DPRD Samarinda Tekankan Kompetensi Guru Hadapi Kurikulum Baru dan Era AI

Foto: Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie. (Hadi Winata/Radar Samarinda)

SAMARINDA – Penerapan kurikulum terbaru di Kota Samarinda mulai memasuki tahap evaluasi. DPRD Kota Samarinda melalui Komisi IV menyoroti sejumlah tantangan mendasar, terutama terkait kesiapan tenaga pendidik dalam menghadapi perubahan sistem pembelajaran yang semakin berbasis teknologi.

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menyampaikan bahwa keberhasilan kurikulum tidak hanya ditentukan oleh konsep yang dirancang, tetapi juga oleh kesiapan guru sebagai pelaksana utama di lapangan.

Menurutnya, ada tiga komponen penting yang harus berjalan selaras, yakni kurikulum, kualitas tenaga pengajar, serta dukungan sarana dan prasarana. Jika salah satu tidak optimal, maka implementasi pendidikan akan mengalami hambatan.

Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah penerapan muatan lokal, khususnya bahasa daerah. Ia menilai pembelajaran Bahasa Kutai belum bisa diterapkan secara merata karena keterbatasan tenaga pengajar yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.

“Masih banyak sekolah yang belum bisa mengajarkan bahasa daerah karena gurunya belum menguasai,” ujarnya.

Baca Juga:   Dampak Efisiensi Anggaran, Jumlah Bandara APT Pranoto Turun Signifikan

Di sisi lain, tantangan pendidikan juga semakin kompleks dengan masuknya materi pembelajaran berbasis teknologi seperti coding dan kecerdasan buatan (AI).

Novan menilai tidak semua guru memiliki kemampuan untuk mengajar materi tersebut, sehingga diperlukan langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas mereka.

Ia menyebut, beberapa sekolah bahkan harus menggandeng pihak luar untuk mendukung pembelajaran teknologi sebagai solusi jangka pendek.

“Ini menjadi pekerjaan rumah besar. Tidak semua tenaga pengajar siap dengan materi berbasis teknologi,” tegasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Samarinda, Ibnu Araby, mengakui bahwa keterbatasan sumber daya manusia dan fasilitas masih menjadi kendala dalam pelaksanaan kurikulum baru.

Ia menjelaskan bahwa program pembelajaran digital sebenarnya telah berjalan sejak tahun lalu, namun implementasinya belum sepenuhnya maksimal.

“Kami sudah mulai sejak tahun sebelumnya, tetapi memang masih terkendala pada kesiapan guru dan sarana pendukung,” jelasnya.

Ibnu menambahkan, peningkatan kompetensi tenaga pendidik menjadi fokus utama ke depan agar transformasi pendidikan berbasis teknologi dapat berjalan efektif.

“Kalau gurunya belum siap, tentu pembelajaran seperti coding dan AI tidak bisa berjalan optimal,” pungkasnya.

Baca Juga:   Kekurangan 706 Guru Mengancam, Pemkot Samarinda Susun Langkah Antisipasi

Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky

BERITA POPULER