Foto: Syahid Aulia, marbot Masjid Ash-Shabirin di Samarinda Seberang
SAMARINDA — Di antara kesibukan menjaga kebersihan masjid, menyiapkan pengeras suara, hingga mengajar anak-anak mengaji, para marbot di Kalimantan Timur menjalani tugasnya dalam senyap. Tak banyak yang tahu betapa panjang jam kerja merek yang sering kali tanpa batas waktu, tanpa keluhan.
Namun tahun ini, kesunyian pengabdian itu akhirnya mendapat balasan yang tak pernah mereka bayangkan. Program umrah dan perjalanan religi gratis dari Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud dan Seno Aji membuka jalan bagi sejumlah marbot untuk menapakkan kaki di tanah suci.
Program tersebut telah memberangkatkan dan mewujudkan impian ratusan penjaga masjid. Para marbot menerima bantuan sekitar Rp 35 juta yang akan diproses langsung melalui agen travel masing-masing.
Salah satunya Syahid Aulia, marbot Masjid Ash-Shabirin di Samarinda Seberang, masih mengingat dengan jelas bagaimana namanya tercatat dalam program itu.
Selama 12 tahun ia mengurus masjid, menyapu lantai sebelum subuh, memastikan air wudhu mengalir, hingga menutup pintu masjid selepas isya. Tak pernah terpikir olehnya bahwa rutinitas itu kelak mengantarkannya pada kesempatan ke tanah suci.
“Program ini didata oleh Kemenag Kaltim. Setelah namanya masuk, saya hanya melengkapi berkas seperti KTP dan KK,” cerita Syahid.
Ia kemudian dihubungkan dengan agen perjalanan umrah, PT Amanah Mabrur Sakinah (AMSA) di Samarinda. Prosesnya berjalan mulus tanpa ada hambatan sedikitpun.
“keberangkatan kami pada 10 September lalu bersama Marbot lainnya,” ujar Syahid.
Menurutnya, perhatian pemerintah provinsi terhadap para marbot adalah bentuk penghormatan yang amat berarti.
“Kesempatan seperti ini luar biasa. Banyak marbot yang mungkin tak pernah bermimpi bisa berangkat umrah.”
“Bersyukur sekali bisa mendapat umrah gratis dari gubernur. Saya tidak pernah menyangka,” tambahnya.
Dengan perasaan senang dan bahagia, ia menyampaikan rasa terima kasih yang dalam. “Terima kasih sebesar-besarnya kepada Gubernur Kaltim dan jajaran pemerintah provinsi yang sudah memperhatikan kami para marbot. Semoga Allah membalas semua kebaikan ini dengan kesehatan, umur panjang, dan keberkahan.”
Program ini menjadi pengingat bahwa mereka yang bekerja di balik layar, menjaga rumah ibadah tetap hidup dan nyaman, juga layak mendapatkan penghargaan.
Perjalanan ke tanah suci bukan hanya hadiah, tetapi juga simbol penghormatan atas dedikasi para penjaga masjid yang selama ini bekerja dalam kesunyian.
Bagi Syahid, dan marbot lainnya, panggilan ke tanah suci 2025 bukan sekadar perjalanan. Ini adalah wujud kasih sayang Tuhan melalui tangan-tangan manusia. (adv/jer/diskominfokaltim)
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



