SAMARINDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, kian mengkhawatirkan. Kebakaran yang melanda kawasan Sungai Kapih, Kecamatan Sambutan, menghanguskan puluhan hektare lahan dan menghasilkan asap pekat hingga mengepung permukiman warga. Sejumlah petugas dan relawan dilaporkan mengalami sesak napas saat berupaya memadamkan api.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Jumat (30/10/2026), asap tebal menyelimuti kawasan Jalan Tatako, RT 24, Kelurahan Sungai Kapih. Kebakaran yang berlangsung sekitar pukul 13.00 hingga 15.10 Wita itu membuat warga panik dan berupaya melindungi diri dengan mengenakan masker.
Kobaran api juga dilaporkan berada sangat dekat dengan permukiman, bahkan diperkirakan hanya berjarak sekitar 5 meter dari sejumlah rumah warga.
Tim gabungan yang terdiri atas BPBD Samarinda, BPBD Kaltim, Dinas Pemadam Kebakaran, Satpol PP, serta ratusan relawan dikerahkan untuk mengendalikan api agar tidak merembet ke kawasan perumahan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, menjelaskan kebakaran yang terjadi pada Jumat merupakan lanjutan dari rangkaian kejadian karhutla sehari sebelumnya di wilayah RT 6, Kelurahan Pulau Atas.

“Tadi malam sebenarnya sekitar jam 3.00 subuh api sudah berhasil dipadamkan setelah membakar kurang lebih 18 hektar lahan. Namun, sekitar pukul 08.00 Wita, Pusdalops kembali menerima laporan titik api berkobar kembali di daerah Sungai Kapih dan menyebar hingga RT 20 Sambutan,” ujar Suwarso saat dikonfirmasi di lokasi kejadian, Jumat (30/10/2026).
Khusus untuk kebakaran pada Jumat, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 50 hektare dan api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Kondisi vegetasi berupa semak belukar dan pepohonan kering akibat cuaca panas turut mempercepat penyebaran api.
Meskipun Satgas Darat telah bekerja ekstra maksimal, kendala utama di lapangan adalah sulitnya akses menuju titik tengah kebakaran serta terbatasnya sumber air. Petugas dan relawan harus bolak-balik membawa unit armada hanya untuk mengambil pasokan air.
Melihat skala kebakaran yang terus membesar, BPBD Kota Samarinda sangat mengharapkan intervensi penanganan dari Satgas Udara melalui operasi water bombing.
“Tim darat dari relawan, Damkar, dan BPBD sudah bergerak maksimal mengepung berbagai titik. Namun karena areanya sangat luas, vegetasinya mudah terbakar, dan sumber air jauh, kami sangat membutuhkan bantuan penanganan dari udara (water bombing). Kami berharap informasi ini sampai ke pemerintah pusat di Jakarta agar penanganan bisa dilakukan secara lebih masif,” tegas Suwarso.

Dampak karhutla tidak hanya mengancam permukiman, tetapi juga mengganggu kesehatan warga dan petugas di lapangan. Sejumlah petugas pemadam kebakaran dan relawan dilaporkan mengalami sesak napas setelah terpapar asap pekat selama proses pemadaman.
Tim medis Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Samarinda turut diterjunkan ke lokasi untuk memberikan penanganan darurat.
Upaya pemantauan titik kebakaran menggunakan drone oleh relawan juga menghadapi kendala. Satu unit drone dilaporkan sempat jatuh saat digunakan untuk mengambil gambar udara dan memetakan dampak kebakaran.
Akibat pekatnya kabut asap yang menyelimuti Kota Samarinda, kualitas udara di sebagian besar wilayah Samarinda dinyatakan berada pada kategori tidak sehat. Sebagai langkah antisipasi dan untuk melindungi keselamatan para siswa, sejumlah sekolah di wilayah terdampak terpaksa menghentikan aktivitas belajar tatap muka dan mengalihkan proses belajar mengajar menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Hingga Jumat (30/10/2026) sore, tim gabungan masih terus bersiaga dan berupaya melakukan penyekatan di garis luar permukiman guna memastikan kobaran api tidak menembus perumahan warga.
Pewarta: Dimas
Editor: Nicha R



