Foto: Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD Kalimantan Timur, Bambang Soepriyadi.(Istimewa)
SAMARINDA – Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD Kalimantan Timur, Bambang Soepriyadi, menilai bulan suci Ramadhan bukan hanya momentum menjalankan ibadah ritual, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk membangun karakter kepemimpinan yang berintegritas dan berempati terhadap masyarakat.
Menurut Bambang, nilai-nilai yang diajarkan selama Ramadhan seperti kejujuran, pengendalian diri, empati sosial, dan tanggung jawab sangat relevan dalam praktik kepemimpinan, terutama di tengah dinamika sosial dan politik yang terjadi saat ini.
“Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah ritual. Ia adalah madrasah ruhani yang membentuk karakter. Puasa melatih kejujuran, pengendalian diri, empati sosial, dan rasa tanggung jawab. Jika Ramadhan benar-benar dihayati, ia tidak hanya melahirkan pribadi yang saleh, tetapi juga pemimpin yang peduli,” ujar Bambang.
Ia mengatakan, berbagai dinamika yang muncul dalam kehidupan berbangsa, mulai dari perdebatan kebijakan anggaran hingga fenomena relasi kekuasaan dalam lingkaran keluarga, seharusnya menjadi bahan refleksi bersama mengenai model kepemimpinan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Bambang menegaskan, dalam ajaran Islam kepemimpinan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan sekadar fasilitas atau simbol kekuasaan.
“Kekuasaan bukan hanya legitimasi formal, tetapi tanggung jawab moral dan spiritual yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban,” katanya.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.
Selain itu, Bambang juga mengingatkan pentingnya prinsip amanah dan keadilan dalam kepemimpinan sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah An-Nisa ayat 58 yang memerintahkan agar amanah diberikan kepada yang berhak dan keputusan di antara manusia ditegakkan secara adil.
Menurutnya, Ramadhan melatih umat Islam untuk menahan diri bahkan dari hal-hal yang sebenarnya diperbolehkan. Nilai pengendalian diri tersebut, kata dia, seharusnya lebih kuat lagi ketika seseorang memegang kekuasaan atau mengelola anggaran publik.
“Pemimpin yang ditempa oleh Ramadhan akan berhati-hati dalam setiap keputusan, karena sadar bahwa setiap kebijakan tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada rakyat, tetapi juga kepada Allah,” ujarnya.
Bambang juga menyoroti pentingnya empati sosial dalam kepemimpinan. Ia menilai puasa mengajarkan pemimpin untuk merasakan kondisi masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.
Ia mencontohkan keteladanan para pemimpin dalam sejarah Islam seperti Umar bin Khattab yang dikenal turun langsung membantu rakyatnya serta Umar bin Abdul Aziz yang hidup sederhana meskipun memimpin wilayah yang luas.
“Ramadhan mengajarkan bahwa kekuasaan bukan untuk dinikmati, tetapi untuk diabdikan bagi kepentingan masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut, Bambang juga menyinggung isu politik dinasti yang kerap menjadi perdebatan dalam sistem demokrasi modern. Ia mengakui relasi kekerabatan dalam jabatan publik dapat terjadi melalui prosedur yang sah, namun menurutnya etika dan kemaslahatan tetap harus menjadi pertimbangan utama.
“Dalam Islam bukan hanya soal legalitas, tetapi juga soal etika dan menjaga kepercayaan publik. Ketika kekuasaan berada dalam satu lingkaran keluarga, masyarakat bisa memiliki kekhawatiran tentang independensi dan keadilan,” jelasnya.
Ia mencontohkan sikap Umar bin Khattab yang menolak usulan pengangkatan putranya, Abdullah bin Umar, sebagai gubernur, meskipun dikenal sebagai sosok yang saleh dan berilmu. Keputusan tersebut diambil untuk menjaga kepercayaan publik dan menghindari prasangka.
“Dari kisah itu kita belajar bahwa kepemimpinan tidak hanya harus adil, tetapi juga harus tampak adil di mata masyarakat,” ujarnya.
Menurut Bambang, Ramadhan juga menjadi momentum muhasabah atau evaluasi diri bagi para pemimpin maupun masyarakat. Pemimpin yang lahir dari nilai-nilai Ramadhan, katanya, adalah mereka yang menjadikan jabatan sebagai ibadah, mengutamakan kepentingan rakyat, serta terbuka terhadap kritik dan evaluasi.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan masyarakat agar menyampaikan kritik secara bijaksana.
“Amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dengan hikmah dan kebijaksanaan, bukan dengan kebencian,” katanya.
Bambang berharap momentum Ramadhan dapat melahirkan pemimpin yang berintegritas, berempati, serta menempatkan keadilan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Karena pada akhirnya jabatan akan berakhir dan kekuasaan akan berlalu. Namun pertanggungjawaban di hadapan Allah tidak akan pernah bisa dihindari,” pungkasnya.(rls)
Editor: Andi Desky



