Revitalisasi Pasar Pagi Samarinda Diprotes Pedagang: Parkir Mahal, Ruang Jual Menyempit

Foto: Suasana terkini lorong dan lapak yang ada di Pasar Pagi Pascarevitalisasi di lantai satu dan lima. (Hadi Winata/Radar Samarinda)

SAMARINDA – Revitalisasi Pasar Pagi Samarinda yang digadang-gadang menghadirkan wajah baru pasar tradisional justru memunculkan keluhan dari para pedagang.

Sejumlah pelaku usaha menganggap penataan ulang pasar belum sepenuhnya berpihak pada aktivitas perdagangan. Biaya parkir yang dinilai memberatkan serta ukuran ruko yang menyempit disebut menggerus kenyamanan pedagang dan pengunjung.

Pria yang enggan disebutkan namanya ini menilai sistem parkir pascarevitalisasi menjadi beban baru. Penerapan tarif parkir per jam sebesar Rp2.000 mulai pukul 08.00 hingga 17.00 Wita, menurutnya tidak mempertimbangkan aktivitas pedagang yang berada di lokasi seharian.

“Pedagang datang pagi, pulang sore. Kalau dihitung per jam, biaya parkirnya besar. Pengunjung juga kena. Ada yang sampai Rp10.000 karena tidak punya kartu parkir,” katanya, Senin (19/1/2025)

Ia menyebut hingga kini belum tersedia skema parkir berlangganan bagi pedagang. Sistem pembayaran didominasi kartu elektronik dan QRIS.

Sementara pengunjung yang tidak memiliki kartu harus membayar tunai dengan tarif yang dianggap mahal.
Kondisi itu, lanjutnya, berimbas pada minat kunjungan. Parkir yang penuh dan mahal membuat pembeli enggan datang.

Baca Juga:   Waduh, Diduga Dibakar ODGJ, Tiga Bangunan Hangus di Jalan KS Tubun Dalam

“Kalau parkir susah, orang malas masuk. Dulu di area pelabuhan masih bisa parkir, sekarang fungsinya juga tidak jelas,” ujarnya.

Selain parkir, tata ruang pasar juga menjadi sorotan. Menurutnya, konsep lorong pasar yang panjang dan sempit justru menghambat pergerakan pedagang dan pembeli. Ia membandingkan dengan kondisi pasar lama yang dinilai lebih hidup.

“Dulu penataannya bikin pasar ramai. Sekarang lorong sempit, keluar-masuk susah. Bukannya menghidupkan, malah terasa mematikan,” katanya.

Masalah lain terletak pada ukuran ruko. Sejumlah pedagang mengeluhkan petak yang lebih kecil dibanding kios lama. Beberapa ruko hanya memiliki lebar sekitar satu setengah meter, jauh dari ukuran kios sebelumnya yang rata-rata dua kali dua meter.

“Etalase jadi terbatas, barang tidak bisa banyak. Rolling pintu ke samping malah makan tempat. Dari luar seperti toko, tapi di dalam pedagangnya seperti tersembunyi,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan pedagang pakaian yang enggan disebutkan namanya. Ia menilai sistem parkir tidak membedakan antara pedagang dan pengunjung. Padahal, pedagang setiap hari beraktivitas di lokasi yang sama.

Baca Juga:   Hut Ke-51 Perumdam Tirta Kencana Kota Samarinda, Andi Harun Minta Prioritaskan Pembangunan Pipa

“Parkir motor bisa sampai Rp7.000 per hari, mobil sekitar Rp11.000. Kalau non-tunai malah lebih mahal. Harusnya pedagang dibedakan, seperti dulu di SGS pakai sistem langganan,” katanya.

Ia juga mengaku kecewa dengan ukuran petak yang diterima. Dari luar, bangunan Pasar Pagi tampak luas, namun ruang di dalam justru sempit. Informasi awal yang diterima pedagang, kata dia, tidak sesuai dengan realisasi.

“Dari luar kelihatan besar. Tapi di dalam petaknya kecil. Awalnya bilang agak besar, ternyata tidak,” ujarnya.

Meski tetap bersyukur mendapat tempat berjualan, keterbatasan ruang membuat pedagang dengan satu petak kesulitan menata barang. Sebaliknya, pedagang yang memperoleh lebih dari satu petak terlihat lebih leluasa.

“Yang punya dua atau tiga petak masih mending. Ada juga yang sampai sepuluh petak. Otomatis tokonya besar,” ucapnya.

Terkait pembagian petak, ia menyebut tidak ada pungutan biaya. Penentuan jumlah petak dilakukan berdasarkan data Surat Keterangan Usaha (SKS) yang diinput melalui aplikasi. Namun, mekanisme itu dinilai tidak melibatkan komunikasi kebutuhan pedagang.

Baca Juga:   DPRD Kota Samarinda sebut Raperda Penataan Pasar Jadi Kunci Perbaikan Tata Kelola dan Ekonomi Rakyat

“Tidak ada diskusi soal kebutuhan. Semua berdasarkan data. Jadi seperti untung-untungan,” katanya.

Hingga kini, belum ada kepastian bagi pedagang yang ingin menambah petak. Mereka disebut harus menunggu tahap kedua revitalisasi, yang jadwalnya belum jelas.

Sementara itu, aktivitas jual beli belum sepenuhnya pulih. Sejumlah petak, terutama di lantai atas, masih tampak kosong.

Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky

BERITA POPULER