SAMARINDA – Harapan masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) untuk melihat aksi Timnas Indonesia dalam ajang AFF U-17 pada April 2026 mendatang harus tertunda. Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Yunus Nusi, mengonfirmasi bahwa status tuan rumah resmi dialihkan dari Samarinda-Balikpapan ke Sidoarjo dan Gresik, Jawa Timur.
Keputusan pahit ini diambil setelah tim verifikasi profesional PSSI melakukan kunjungan lapangan (visit) ke Stadion Segiri Samarinda dan Stadion Batakan Balikpapan beberapa waktu lalu.
Yunus Nusi menjelaskan bahwa Stadion Segiri sebenarnya memiliki fasilitas tribun, ruang medis, hingga ruang wasit yang sangat baik. Namun, aspek paling krusial yaitu pencahayaan (lampu stadion) belum memenuhi standar minimal AFF/AFC.
“Untuk pertandingan internasional kelompok umur, standar minimal adalah 1.200 lux. Hasil verifikasi staf ahli kami, Stadion Segiri saat ini hanya berada di angka 900-an lux. Artinya masih kurang sekitar 300 lux,” ujar Yunus Nusi saat diwawancarai di KONI Kaltim, Minggu (1/3/2026) sore.
Mengingat turnamen akan digelar pada akhir April, PSSI menilai sisa waktu yang ada tidak memungkinkan bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk melakukan peningkatan daya lampu.
“Karena ada deadline kepastian stadion, Ketua Umum dan saya memutuskan memindahkan AFF U-17 ke Stadion Gelora Delta Sidoarjo dan Stadion Joko Samudro Gresik,” tegasnya.
Meski batal menjadi tuan rumah AFF U-17, Yunus Nusi yang juga putra daerah Kaltim memberikan angin segar. Ia berencana mengajukan Kaltim sebagai tuan rumah Piala Kemerdekaan U-17 atau ajang uji coba internasional pada September mendatang.
“Saya berharap dalam waktu yang lumayan panjang ini, Pemprov dan Pemkot Samarinda bisa meningkatkan ketajaman lampu dari 900 ke 1.200, atau bahkan 1.600 lux. Jika itu terpenuhi, bukan hanya timnas kelompok umur, Timnas Senior pun bisa main di sini,” tambahnya.
Terkait Stadion Batakan, Yunus menyebut fasilitas di Balikpapan sebenarnya sudah siap tempur dengan pencahayaan di atas 1.300 lux. Namun, karena kendala di Segiri, penyelenggaraan satu paket tuan rumah pun ikut terdampak.
Sementara itu, untuk Stadion Palaran, PSSI memberikan catatan merah terkait faktor keselamatan pemain.
Pembatalan ini juga berdampak pada skema pemusatan latihan (Training Center). Awalnya, PSSI berencana membawa skuad asuhan Kurniawan Dwi Yulianto untuk TC di Ibu Kota Nusantara (IKN) sebelum bertanding di Samarinda.
“Di IKN kita sudah punya tiga lapangan; satu rumput alami standar latihan dan dua sintetis. Rencana awal, jika April main di sini, TC di IKN lalu tanding di Segiri dan Batakan. Karena pindah ke Jatim, maka TC kemungkinan besar akan tetap di wilayah Jawa (Jogja/Solo) untuk mendekati lokasi pertandingan,” pungkasnya.
Pewarta: Dimas
Editor: Muhammad Rafi’i



