Foto: Ahmad Rifandi, Jurnalis Kantor Berita Antara Biro Kaltim yang mendapatkan program pendidikan gratis Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Mulawarman. (Dok: Ahmad Rifandi)
SAMARINDA — Kesibukan Ahmad Rifandi kini tak lagi hanya berkutat pada kamera, recorder, dan tumpukan catatan lapangan. Di sela hiruk pikuk perburuan angle berita, jurnalis Kantor Berita ANTARA Biro Kaltim itu diam-diam menjalani peran baru: mengejar gelar doktor.
Siang memotret dinamika pembangunan, malam menyimak diskusi akademik. Begitulah ritme harian Rifandi sejak dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa program GratisPol Pendidikan. Kebijakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur yang membuka akses pendidikan tinggi tanpa biaya bagi warganya.
“Kesempatan ini sangat berharga. Tanpa beasiswa ini mungkin saya akan menunda dulu rencana S3,” ujarnya, Minggu (16/11/2025).
Rifandi bukan pendatang baru di dunia akademik. Lahir di Amuntai pada 14 April 1988, ia besar di Sangatta sejak 1990 dan menghabiskan masa kecil hingga remajanya di kota tambang itu.
Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Sangatta sebelum melanjutkan kuliah S1 Ilmu Ekonomi di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.
Dahaga ilmunya tak berhenti di situ. Ia kembali ke Samarinda dan meraih gelar magister Ekonomi Syariah dari UINSI Samarinda.
Kini, perjalanan itu membawanya kembali ke bangku kuliah, lebih tepatnya ke Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Mulawarman.
“Dunia jurnalistik menuntut saya untuk terus belajar. Melanjutkan S3 adalah cara saya memperdalam pemahaman tentang ekonomi sambil melihat langsung implikasinya di lapangan,” ungkapnya.
Meski kini berstatus mahasiswa, Fandi panggilan akrabnya, tetap menjalankan tugasnya sebagai jurnalis. Di balik liputan-liputan bernuansa kebijakan publik dan pembangunan daerah, ia juga menjadi saksi langsung manfaat dari program yang ia terima.
Namun sebagai wartawan, ia memilih tetap objektif. Fandi memuji keberanian Pemprov Kaltim berinvestasi di sektor pendidikan, tapi juga memberi masukan agar Gratispol dapat diperluas cakupannya.
Menurutnya, pembiayaan yang diberikan saat ini, yang berfokus pada Uang Kuliah Tunggal (UKT), perlu dikembangkan agar lebih komprehensif.
“Mahasiswa S3 punya banyak kebutuhan. Biaya penelitian, referensi buku, hingga biaya hidup selama studi. Jika ini bisa terakomodasi, maka dampaknya akan jauh lebih besar,” ucapnya.
Ia membandingkan potensi itu dengan skema beasiswa nasional seperti LPDP, yang dikenal luas karena dukungan pendanaannya yang lengkap.
Di tengah kesibukannya meliput isu-isu strategis untuk publik Kaltim, Rifandi percaya investasi pendidikan adalah fondasi terpenting menghadapi masa depan, terlebih ketika provinsi ini bersiap menjadi penyangga IKN.
Dengan melihat prospek kebijakan kedepan, ia berharap Gratispol terus bertransformasi menjadi beasiswa unggulan yang mampu melahirkan generasi yang tak hanya terdidik, tetapi juga siap mengabdi bagi daerah.
“Kalau ekosistemnya semakin kuat, saya yakin akan banyak SDM hebat lahir dari program ini,” tutupnya.
Antara ruang redaksi dan ruang kuliah, Rifandi kini menapaki dua jalur yang saling melengkapi, dimana merekam peristiwa untuk publik, sekaligus merumuskan gagasan untuk kemajuan daerahnya.
Sebuah perjalanan yang ia sebut sebagai ‘tanggung jawab ilmu dan profesi yang berjalan beriringan. Dirinya meyakini melalui GratisPol Pendidikan dapat menjawab problematika dan dinamika kualitas sumber daya manusia di Benua Etam. (adv/jer,/diskominfokaltim)
Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky



