Sungai Mahakam Makin Surut, Transportasi Air Terganggu

SAMARINDA – Sungai Mahakam yang menjadi urat nadi transportasi masyarakat dari Samarinda menuju pedalaman Kalimantan Timur (Kaltim), mulai kehilangan fungsinya akibat kemarau panjang.

Debit air yang terus menyusut membuat kapal reguler (penumpang) dari Samarinda kini hanya mampu melayani perjalanan hingga Long Iram, Kabupaten Kutai Barat.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Kaltim, Yusliando, mengatakan kondisi tersebut merupakan dampak langsung dari kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung hingga akhir November 2026. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Menurutnya, penyusutan debit sungai sudah semakin terasa di kawasan hulu Mahakam. Kondisi ini membuat kapal berukuran sedang maupun besar tidak lagi leluasa, melewati sejumlah alur sungai.

“Yang jelas kalau bicara dari Samarinda, kapal-kapal reguler dari Samarinda hari ini hanya sampai di Long Iram,” kata Yusliando.

Sebelum kondisi sungai menyusut drastis, jalur pelayaran reguler dari Samarinda dapat menjangkau kawasan Mahakam Ulu hingga Long Bagun.

Dari Long Bagun, perjalanan menuju wilayah yang lebih hulu biasanya dilanjutkan menggunakan kapal-kapal berukuran lebih kecil.

Baca Juga:   Lepas Magrib, Jago Merah Lalap Kantor KPU Tana Tidung

Namun, kondisi terkini membuat pola perjalanan tersebut berubah. Kapal besar dari Samarinda tidak lagi dapat menembus lebih jauh dari Long Iram.

Dari Long Iram, masyarakat masih dapat melanjutkan perjalanan menggunakan kapal kecil menuju Long Bagun dan Ujoh Bilang.

Akan tetapi, akses sungai menuju kawasan yang lebih hulu seperti Long Pahangai dan Long Apari kini sudah tidak dapat dilalui.

“Kalau mau melanjutkan sampai Long Bagun kemudian ke Ujoh Bilang masih bisa pakai kapal kecil. Tapi kalau mau ke Long Pahangai dan Long Apari, sudah tidak bisa. Kapal kecil pun sudah tidak bisa,” jelasnya.

Yusliando menyebut kondisi di sejumlah titik bahkan membuat alur sungai berubah seperti daratan akibat air yang terus menyusut.

Karena itu, jalur sungai praktis terputus untuk wilayah-wilayah paling hulu Mahakam Ulu.

Kondisi tersebut memaksa pemerintah mengandalkan kombinasi transportasi sungai dan darat. Untuk perjalanan penumpang, kapal masih dapat dimanfaatkan hingga titik yang memungkinkan.

Selanjutnya, perjalanan diteruskan menggunakan kapal kecil atau kendaraan darat sesuai kondisi medan.

Baca Juga:   Maswedi: Prioritaskan Kebutuhan Guru

“Kalau sungainya tidak bisa, mau tidak mau pilihan lainnya darat,” ujarnya.

Meski demikian, Yusliando memastikan rute menuju Melak dan Tering di Kabupaten Kutai Barat masih dapat dilayani. Begitu pula akses hingga Long Iram yang masih memungkinkan dilalui kapal.

Untuk angkutan penumpang, kapal masih diperbolehkan beroperasi selama kondisi alur dan aspek keselamatan pelayaran memenuhi ketentuan.

Sementara kelayakan dan keselamatan kapal menjadi bagian dari pemeriksaan serta penerbitan dokumen oleh pihak berwenang.

Dishub Kaltim, lanjut Yusliando, akan terus mengevaluasi kondisi kedalaman alur sungai.

Sebab, apabila kemarau berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, titik layanan kapal berpotensi semakin pendek.

“Kita tidak tahu nanti sampai akhir September air ini sampai di mana. Volume air sekarang seperti apa, kemudian kalau ada hujan nanti sampai di mana. Ini yang harus kita antisipasi,” katanya.

Kekeringan Sungai Mahakam juga terjadi bersamaan dengan masuknya intrusi air laut ke wilayah hilir.

Namun, menurut Yusliando, kondisi air asin tidak secara langsung mengganggu fisik kapal karena kapal memang dirancang untuk beroperasi di perairan sungai maupun laut.

Baca Juga:   Didesak Segera Usut Tuntas Kasus Muara Kate, Rudy Mas'ud: Pasti Kami Tindaklanjuti

Dampak yang lebih serius justru dirasakan pada ketersediaan air baku, terutama bagi pelayanan air bersih.

“Kalau hanya airnya menjadi asin tidak masalah untuk kapal. Yang terpengaruh justru PDAM,” katanya.

Yusliando menambahkan, pemerintah kini perlu mengantisipasi kemungkinan semakin meluasnya dampak kekeringan terhadap transportasi.

Terlebih, Pemprov Kaltim telah menetapkan status darurat bencana kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta asap akibat karhutla.

“Sampai saat ini kami belum mendapat laporan dan keluhan dari pengelola kapal. Mereka juga mengerti bahwa akses terputus karena faktor alam. Kita berharap agar fenomena ini tidak berlarut panjang,” tutupnya.

Penulis: Hadi Winata
Editor: Muhammad Rafi’i

BERITA POPULER