spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Harga Batu Bara Masih Tertekan, Prospek Permintaan Global Diproyeksi Melemah

SAMARINDA – Harga batu bara global masih bergerak terbatas di tengah bayang-bayang pelemahan permintaan jangka menengah. Berdasarkan data Trading Economics, harga batu bara bertahan di bawah level USD110 per ton, mendekati titik terendah dalam beberapa bulan terakhir.

Tekanan ini sejalan dengan proyeksi Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) yang memperkirakan permintaan batu bara dunia akan melemah menjelang akhir dekade ini. Dalam laporan tahunan Coal 2025 yang dirilis Desember lalu, IEA mencatat permintaan batu bara global pada 2025 diperkirakan hanya tumbuh tipis sekitar 0,5 persen menjadi 8,85 miliar ton, sebelum cenderung stagnan dan menurun hingga 2030.

Penurunan tersebut dipicu pergeseran struktural penggunaan energi, termasuk ekspansi cepat energi terbarukan, pertumbuhan pembangkit listrik tenaga nuklir, serta meningkatnya pemanfaatan gas alam cair (LNG).

Meski demikian, dalam jangka pendek harga batu bara sempat mencatatkan penguatan. Mengutip Bloomberg Technoz, pada perdagangan Selasa (13/1/2026), harga batu bara kontrak pengiriman bulan depan di pasar ICE Newcastle ditutup di level USD107,65 per ton, menguat 0,51 persen dibandingkan hari sebelumnya. Capaian ini menjadi yang tertinggi sejak akhir Desember 2025 atau sekitar dua pekan terakhir.

Baca Juga:   Banyak Anak di Tak Pakai Helm, Hari Pertama Operasi Zebra di Samarinda

Penguatan tersebut juga tercermin pada data CNBC Indonesia yang merujuk Refinitiv. Harga batu bara ditutup di posisi USD108,65 per ton, melonjak 1,16 persen pada hari yang sama. Reli ini memperpanjang penguatan batu bara selama dua hari beruntun dengan kenaikan kumulatif sekitar 1,5 persen.

Kenaikan harga batu bara turut dipengaruhi lonjakan harga minyak dunia. Batu bara kerap dipandang sebagai komoditas substitusi minyak, sehingga pergerakan harganya saling memengaruhi.

Pada perdagangan Selasa (13/1/2026), harga minyak Brent ditutup di USD65,5 per barel, melesat 2,5 persen, sementara WTI naik 2,7 persen ke level US$61,15 per barel, tertinggi sejak akhir Oktober 2025.

Namun dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga batu bara masih membayangi. Selain proyeksi pelemahan permintaan global, Tiongkok yang merupakan konsumen, produsen, sekaligus importir batu bara terbesar dunia kembali menegaskan target untuk mencapai puncak konsumsi batu bara sebelum tahun 2030.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar menilai reli harga batu bara saat ini masih bersifat terbatas dan rentan berbalik arah, terutama jika tekanan fundamental kembali mendominasi pergerakan pasar energi global.

Baca Juga:   Luasan Hutan Menyusut Drastis, Kaltim Bentuk Tim Khusus Kawal Restorasi Mangrove

Pewarta: K. Irul Umam
Editor: Nicha R

BERITA POPULER