SAMARINDA – Ruang Sastra Kalimantan Timur bersama Kementerian Kebudayaan RI dan Tarekat Menulis Samarinda menggelar Kelas Menulis Cerpen di Aula Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Samarinda, Jalan Kusuma Bangsa, Sabtu (20/9/2025).
Ketua Ruang Sastra Kalimantan Timur, Suhairi, menyebut kegiatan ini hadir sebagai upaya mendokumentasikan Samarinda melalui karya sastra. “Samarinda punya banyak kisah. Tentang banjir, misalnya, yang selalu menjadi teman akrab namun juga dibenci. Cerita-cerita seperti inilah yang perlu diabadikan lewat karya sastra,” ungkapnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Penguatan Komunitas Sastra 2025 yang didukung penuh Kementerian Kebudayaan. Sejumlah narasumber hadir membagikan pengalaman dan teknik menulis kepada para peserta.
Materi pertama disampaikan Kahar Al Bahri, simpatisan Aksi Kamisan Kaltim. Ia mengulas dinamika sosial Samarinda dari masa ke masa, mulai dari era kepemimpinan Waris Husain (1985–1995) hingga kondisi banjir yang masih menjadi persoalan kota hingga kini.
“Lukman Said menjadi salah satu wali kota Samarinda yang cukup dekat dengan mahasiswa, terutama ketika kota ini dipenuhi aksi-aksi demonstrasi pada 1998,” cerita Bang Ocha, sapaan akrabnya.
Sesi berikutnya diisi oleh Andria Septy, penulis cerpen dan puisi yang telah menerbitkan antologi puisi pada 2024. Ia menekankan pentingnya kalimat pembuka dalam menarik minat pembaca. “Kalimat pertama harus punya daya pikat. Itu kunci agar pembaca mau melanjutkan membaca,” ujarnya.
Pemateri terakhir, Dadang Ari Murtono, mengajak peserta berlatih menulis fiksi mini dari tiga kata acak yang dituliskan di kertas kecil. Menurutnya, menulis bukan sekadar kegiatan pikiran, tetapi juga laku yang melibatkan tubuh secara penuh.
Salah satu metode yang juga ia tekankan adalah, latihan mendengar. Bagi Dadang, dasar dari menulis apapun itu, bisa melalui medium mendengar lebih intens.
“Menulis itu mirip teater, semua indera harus aktif agar kita peka terhadap sekitar,” katanya.
Di akhir kegiatan, peserta ditantang menulis cerpen bebas dengan pendampingan lanjutan selama sebulan. Karya-karya terbaik akan dihimpun menjadi antologi bersama.
Kelas menulis ini diharapkan menjadi wadah lahirnya penulis-penulis muda Samarinda yang mampu merekam kisah kota melalui karya sastra.
Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Nicha R



