SAMARINDA – Komisi II DPRD Kota Samarinda menyoroti rendahnya realisasi retribusi daerah pada Triwulan I Tahun Anggaran 2026. Capaian retribusi dinilai masih jauh dari target dan menjadi perhatian serius legislatif.
Berdasarkan hasil evaluasi DPRD, realisasi retribusi daerah hingga akhir Maret 2026 baru mencapai 11,72 persen. Angka tersebut berada di bawah target triwulan pertama sebesar 15 persen.
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengaku kecewa dengan rendahnya capaian sektor retribusi yang dinilai tertinggal jauh dibanding realisasi pajak daerah.
“Realisasi retribusi masih sangat rendah dan belum mencapai target minimal. Ini menjadi rapor merah yang harus segera diperbaiki,” kata Iswandi.
Ia menilai ada persoalan mendasar dalam sistem pengelolaan retribusi daerah.
Menurutnya, lemahnya capaian bisa disebabkan oleh pendataan objek retribusi yang belum maksimal, sistem pemungutan yang kurang efektif, hingga rendahnya komitmen sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
DPRD menilai kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele karena berpengaruh langsung terhadap proyeksi belanja daerah dalam APBD 2026.
“Kalau realisasinya masih seret, berarti ada mata rantai yang bermasalah. Ini harus segera dibenahi agar tidak mengganggu program pembangunan daerah,” ujarnya.
Komisi II DPRD Samarinda juga mengungkapkan masih terdapat sejumlah OPD pemungut retribusi yang capaian penyerapannya sangat rendah, bahkan ada yang berada di bawah lima persen.
Untuk menindaklanjuti hal tersebut, DPRD akan menjadwalkan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan instansi teknis terkait. Dewan meminta adanya transparansi data sekaligus pemetaan ulang potensi retribusi di lapangan.
Iswandi menegaskan, sektor retribusi memiliki kaitan langsung dengan aktivitas masyarakat, mulai dari pelayanan pasar, parkir, hingga perizinan tertentu.
Karena itu, rendahnya realisasi dianggap sebagai tanda adanya masalah serius dalam sistem pemungutan.
“Kami ingin ada evaluasi menyeluruh agar potensi retribusi daerah benar-benar bisa dimaksimalkan. Jangan sampai target hanya menjadi angka di atas kertas,” pungkasnya.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



