Foto: Aspiana, Pejuang Lingkungan Hidup asal Desa Batu Kajang, Kabupaten Paser. (Hadi Winata/Radar Samarinda)
SAMARINDA – Di balik perjuangan warga Muara Kate dan Batu Kajang menolak aktivitas angkutan batubara yang melintasi jalan umum, ada kisah keberanian para emak-emak yang memilih berdiri di garis depan demi mempertahankan ruang hidup dan keselamatan keluarga mereka.
Suara itu kembali mengemuka dalam diskusi Diseminasi Putusan Bebas Misran Toni bertajuk “Rekayasa Kasus Pejuang Lingkungan Hidup dan Kegagalan Aparat dalam Menangkap Pelaku Sebenarnya” yang digelar Tim Advokasi Jaringan Anti Kriminalisasi Kaltim.
Salah satu warga Desa Batu Kajang yang berjuang atas kebebasan lingkungan hidup, Aspiana, menceritakan bagaimana perempuan-perempuan di kampungnya terpaksa turun langsung menghadang truk tambang karena kondisi yang mereka hadapi sudah dianggap mengancam keselamatan sehari-hari.
Menurutnya, kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan tambang sudah terlalu sering terjadi di jalur yang merupakan jalan negara tersebut.
Bahkan, karena intensitas lalu lalang truk batubara yang begitu tinggi, masyarakat pendatang dan setempat lebih mengenalnya sebagai “jalan tambang”.
“Kejadian kecelakaan sangat sering terjadi akibat kendaraan tambang yang masih melewati jalan negara. Saking seringnya, jalan itu malah dikenal sebagai jalan tambang, padahal itu jalan negara,” ujar Aspiana, Jum’at (19/6/2026).
Ia menilai kondisi tersebut semakin menyakitkan karena banyak kasus kecelakaan yang tidak pernah memberikan kejelasan bagi korban maupun keluarganya.
Baik dari sisi pertanggungjawaban maupun proses hukum, masyarakat merasa sering dibiarkan berjuang sendiri.
“Yang sangat disayangkan, kalau ada kecelakaan tidak ada kelanjutan atau pergantian. Tidak ada kejelasan, baik dari segi hukumnya. Makanya kami emak-emak menghalau di depan. Kami menghadapi ormas, preman, bahkan saya sendiri pernah mendapat ancaman akan dibunuh,” ungkapnya.
Bagi Aspiana dan warga lainnya, aksi menghadang truk bukanlah bentuk perlawanan tanpa alasan.
Mereka mengaku hanya ingin memperjuangkan hak dasar untuk hidup aman di kampung sendiri.
“Saya bersama warga ingin memperjuangkan hak hidup kami, karena setiap saat ada kecelakaan,” tegasnya.
Dampak aktivitas angkutan tambang, lanjut Aspiana, tidak hanya dirasakan oleh para pengguna jalan. Kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pun ikut terganggu.
Ia mencontohkan para pedagang sayur yang enggan berjualan karena takut dengan lalu lalang kendaraan besar yang hampir tidak pernah berhenti melintas.
Begitu pula dengan anak-anak sekolah yang harus menghadapi risiko setiap kali berangkat dan pulang belajar.
“Bahkan ada penjual sayur yang tidak berani jualan karena truk itu selalu lewat. Anak-anak sekolah juga takut berangkat karena tidak ada jedanya,” katanya.
Situasi itulah yang kemudian mendorong warga membentuk Posko Warga sebagai pusat perjuangan bersama untuk menghentikan pengangkutan batubara PT Mantimin Coal Mining (MCM) yang melintasi jalan desa dan jalan umum.
Dalam perjuangan tersebut, nama Misran Toni atau yang akrab disapa Pak Imis menjadi salah satu tokoh yang berada di garis depan bersama masyarakat.
Tokoh adat Dayak Deah sekaligus pejuang lingkungan hidup dari Dusun Muara Kate itu sebelumnya sempat menghadapi proses hukum atas tuduhan pembunuhan terhadap Rusel Totin.
Namun pada 16 April 2026, Pengadilan Negeri Tanah Grogot melalui perkara Nomor 256/Pid.B/2025/PN Tgt memutuskan membebaskan Misran Toni dari seluruh dakwaan dan tuntutan jaksa penuntut umum.
Majelis hakim menyatakan tidak terdapat bukti yang menunjukkan Misran Toni melakukan pembunuhan maupun penganiayaan berat yang menyebabkan kematian korban sebagaimana yang dituduhkan.
Bagi warga Muara Kate dan Batu Kajang, putusan tersebut menjadi momentum penting dalam perjuangan mereka mempertahankan keselamatan dan ruang hidup.
Aspiana menegaskan, hubungan kedua desa yang selama ini terjalin erat menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tekanan selama perjuangan berlangsung.
“Kami membangun posko untuk berjuang bersama Pak Imis yang gagah berani menghadang truk. Kenapa kami selalu berdiri tegak? Karena Muara Kate dan Batu Kajang itu satu darah. Kalau ada apa-apa di Muara Kate, kami di Batu Kajang siap membantu. Begitu juga sebaliknya,” tuturnya.
Di tengah deru truk tambang yang masih melintas dan berbagai ancaman yang pernah mereka hadapi, para emak-emak di Batu Kajang dan Muara Kate memilih tetap bertahan.
Bagi mereka, perjuangan itu bukan sekadar soal jalan atau tambang, melainkan tentang hak untuk hidup aman, bekerja, dan membesarkan anak-anak tanpa dihantui risiko kecelakaan setiap hari.
“Kami ingin anak-anak kami bersekolah dengan riang, pedagang berjualan dengan nyaman, dan masyarakat yang melintas merasa aman dari aktivitas tambang di jalan milik negara,” tutup Aspiana.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



