Minim Perawatan, Kondisi Jembatan Mahulu Dinilai Memprihatinkan

SAMARINDA – Kondisi infrastruktur Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) yang menghubungkan wilayah Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang, kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Jembatan yang menjadi urat nadi perekonomian dan pendistribusian logistik utama di Samarinda dinilai telantar tanpa perawatan yang layak, hingga mengancam keselamatan para pengguna jalan.

Ketua Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) Loa Buah Polsek Sungai Kunjang, Sabil Husain, mengungkapkan rasa mirisnya atas kualitas perbaikan jalan jembatan yang terkesan asal-asalan dan tidak bertahan lama.

“Kami memperhatikan perbaikan yang hanya bertahan sekitar 15 hari, bahkan kurang. Dan kembali rusak lagi,” ujar Sabil, Minggu (19/7/2026).

Kerusakan jalan yang terus berulang hanya diatasi dengan metode tambal sulam. Alih-alih menyelesaikan masalah, perbaikan sementara ini justru memicu bahaya baru bagi para pengendara yang melintas dengan kecepatan tinggi.

Atas kerusakan tersebut, ia menilai pemerintah provinsi seakan tidak punya komponen yang lengkap. Baik insinyur atau orang teknik yang paham dan mengerti bagaimana membuat infrastruktur tersebut menjadi permanen.

Baca Juga:   Komisi IV DPRD Samarinda Apresiasi Bantuan Baznas untuk Guru

Ia menambahkan, tambalan tersebut membentuk gundukan tajam di sambungan jembatan (expantion joint) yang menyerupai polisi tidur. Hal ini sangat fatal bagi pengendara yang tidak hafal medan jalan.

“Kasihan itu orang jauh atau pelancong dari luar daerah pasti akan loncat dengan kecepatan-kecepatan tinggi,” jelasnya.

Selain itu, Jembatan Mahulu juga minim fasilitas keselamatan dasar. Jembatan megah ini tidak dilengkapi dengan rambu-rambu yang memadai, kamera pengawas (CCTV), serta sistem penerangan jalan yang layak. Kondisi gelap gulita di malam hari ini bahkan kerap dimanfaatkan untuk tindakan kriminal dan nekat.

“Satu, tidak adanya rambu, tidak adanya CCTV, dan juga minimnya penerangan, serta rusaknya beberapa median jalan yang ada di Jembatan Mahulu, khususnya di sambungannya itu selalu berlubang-berlubang yang mengakibatkan sudah banyaknya korban,” katanya merinci.

Sabil juga menceritakan bahwa dirinya sempat melakukan aksi protes secara mandiri agar lampu jembatan dinyalakan, namun hal itu tidak bertahan lama. “Akhirnya hidup beberapa bulan, dan kemudian mati lagi,” sesalnya.

Baca Juga:   DPRD Samarinda Dukung GratisPol, Minta Tak Ada Biaya Tambahan

Kondisi fisik jembatan diperparah dengan masalah kebersihan yang luput dari perhatian instansi terkait. Sampah yang menumpuk dan rumput liar yang tumbuh subur di sekitar pembatas jalan mempertegas bahwa jembatan ini telah dilupakan. “Sampahnya di mana-mana. Tidak ada pembersihan sama sekali sampai dengan tumbuhnya rumput-rumput liar,” ungkap Sabil.

Padahal, Jembatan Mahulu memegang peranan yang jauh lebih berat dibanding jembatan-jembatan lain di Samarinda dalam menopang hajat hidup orang banyak dan perputaran roda ekonomi daerah. “Semuanya lewat sini. Namun perhatiannya sangat minim,” tegasnya.

Pewarta: Abdi
Editor: Nicha R

BERITA POPULER