Raya Budaya Etam 2026 Seleksi 115 Proposal, Dukung 10 Event Budaya Terbaik

Teks foto: Tim kurator Raya Budaya Etam 2026 berfoto bersama Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian usai kegiatan pengembangan budaya di Samarinda. (Foto: Hanafi/Media Kaltim)

SAMARINDA – Program Raya Budaya Etam 2026 dinilai menjadi model pengembangan budaya berbasis kolaborasi di Kalimantan Timur. Melalui program ini, penguatan ekosistem budaya dilakukan dengan mendorong sinergi antarkomunitas dan pelaku budaya, bukan melalui kompetisi.

Penilaian tersebut disampaikan Kurator Nasional Raya Budaya Etam 2026, Galih Sedayu, yang juga dikenal sebagai praktisi ekonomi kreatif, kurator event, dan aktivis kota kreatif.

Raya Budaya Etam 2026 menghadirkan tim kurator dari berbagai latar belakang seni, budaya, ekonomi kreatif, hingga penyelenggaraan event. Tim tersebut terdiri atas Syafruddin Pernyata sebagai budayawan Kalimantan Timur, Putri Khaira Ansuri sebagai event strategist, Dwie Arum Meynina sebagai event planner, Muhammad Ami selaku Tenaga Ahli Komisi X DPR RI, serta Galih Sedayu sebagai Kurator Nasional.

Galih menjelaskan, Raya Budaya Etam dirancang untuk memfasilitasi berbagai gagasan masyarakat dalam mengembangkan kebudayaan melalui penyelenggaraan event berbasis budaya.

Baca Juga:   Pemprov Kaltim Umumkan Hasil Seleksi BUMD 2024, Tiyo Resmi Jabat Dirut PT Pertambangan Bara Kaltim Sejahtera

“Program Raya Budaya Etam ini memfasilitasi ide-ide pengembangan budaya di Kalimantan Timur melalui program atau event berbasis budaya,” ujarnya.

Program diawali dengan sosialisasi di 10 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur. Setelah itu, masyarakat dan komunitas budaya mengirimkan proposal kegiatan yang selanjutnya diseleksi oleh tim kurator.

Sebanyak 115 proposal diterima panitia. Seluruh usulan menjalani proses kurasi awal hingga terpilih 30 proposal terbaik yang kemudian mengikuti wawancara secara daring.

Peserta yang lolos selanjutnya memperoleh pendampingan dan mentoring bersama para mentor dan kurator untuk menyempurnakan konsep kegiatan sebelum memasuki tahap presentasi akhir.

“Peserta mendapatkan pembekalan materi dari masing-masing mentor dan kurator, kemudian menyempurnakan proposalnya hingga tahap presentasi akhir,” jelas Galih.

Dari seluruh proses tersebut akhirnya dipilih 10 event budaya yang memperoleh dukungan pendanaan dengan nilai maksimal Rp5 juta untuk setiap kegiatan.

Namun, Galih menegaskan bantuan pendanaan bukan menjadikan program tersebut sebagai ajang perlombaan.

“Ini bukan program kompetisi, tetapi program kolaborasi. Sepuluh event budaya yang terpilih nantinya diharapkan saling bersinergi sehingga mampu memberikan dampak positif bagi Kalimantan Timur,” katanya.

Baca Juga:   Rudy Gagal Jawab Pertanyaan, Isran: Lain yang Ditanya, Lain yang Dijawab

Menurutnya, budaya merupakan fondasi utama yang mampu melahirkan dampak positif bagi masyarakat, baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun lingkungan.

Ia mengibaratkan budaya sebagai akar sebuah pohon yang menjadi penopang tumbuhnya ekosistem. Dari akar tersebut akan tumbuh batang, ranting, hingga menghasilkan buah berupa manfaat bagi masyarakat.

“Buahnya adalah dampak, baik dampak ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Karena itu budaya harus menjadi pondasi utama pembangunan,” ungkapnya.

Galih juga mengapresiasi kualitas gagasan yang diajukan para peserta. Menurutnya, beragam ide tersebut menunjukkan besarnya potensi objek pemajuan kebudayaan yang dimiliki Kalimantan Timur.

Ia berharap Raya Budaya Etam dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.

“Program ini merupakan praktik baik. Harapannya bisa terus konsisten dan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mereplikasi pengembangan ekosistem budaya berbasis kolaborasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Galih menilai Kalimantan Timur memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam dan layak menjadi salah satu contoh pengembangan budaya di Indonesia. Selama melakukan pendampingan di berbagai daerah, ia melihat program di Kaltim benar-benar berfokus pada penguatan budaya, bukan semata sektor pariwisata.

Baca Juga:   Isran: Perusahaan Wajib Melaksanakan Program RLH

“Kalimantan Timur memiliki budaya yang luar biasa. Isu yang diangkat sangat beragam, mulai dari gastronomi, tradisi, adat istiadat, hingga berbagai potensi budaya lainnya. Keberagaman ini justru menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan melalui budaya,” tutupnya. (MK)

Pewarta: Hanafi
Editor: Agus S.

BERITA POPULER