Foto: Bayu dan Rini, Penumpang Bus di Terminal Lempake Samarinda. (Hadi Winata/Radar Samaeinda)
SAMARINDA — Aktivitas kedatangan penumpang di Terminal Lempake Samarinda mulai ramai pasca Lebaran. Sejumlah mahasiswa yang merantau di Kota Tepian memilih kembali lebih awal untuk menghindari kepadatan arus balik sekaligus mempersiapkan aktivitas perkuliahan.
Salah satunya Bayu (20), mahasiswa semester enam yang baru tiba dari Sangatta. Ia mengaku mudik ke kampung halaman sekitar sepekan sebelum Hari Raya Idulfitri dan memutuskan kembali ke Samarinda lebih cepat agar perjalanan terasa lebih santai.
“Baliknya lebih awal biar tidak terlalu padat sama bisa lebih santai sebelum masuk kuliah lagi,” ujarnya saat ditemui di Terminal Lempake, Kamis (26/3/2026).
Bayu menempuh perjalanan menggunakan bus Bone Indah dengan waktu tempuh sekitar empat setengah jam. Ia berangkat dari Sangatta sekitar pukul 07.00 Wita dengan harga tiket Rp70 ribu.
Menurutnya, bus masih menjadi pilihan utama setiap kali bepergian jarak jauh. Selain lebih nyaman, perjalanan menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor dinilai lebih melelahkan.
“Kalau naik motor sebenarnya bisa lebih cepat, tapi capek dan pegal. Jadi lebih nyaman naik bus,” katanya.
Mahasiswa yang tinggal bersama kakaknya di Samarinda itu mengaku tidak selalu pulang setiap momen libur.
Biasanya justru keluarga yang datang berkunjung, namun tahun ini ia memilih pulang kampung ke kawasan Hidayatullah, Sangatta.
Hal serupa juga disampaikan Rini (21), mahasiswa Universitas Mulawarman semester empat yang turut tiba di Terminal Lempake pada hari yang sama.
Ia berangkat bersama ibunya dari kampung halaman di Rantapulung dan naik bus dari Sangatta sejak pagi hari.
Rini mengatakan perjalanan darat selama kurang lebih empat setengah jam terasa cukup nyaman, meski fasilitas bus yang didapat tidak selalu sama.
“Selama perjalanan lebih banyak tidur, jadi terasa cepat. Kadang dapat bus ber-AC, kadang juga yang pakai kipas, tapi tetap nyaman,” ujarnya.
Ia mengaku hampir selalu menggunakan bus setiap kali pulang kampung. Selain faktor keamanan, orang tuanya juga tidak mengizinkan perjalanan jauh menggunakan sepeda motor.
“Kalau naik motor capek banget dan orang tua juga tidak mengizinkan karena jauh,” katanya.
Bagi Rini, momen Lebaran dan libur panjang menjadi waktu yang paling sering dimanfaatkan untuk pulang kampung. Setelah libur usai, ia memilih kembali lebih awal agar bisa kembali beradaptasi dengan aktivitas kuliah di Samarinda.
Kedatangan penumpang seperti Bayu dan Rini menjadi gambaran arus balik yang mulai bergerak secara bertahap di Terminal Lempake, didominasi mahasiswa dan pekerja yang kembali ke kota sebelum puncak kepadatan terjadi.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



