Menjaga Seporsi Makan Tetap Menjangkau Wong Cilik, Eksistensi Warung Marinah Kian Santer Ditengah Inflasi

Foto: Warung Marinah Jalan Juanda 2, Kelurahan Air Hitam, Kota Samarinda. (Hadi Winata/Radar Samarinda)

SAMARINDA — Ekonomi sekarang lagi susah mas, tapi saya gak tega naikkan harga. Banyak yang datang dari jauh cuman bawa sepuluh ribu rupiah hanya untuk makan disini_

Ucap Yustiawati, pemilik usaha sederhana “Warung Marinah” yang telah berjualan sebelum krisis moneter melanda Indonesia.

Meski matahari siang terasa menyengat. Namun di dalam warung sederhana itu, suasana yang diberikan nampak berbeda.

Aroma bawang goreng dan bumbu rempah langsung menyambut begitu saya dan rekan kerja melangkah masuk ke tempat makan yang berdiri di Jalan Juanda 2, Kelurahan Air Hitam, Kota Samarinda.

Di balik etalase kaca yang dipenuhi aneka lauk-pauk, panci-panci besar masih mengepulkan uap hangat. Rawon, soto, pepes, nasi campur, hingga beragam ikan dan sayur tersusun rapi menunggu pembeli yang tdatang tanpa henti.

Teduh, akrab, dan riuh oleh percakapan pelanggan yang sebagian besar baru saja keluar dari tempat kerja mereka.

Seorang tukang bangunan masih mengenakan pakaian kerja yang dipenuhi debu semen. Di sudut lain, beberapa mahasiswa terlihat berbincang sambil menyelesaikan makan siang.
Tak lama kemudian, seorang ibu datang membungkus makanan untuk dibawa pulang. Kursi yang baru kosong segera terisi kembali.

Pemandangan seperti itu sudah menjadi keseharian Yustiawati. Perempuan yang akrab disapa Bu Wati itu telah berdiri di belakang meja warungnya sejak 1995.

Lebih dari tiga puluh tahun ia menyaksikan Samarinda berubah, harga-harga naik, krisis datang silih berganti, dan pelanggan tumbuh bersama usahanya.

Ada pelanggan yang dulu datang saat masih berseragam sekolah. Kini mereka datang membawa anak-anaknya.

Baca Juga:   Dikucur Rp 280 Miliar, Rekonstruksi Pasar Pagi Bakal 4 Lantai, Ada Food Court Menghadap Sungai Mahakam

“Sudah banyak yang dari SMP makan di sini. Sekarang sudah punya anak tiga,” katanya sambil tersenyum.

Namun, di balik senyum itu tersimpan kegelisahan yang belakangan semakin sering dirasakan para pelaku usaha kecil.

Sebab hampir setiap hari, saat berbelanja bahan masakan ke pasar, ada saja harga yang kembali berubah.

Bawang merah yang dulu dibeli sekitar Rp40 ribu per kilogram kini menyentuh Rp70 ribu. Harga plastik kemasan melonjak dua kali lipat. Beras, minyak goreng, hingga berbagai kebutuhan dapur ikut merangkak naik.

“Semua naik sekarang,” katanya pelan.

Tangannya kemudian menunjuk beberapa kantong plastik yang biasa digunakan untuk membungkus pesanan pelanggan.

“Kresek yang dulu Rp12 ribu sekarang Rp24 ribu. Modal yang biasanya Rp200 ribu sampai Rp300 ribu, sekarang bisa habis Rp500 ribu.”

Kalimat itu diucapkannya tanpa nada mengeluh. Lebih seperti seseorang yang sedang menceritakan kenyataan yang harus diterima.

Kenaikan harga sebenarnya memberi alasan yang cukup bagi pemilik warung untuk menaikkan harga jual makanan.

Secara hitung-hitungan usaha, langkah itu mungkin yang paling masuk akal.

Namun Yustiawati memilih jalan yang lebih sulit.
Ia tetap mempertahankan harga makanan yang dijualnya.

Bukan karena tidak tahu risiko kerugian. Bukan pula karena biaya produksi masih aman.

Melainkan karena setiap hari ia melihat langsung wajah-wajah orang yang datang makan di warungnya.

Mereka adalah pekerja bangunan, sopir, buruh harian, mahasiswa, hingga warga sekitar yang harus berhitung cermat dengan uang yang ada di saku.

“Tidak tega,” ucapnya singkat. Baginya, dua kata itu cukup menjelaskan semuanya.

“Mau naikkan harga juga tidak tega. Orang datang bawa uang cuma Rp10 ribu.” ungkapnya dengan wajah murung.

Baca Juga:   Disporapar Samarinda Imbau Warga Jaga Kebersihan Saat Pawai Karnaval HUT RI ke-80

Kalimat itu menggambarkan dilema yang mungkin tidak tercatat dalam laporan ekonomi mana pun.

Di satu sisi biaya usaha terus meningkat, di sisi lain daya beli masyarakat justru terasa semakin berat.

Yustiawati mengaku kondisi ekonomi beberapa tahun terakhir membuat banyak pelanggan lebih berhati-hati mengeluarkan uang.

Terlebih ketika sektor pertambangan yang menjadi salah satu penopang ekonomi daerah mulai mengalami perlambatan dan gelombang pemutusan hubungan kerja terjadi di sejumlah perusahaan.

“Sekarang ekonomi susah. Batubara saja banyak yang kena PHK,” katanya.

Karena itulah, setiap kali muncul keinginan untuk menyesuaikan harga, ia kembali teringat para pelanggan yang setiap hari memenuhi warungnya.

Ada para tukang yang datang berkelompok saat jam istirahat siang. Ada pekerja yang makan sendiri sambil mengecek telepon genggamnya. Ada pula pelanggan yang meminta tambahan nasi karena harus bekerja sampai sore.

Dalam banyak kesempatan, Yustiawati justru memilih memberi kelonggaran. “Kadang tukang-tukang itu minta tambah nasi. Harusnya harga jadi lebih mahal, tapi paling saya tambah dua ribu saja.” ungkapnya lagi.

Ia tertawa kecil ketika mengingat sebagian pelanggan perempuan yang sering meminta porsi lebih sedikit. “Kalau yang perempuan malah kadang mintanya setengah porsi.”

Di tengah cerita tentang harga yang terus naik, tawa itu terdengar seperti upaya sederhana untuk tetap menikmati pekerjaan yang sudah dijalaninya selama puluhan tahun.

Meski begitu, bertahan bukan berarti tanpa penyesuaian.Beberapa bahan makanan kini dibeli dengan cara berbeda agar biaya tetap bisa ditekan.

Untuk ikan tongkol misalnya, ia tidak lagi mengambil dari pelelangan karena harga yang dianggap terlalu tinggi. “Ikan sekarang mahal. Tongkol saya ambil langsung dari nelayan.”

Baca Juga:   Manajemen Abai, 57 Eks Karyawan RSHD Samarinda Tagih Gaji Total Rp1,3 Miliar

Sementara tahu dan tempe menunjukkan fenomena yang juga banyak ditemui masyarakat belakangan ini: harga tetap, tetapi ukuran semakin kecil.

“Harganya sama, tapi ukurannya mengecil,” katanya.

Di tengah semua tekanan itu, Warung Marinah justru tetap ramai. Selama hampir satu jam berada di lokasi, pembeli datang silih berganti tanpa jeda panjang.

Ada yang makan di tempat, ada yang membungkus untuk dibawa pulang. Beberapa kali antrean bahkan mengular hingga ke luar warung.

Mungkin sebagian datang karena rasanya yang sudah dikenal. Sebagian lagi karena suasananya yang nyaman dan bersahaja.

Namun bagi banyak pelanggan, ada alasan lain yang lebih sederhana. Mereka masih bisa mendapatkan seporsi makanan hangat dengan harga yang tidak jauh berbeda dari beberapa tahun lalu.

Di saat harga berbagai kebutuhan rumah tangga terus bergerak naik dan uang Rp10 ribu terasa semakin kecil nilainya, keberadaan warung seperti milik Yustiawati menjadi semacam ruang bertahan bagi masyarakat kecil.

“Ibaratnya yang penting laku dan banyak yang beli,” katanya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di baliknya tersimpan pilihan yang tidak mudah.
Mengorbankan sebagian keuntungan agar pelanggan tetap bisa makan dengan harga terjangkau.

Di tengah inflasi, kenaikan biaya hidup, dan ketidakpastian ekonomi yang dirasakan banyak orang, Warung Marinah menunjukkan bahwa bertahan tidak selalu berarti mencari untung sebesar-besarnya.

Kadang, bertahan berarti tetap membuka pintu setiap pagi, tetap memasak seperti biasa, dan tetap menjaga agar seseorang yang datang hanya membawa uang Rp10 ribu masih bisa pulang dalam keadaan kenyang.

Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky

BERITA POPULER