Infografis dan data yang dihimpun oleh Dinas Kesehatan Kota Samarinda. (Foto: Istimewa)
SAMARINDA — Rumah Sakit IA Moeis Samarinda resmi mencatatkan tonggak sejarah baru di bidang pelayanan kesehatan dengan membuka Klinik Gagal Jantung pada Sabtu (19/9/2026). Fasilitas khusus ini menjadi yang pertama di pulau Kalimantan guna menekan tingginya angka mortalitas penyakit kardiovaskular.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, dr. Ismed Kusasih bersama manajemen rumah sakit menegaskan kehadiran layanan terpadu ini merupakan komitmen konkret dalam memperpanjang harapan hidup pasien jantung.
“Layanan ini langkah baru untuk menghadirkan kualitas jantung yang jauh lebih sehat,” ungkap Ismed.
Kebutuhan terhadap pusat penanganan gagal jantung dinilai sangat mendesak seiring tingginya angka kematian di tingkat nasional maupun regional.
Merujuk data Kementerian Kesehatan RI per 2025, penyakit kardiovaskular—termasuk jantung dan stroke—menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia dengan merenggut hampir 800 ribu jiwa per tahun. Angka tersebut kian nyata bagi penderita gagal jantung akut.
“Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab utama kematian nomor satu di Indonesia,” ungkapnya.
Berdasarkan publikasi studi klinis global REPORT-HF, Indonesia mencatatkan angka kematian kasar pasien gagal jantung dalam kurun 1 tahun tertinggi di Asia, yakni mencapai 34,1 persen.
Persentase tersebut melampaui negara tetangga seperti Malaysia (27,6 persen), Vietnam (25,8 persen), hingga Thailand (20,6 persen).
Dari sampel penelitian terhadap 337 pasien rawat inap pasca-pulang, sebanyak 115 orang dilaporkan meninggal dunia dalam tempo setahun. Kondisi pasca-perawatan di rumah inilah yang menjadi perhatian utama para praktisi medis.
“Satu dari tiga pasien berisiko meninggal setahun pasca keluar rumah sakit,” katanya.
Menjawab tantangan tersebut, Klinik Gagal Jantung RS IA Moeis menawarkan pendekatan penanganan holistik dan terintegrasi. Program unggulan yang disiapkan mencakup layanan grup telemedicine siaga 24 jam yang dipantau langsung oleh dokter spesialis jantung dan perawat khusus.
Pengawasan intensif berkala dihadirkan agar perburukan kondisi pasien dapat dicegah sedini mungkin.
“Pasien kami pantau penuh selama 24 jam lewat telemedicine spesialis jantung,” jelasnya.
Selain itu, klinik ini memfasilitasi terapi medis yang lebih cepat dan optimal berpedoman pada standar klinis terkini, konseling komprehensif bagi keluarga, serta registri penelitian mandiri untuk terus meningkatkan mutu pelayanan.
Melalui ekosistem penanganan menyeluruh tersebut, Samarinda menargetkan terwujudnya pusat penanganan gagal jantung terbaik yang mampu menekan risiko kematian secara signifikan.
“Mari deteksi dini, kelola bersama, agar masa depan hidup jauh lebih baik,” ajaknya.
Pewarta: Abdi
Editor: Nicha R








