Foto: Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud saat mengunjungi RSUD AWS, Samarinda. (Hadi Winata/Radar Samarinda)
SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) menargetkan Gedung Pandurata RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda mulai dimanfaatkan secara bertahap pada akhir 2026 hingga awal 2027.
Kehadiran gedung baru tersebut diharapkan menjadi solusi atas tingginya tingkat hunian dan kepadatan sejumlah layanan kesehatan di rumah sakit rujukan terbesar di Benua Etam itu.
Target tersebut mengemuka saat Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud meninjau langsung fasilitas RSUD AWS, Selasa (23/6/2026).
Dalam kunjungannya, Rudy menyoroti kondisi rumah sakit yang saat ini menghadapi lonjakan kebutuhan pelayanan dari masyarakat, tidak hanya dari Kaltim tetapi juga sejumlah daerah lain di Pulau Kalimantan.
Menurut Rudy, peningkatan kapasitas pelayanan menjadi kebutuhan mendesak mengingat daya tampung rumah sakit yang ada saat ini semakin terbatas.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong percepatan pemanfaatan Gedung Pandurata agar dapat mendukung pelayanan kesehatan yang lebih optimal.
“Gedung Pandurata akan segera kita fungsikan supaya masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih maksimal,” ujarnya.
Selain menambah kapasitas layanan, Pemprov Kaltim juga berencana melakukan pembenahan fasilitas pendukung di lingkungan rumah sakit.
Beberapa sarana yang dinilai perlu ditingkatkan antara lain sistem pendingin ruangan, kenyamanan ruang tunggu, hingga fasilitas penunjang lainnya.
Rudy menilai pembaruan fasilitas menjadi penting karena sebagian bangunan AWS telah digunakan sejak puluhan tahun lalu.
Dengan peningkatan sarana dan prasarana, kualitas pelayanan kepada pasien diharapkan ikut meningkat.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kaltim Sri Wahyuni mengatakan pemanfaatan Gedung Pandurata nantinya akan difokuskan untuk mendukung layanan yang saat ini mengalami kepadatan cukup tinggi.
Di antaranya layanan stroke center dan hemodialisis yang setiap hari melayani banyak pasien.
“Beberapa layanan akan dipindahkan ke Gedung Pandurata setelah bangunannya benar-benar siap digunakan,” kata Sri.
Ia menjelaskan, proses pemanfaatan gedung masih menunggu penyempurnaan sejumlah aspek teknis.
Pemerintah ingin memastikan seluruh fasilitas memenuhi standar pelayanan kesehatan sebelum menerima pasien.
Menurut Sri, kebutuhan ruang baru menjadi sangat penting, terutama untuk layanan hemodialisis yang memiliki pola pelayanan bergantian dalam beberapa sesi setiap harinya.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan ruang yang lebih luas dan representatif menjadi semakin mendesak.
Gedung Pandurata sendiri merupakan bangunan delapan lantai dengan luas sekitar 27.517 meter persegi dan kapasitas sekitar 500 tempat tidur yang menelan biaya hingga Rp370 miliar.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



