Aida Pitriani: Ketika Mimpi Jadi Tenaga Kesehatan Hampir Pupus, GratisPol Datang Membuka Jalan

Foto: Aida Pitriani, Mahasiswa D4 Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kaltim. (Dok: Aida Pitriani)

SAMARINDA – Muara Komam mungkin jauh dari hiruk-pikuk kota besar, tetapi dari sanalah lahir seorang gadis 17 tahun yang kini menapaki mimpinya di dunia kesehatan.

Aida Pitriani, mahasiswa Semester I, DIV Keperawatan Kelas Internasional Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur, tak pernah menyangka dirinya akan bisa duduk di bangku kuliah keperawatan.

Bukan karena kurang minat, justru ia sangat ingin. Tapi biaya kuliah kesehatan yang dikenal mahal kerap membuatnya ragu. Ayahnya bekerja sebagai tukang las, sementara ibunya berjualan bahan bangunan.

Penghasilan keluarga cukup untuk kebutuhan sehari-hari, namun untuk biaya kuliah kesehatan? “Pas-pasan buat jadi guru saja,” ujar Aida, Minggu (16/21/2025).

Namun suatu hari, sebuah kabar mengubah segalanya. Aida pertama kali mendengar tentang Program GratisPol, kebijakan pendidikan gratis, saat Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji bergelut dalam panggung politik.

Kabar itu lalu menyebar ke sekolah-sekolah, hingga akhirnya guru BK-nya memberi tahu langsung. Awalnya Aida tak benar-benar yakin. Gratis kuliah keperawatan? Terlalu indah untuk dipercaya. Tetapi ia mencoba, dan sejak itulah hidupnya berubah.

Baca Juga:   Dispora Kaltim Umumkan Nama - Nama Atlet Tinju, yang Akan Bertanding di Pra Popnas 2024

“Alhamdulillah waktu itu pertama kali lolos di Poltekkes saya tuh seneng banget,” kenangnya.

Proses Pendaftaran yang Tak Semulus Harapan

Meski persyaratan awal cukup mudah, hanya bermodalkan NIK untuk membuat akun. Aida harus menghadapi rintangan pada proses unggah dokumen, mulai dari KTP, Kartu Keluarga, hingga surat pernyataan tidak menerima beasiswa lain, semua harus diunggah satu per satu.

“Error terus, mas. Misalnya sudah upload surat pengabdian, pas dicek tiba-tiba semua filenya berubah jadi file yang sama,” tuturnya.

Ia mengaku sempat skeptis apakah berkasnya benar atau tidak. Masalah itu membuatnya terhambat hingga 1–2 bulan sebelum akhirnya bisa finalisasi.

Setelah masa penantian panjang sejak pendaftaran bulan Juli, pengumuman baru keluar beberapa bulan kemudian. Aida dinyatakan lolos sebagai penerima GratisPol.

Beban UKT sebesar Rp 5,7 juta yang sebelumnya terasa mustahil, kini ditanggung penuh oleh pemerintah. Program ini, kata pihak kampus, akan menanggung UKT hingga ia lulus.

Mimpi yang Muncul Kembali

Aida sempat mengubur impiannya menjadi tenaga kesehatan karena biaya yang tak terjangkau. Ia bahkan merelakan diri untuk beralih menjadi guru, jurusan yang dianggap lebih realistis secara ekonomi.

Baca Juga:   DPRD Ungkap Ribuan Warga Samarinda Masih Bergantung pada BPJS Bantuan Pemerintah

“Sebelum tahu ada GratisPol, saya agak nyerah. Tapi setelah dengar ada beasiswa ini, saya coba. Ternyata lolos. Alhamdulillah,” ucapnya.

Kini, ia menjalani kuliah dengan semangat baru. Semua keraguan tentang mahalnya dunia kesehatan perlahan tergeser oleh keyakinan bahwa mimpi layak diperjuangkan.

Program ini menurutnya sangat berarti. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi bagi banyak teman-teman seusianya yang memiliki cita-cita tetapi terhalang biaya.

“Saya seneng banget, mas. Bisa mengurangi beban orang tua, bisa wujudin mimpi saya masuk kesehatan,” tutupnya.

Program GratisPol yang digagas pemerintahan Rudy Mas’ud – Seno Aji memang menuai banyak cerita. Salah satunya adalah cerita Aida, seorang anak tukang las dan penjual bahan bangunan—yang akhirnya bisa menapaki jalan menjadi tenaga kesehatan.

Perjalanannya tidak mudah. Penuh ragu, hambatan teknis, hingga penantian panjang.
Namun hari ini ia sudah duduk di kelas, belajar anatomi, praktik dasar, dan semua hal yang dulu hanya bisa ia bayangkan.

Aida kini percaya, mimpi tidak pernah terlalu tinggi, selama ada yang membuka pintu bagi mereka yang ingin berjuang.(adv/jer/diskominfokaltim)

Baca Juga:   Jadi Salah Satu Area Program Kerja Percepatan Transisi Energi Berkeadilan, Ridwan Tassa: Semoga Samarinda Terima Dampaknya

Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky

BERITA POPULER