Foto: Nino, Roster Alter Ego usai kekalahan di Grand Final M7.(MPL ID)
JAKARTA — Langkah tim tuan rumah Indonesia, Alter Ego, kembali gagal memutus dominasi tim Filipina pada grand final Mobile Legends World Championship M7. Alter ego harus tersapu 0-4 dari Aurora Filipina, Minggu malam (waktu setempat).
Alter ego yang di isi pemain muda seperti Alek, Yazuke, Arfy, Hijume dan Nino memang dicap kuda hitam dalam gelara M7 kali ini.
Namun tim runner up MPL ID tahun lalu ini membuktikan bahwa mereka layak diperhitungkan dengan mengalahkan berbagai tim yang notabene merupakan juara dari beberapa regional di Mobile Legends hingga menembus partai grand final.
Sementara layaknya tim Filipina di M Series, Aurora tampil perkasa sejak swiss stage hingga partai puncak M7. Di grand final Aurora tampil superior sepanjang pertandingan dengan permainan disiplin, kontrol objektif yang kuat, serta eksekusi team fight yang konsisten.
Gim 1 dari best of 7 series, Aurora langsung menekan sejak early game dan mengamankan Lord pertama. Alter Ego kesulitan membuka ruang hingga Aurora menutup gim dengan kemenangan cepat.
Gim ke-2 Alter Ego sempat memberikan perlawanan melalui rotasi agresif, namun Aurora unggul dalam team fight penentuan dan memperlebar keunggulan menjadi 2-0.
Aurora semakin dominan di laga ketiga dengan snowball objektif. Alter Ego gagal mengamankan momentum comeback setelah kalah dalam perebutan Lord.
Aurora yang membutuhkan satu kemenangan lagi untuk mengunci gelar, tampil tanpa cela dan menutup pertandingan di gim ke-4 dan secara meyakinkan memastikan kemenangan telak 4-0.
Pemain Alter Ego Nino mengakui performa Aurora berada di level terbaik pada laga final.
“Aurora bermain sangat rapi dan disiplin. Kami sudah mencoba berbagai cara, tapi mereka selalu unggul dalam pengambilan keputusan,” ujarnya usai pertandingan.
Exp Laner Alter Ego tersebut menilai kekalahan ini menjadi bahan evaluasi besar bagi Alter Ego. Namun ia mengaku sangat bangga dengan apa yang telah ia dan timnya telah raih.
“Hasil ini berat, tapi kami belajar banyak. Saya sangat bangga karena memang dari awal kita ngga diperhitungkan. Final ini menunjukkan standar permainan tertinggi yang harus kami kejar ke depannya,” kata Nino.
Dari kubu juara, pemain Aurora Edward menyebut komunikasi dan kedisiplinan menjadi kunci kemenangan timnya.
“Kami fokus menjalankan game plan dan tidak terburu-buru. Semua pemain saling percaya dan itu sangat membantu di final,” ujarnya.
Sementara rekan setimnya, Light, menegaskan kemenangan ini merupakan hasil persiapan panjang.
“Kami mempersiapkan M7 dengan sangat serius. Gelar ini adalah buah dari kerja keras seluruh tim,” ungkapnya.
Kekalahan Alter Ego ini menjadi kekalahan kelima wakil Indonesia di partai final M Series, sekaligus memperpanjang catatan dominasi Filipina di turnamen dunia Mobile Legends.
Sejak 7 edisi M series, tim Indonesia baru sekali menjuarai piala dunia -nya Mobile Legends tersebut pada seri pertama M1. Setelahnya tim – tim Filipina secara konsisten tampil sebagai juara 6 kali berturut-turut.
Editor: Andi Desky



