kembali, DPUPR kini mempertimbangkan apakah perlu dilakukan pengujian ulang untuk memastikan keamanan struktur.
“Dengan kejadian ini, tentu hasil uji sebelumnya harus dikaji ulang. Bisa saja perlu pengujian tambahan,” ujarnya.
Sorotan lain juga tertuju pada perlindungan pilar, khususnya di sisi Loa Buah yang kini tidak lagi dilengkapi fender pelindung.
Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko kerusakan serius apabila tabrakan kembali terjadi, terutama dari tongkang bermuatan besar.
“Pilar di sisi Loa Buah sudah tidak memiliki pelindung. Ini kondisi yang rawan, apalagi dengan lalu lintas kapal besar di Sungai Mahakam,” katanya.
Untuk itu, pihaknya juga mempertimbangkan opsi pembatasan lalu lintas yang lebih ketat, termasuk kemungkinan penutupan total sementara untuk kendaraan bertonase berat. Namun, keputusan tersebut masih harus melalui koordinasi lintas instansi seperti KSOP dan Pelindo.
Sementara itu, rekomendasi pembatasan kendaraan di atas 8 ton masih diberlakukan. Kendaraan ringan masih diizinkan melintas dengan pengawasan, meski insiden berulang menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana sistem mitigasi risiko telah disiapkan.
“Jembatan ini adalah aset publik. Jika tabrakan terus terjadi, bukan hanya infrastruktur yang terancam, tapi juga keselamatan masyarakat,” tutupnya.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



