Foto: Radika Darmawan saat menyampaikan orasi didepan Kantor Gubernur Kaltim. (Hadi Winata/Radar Samarinda)
SAMARINDA – Peringatan Hari Kartini di Samarinda berubah menjadi panggung kritik terbuka saat aksi 214 digelar di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Selasa (21/4/2026).
Di tengah massa aksi, Radika Darmawan, perwakilan Perempuan Melawan dan inisiator Kartini Muda, menyampaikan orasi yang tajam yang mengaitkan isu perempuan, kebebasan berekspresi, hingga polemik gaya berbusana istri gubernur.
“Hari ini Selasa, 21 April 2026, sebelum matahari terbit kami para perempuan bangun untuk menunaikan kewajiban sebagai istri dan ibu dari anak-anak Ibu Pertiwi di Bumi Etam. Dan sekarang saya berdiri di sini bersama wanita-wanita hebat untuk menyuarakan keadilan, menuntut hak pekerja dan kebebasan berpendapat,” ujarnya lantang diatas mimbar orasi.
Ia kemudian menyinggung langsung pengalaman pribadinya yang dikaitkan dengan Syarifah Suraidah, yang menurutnya menutup ruang komunikasi di media sosial.
“Karena saudara-saudara saya masih diblok oleh ibu gubernur kita, tanpa ada alasan yang jelas dan tanpa upaya tabayun,” tegasnya.
Nada orasi semakin tegas ketika ia menyuarakan kritik terhadap kepemimpinan daerah di bawah Rudy Mas’ud dan Seno Aji.
“Mereka pantas untuk dimakzulkan. Saya perempuan dan merayakan Hari Kartini dengan bersuara. Selamat Hari Kartini, kawan-kawan!”
Usai orasi, Radika menjelaskan bahwa polemik tersebut berawal dari konten-konten yang ia buat sebagai seorang kreator fashion. Ia mengaku sering membuat video yang terinspirasi dari gaya berpakaian Syarifah yang dinilainya unik.
“Sebenarnya saya tuh suka sama fashion beliau. Beliau itu nyentrik dan punya karakter. Saya sebagai fashion enthusiast justru tertarik membahas itu,” terangnya.
Namun, respons publik yang beragam terhadap kontennya membuat situasi berkembang di luar kendali. Beberapa videonya viral dan memicu komentar luas, bahkan hingga menjadi perbincangan di tingkat nasional.
“Komentarnya itu banyak banget yang menyinggung. Bukan cuma media di Kaltim, tapi sudah sampai media nasional. Ada yang menyebut ‘noni-noni Belanda’ dan lain-lain,” jelasnya.
Radika menegaskan bahwa dirinya tidak pernah berniat menyerang secara personal. Ia justru ingin membuka ruang diskusi, termasuk mencoba berkomunikasi langsung melalui media sosial.
“Saya tag terus, saya pengen tabayun. Saya pengen ketemu, diskusi, apa sih yang mau didengar dari saya, aspirasi dari masyarakat. Tapi nggak bisa. Saya diblok,” ungkapnya.
Menurutnya, pemblokiran tersebut tidak hanya dialami dirinya, tetapi juga beberapa kreator lain.
“Nggak cuma saya. Ada beberapa content creator juga yang diblok sama beliau.”
Ia menyayangkan langkah tersebut karena dinilai menutup ruang dialog yang seharusnya bisa menjadi jembatan antara publik dan figur pejabat.
“Padahal saya sangat ingin berdiskusi. Saya di bidang fashion, saya pengen tahu apa yang menginspirasi beliau. Tapi nggak ada ruang sama sekali.”
Radika menilai, dalam konteks figur publik, gaya berbusana bukan sekadar soal estetika, tetapi juga bagian dari komunikasi kepada masyarakat yang terbuka terhadap interpretasi dan kritik.
“Akhirnya ketika diblok, itu malah memvalidasi persepsi publik. Kenapa harus ditutup? Kenapa nggak dibuka ruang dialog?”
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



