Foto: Wali Kota Samarinda, Andi Harun (Hadi Winata/Radar Samarinda)
SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda (Pemkot Samarinda) memperketat langkah pengamanan, pengendalian harga kebutuhan pokok, serta kesiapsiagaan bencana menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.
Langkah ini diambil seiring meningkatnya aktivitas masyarakat dan tingginya potensi gangguan ketertiban maupun bencana di akhir tahun.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menegaskan bahwa stabilitas keamanan menjadi perhatian utama, terutama pada malam Natal dan malam pergantian tahun yang kerap diwarnai lonjakan mobilitas warga.
“Pertama soal keamanan dan ketertiban umum, yang kedua soal antisipasi tanggap darurat kebencanaan, terutama bencana hidrometeorologi dan tanah longsor,” ujar Andi Harun.
Pemkot memastikan pengamanan dilakukan secara terpadu bersama aparat keamanan untuk menjaga situasi kota tetap kondusif.
Sejumlah potensi gangguan, mulai dari peredaran minuman keras, aktivitas tempat hiburan malam, hingga balap liar, akan menjadi sasaran penertiban sebagai bagian dari penciptaan kondisi aman menjelang pergantian tahun.
Selain aspek keamanan, pemerintah kota juga menaruh perhatian serius pada stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok. Komoditas strategis seperti BBM, beras, gula, dan cabai masuk dalam daftar pemantauan ketat karena permintaannya cenderung meningkat saat Nataru.
Pemkot berencana melakukan pemantauan langsung ke tingkat distributor hingga ritel untuk memastikan pasokan tetap aman dan tidak terjadi lonjakan harga yang merugikan masyarakat.
“Kita akan memonitor perkembangan harga agar tidak terjadi penimbunan atau kenaikan harga yang tidak wajar di saat permintaan tinggi menjelang Natal dan Tahun Baru,” tegas Andi Harun.
Di sisi lain, kesiapsiagaan bencana menjadi fokus penting mengingat intensitas hujan yang meningkat di penghujung tahun. Andi Harun menjelaskan bahwa Samarinda memiliki ambang curah hujan yang cukup sensitif terhadap genangan dan banjir.
“Curah hujan di atas 50 milimeter per hari sudah berpotensi menimbulkan genangan. Jika terakumulasi 100 milimeter atau lebih dalam dua sampai tiga hari, itu bisa memicu banjir besar,” jelasnya.
Untuk itu, Pemkot Samarinda menyiapkan langkah antisipatif dan tanggap darurat hingga ke tingkat kecamatan dan kelurahan, khususnya di wilayah rawan banjir dan longsor.
Edukasi kepada masyarakat juga terus digencarkan agar warga tetap waspada tanpa harus panik dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



