Foto: Kepala Disnakertrans Kaltim, Rozani Erawadi. (Hadi Winata/Radar Samarinda)
SAMARINDA – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kalimantan Timur (Disnakertrans Kaltim) menegaskan bahwa kegiatan job fair atau bursa kerja yang rutin digelar di berbagai daerah bukanlah sekadar formalitas belaka.
Hal ini disampaikan Kepala Disnakertrans Kaltim, Rozani Erawadi, menanggapi kekhawatiran masyarakat bahwa job fair hanya menjadi pemenuhan kewajiban administrasi bagi perusahaan.
“Banyak masyarakat yang khawatir kegiatan job fair itu cuma formalitas, padahal kami selalu meminta laporan dari perusahaan penyelenggara. Data mengenai jabatan yang dibuka, jumlah pelamar, dan berapa posisi yang sudah terisi, semuanya harus dilaporkan,” ujar Rozani, Rabu (15/10/2025).
Ia menjelaskan, proses rekrutmen dalam job fair tidak berhenti saat acara berlangsung. Meski kegiatan biasanya hanya digelar selama tiga hari, proses seleksi dan penempatan tenaga kerja bisa berlangsung cukup lama setelah acara berakhir.
“Rekrutmen itu kan butuh waktu. Makanya kami terus memantau lewat laporan, baik dari perusahaan maupun dinas tenaga kerja di kabupaten dan kota,” tambahnya.
Rozani juga menuturkan bahwa Pemprov Kaltim kini memperluas akses pencarian kerja melalui platform digital bernama Etam Kerja, yang terintegrasi dengan Aplikasi SAKTI, program unggulan Gubernur Kaltim. Melalui layanan ini, pencari kerja dapat langsung berinteraksi dengan perusahaan tanpa perantara Disnakertrans.
“Etam Kerja ini layanan online yang memudahkan. Begitu pelamar masuk di sistem itu, mereka langsung bisa berkorespondensi dengan perusahaan. Kami hanya menjadi fasilitator,” jelasnya.
Mengenai pelaksanaan job fair tingkat provinsi, Rozani menuturkan bahwa saat ini kegiatan serupa lebih banyak digelar oleh pemerintah kabupaten dan kota secara mandiri.
“Kalau dulu provinsi sering mengadakan, tapi sekarang kabupaten dan kota sudah rutin melaksanakan. Jadi kami biarkan mereka yang langsung melayani masyarakat,” katanya.
Meski demikian, ia memastikan koordinasi tetap dilakukan. Disnakertrans Kaltim secara berkala meminta laporan dari daerah untuk mengetahui seberapa besar tingkat serapan tenaga kerja pasca-job fair.
“Biasanya dalam tiga bulan setelah acara, kami tanya kembali ke dinas setempat, dari total lowongan yang dibuka berapa yang sudah terisi,” ujar Rozani.
Sementara itu, seorang staf perusahaan tambang yang enggan disebutkan namanya membantah anggapan bahwa job fair hanya formalitas. Ia menegaskan, seluruh lowongan yang dibuka dalam ajang Job Fair Samarinda 2025 benar-benar aktif dan dibutuhkan oleh perusahaan.
“Kami datang ke job fair karena memang sedang butuh tenaga kerja. Semua posisi yang kami umumkan benar-benar terbuka. Kami bahkan mengarahkan pelamar untuk mendaftar secara online di situs resmi perusahaan,” ujarnya saat ditemui di booth perusahaan di Hotel Mercure Samarinda, 25 Juni 2025 lalu.
Ia menjelaskan, kehadiran di job fair memberi keuntungan tersendiri bagi perusahaan karena dapat melakukan screening awal terhadap calon pekerja.
“Kelebihannya, kita bisa lihat langsung bagaimana cara pelamar berkomunikasi, cara dia bertanya, itu jadi bahan penilaian awal. Kalau potensial, kita catat untuk tahap lanjut,” jelasnya.
Meski demikian, ia tak menampik bahwa tidak semua pelamar dapat diterima kerja, karena setiap posisi memiliki kualifikasi dan tahapan seleksi yang ketat.
“Kalau ada pelamar yang merasa tidak dipanggil setelah job fair, itu bukan berarti formalitas. Bisa jadi tidak lolos administrasi, latar pendidikan tidak sesuai, atau kurang pengalaman,” paparnya.
Ia menegaskan kembali bahwa keikutsertaan perusahaan dalam job fair memerlukan waktu, biaya, dan sumber daya, sehingga tidak mungkin dilakukan hanya untuk memenuhi Key Performance Indicator (KPI) dari dinas tenaga kerja.
“Kami meninggalkan pekerjaan utama untuk ikut job fair. Jadi jelas bukan formalitas. Kami benar-benar mencari tenaga kerja yang sesuai kebutuhan,” tegasnya.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



