SAMARINDA — Distribusi paket seragam sekolah gratis bagi peserta didik SMA, SMK, dan SLB di Kalimantan Timur (Kaltim) belum sepenuhnya rampung. Dari total 63.548 paket yang disiapkan, sekitar 20 persen masih tertahan akibat cuaca buruk yang menghambat pengiriman, terutama melalui jalur laut.
Kondisi tersebut membuat target penyaluran yang sebelumnya diarahkan tuntas pada September 2026 bergeser ke Oktober 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim Armin mengatakan sebagian besar paket saat ini sudah didistribusikan atau berada dalam perjalanan. Kendala yang tersisa terutama terjadi pada wilayah yang membutuhkan akses transportasi laut.
“Seragam gratis ditarget bulan depan selesai. Untuk Oktober, insyaallah mudah-mudahan,” ujar Armin saat ditemui di Kantor Gubernur Kaltim, Senin (21/9/2026).
Menurutnya, sekitar 80 persen paket telah didistribusikan atau sedang dalam proses pengiriman. Sementara 20 persen lainnya masih menunggu pengiriman karena kondisi cuaca yang belum mendukung aktivitas pelayaran.
Ia menegaskan keterlambatan tersebut bukan disebabkan persoalan produksi. Seluruh paket yang tersisa disebut telah selesai diproduksi dan tinggal dikirim ke daerah tujuan.
“Kalau produksinya sudah selesai. Kendalanya sekarang sedikit karena cuaca. Karena pengirimannya bertahap, terutama lewat laut,” katanya.
Hambatan semakin terasa setelah adanya surat edaran dari Kementerian Perhubungan yang mengatur penghentian sementara pelayaran ketika kondisi cuaca dinilai tidak memungkinkan.
“Karena ada surat edaran dari Kementerian Perhubungan supaya tidak ada pelayaran, akhirnya agak terhambat sedikit di situ,” jelas Armin.
Selain itu, luasnya wilayah Kaltim membuat distribusi paket seragam tidak dapat dilakukan sekaligus. Sejumlah daerah juga memiliki ketergantungan terhadap transportasi laut sehingga pengiriman harus menyesuaikan kondisi cuaca dan aksesibilitas wilayah.
Disdikbud Kaltim kemudian menerapkan pola pengiriman secara bertahap dengan mendahulukan wilayah yang relatif lebih mudah dijangkau.
Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Timur menjadi sejumlah wilayah yang masuk dalam pengiriman berikutnya.
“Yang terdekat dulu,” ucap Armin.
Diketahui, program seragam gratis tersebut merupakan bagian dari Gratispol Pendidikan yang digagas Pemerintah Provinsi Kaltim.
Bantuan diberikan kepada peserta didik baru jenjang SMA/MA, SMK, dan SLB, baik di satuan pendidikan negeri maupun swasta.
Total terdapat 63.548 paket yang disiapkan. Rinciannya, 34.389 paket diperuntukkan bagi 332 sekolah SMA/MA, 28.308 paket untuk 208 SMK, serta 851 paket bagi siswa di 36 SLB.
Paket bantuan tidak hanya berisi seragam sekolah, tetapi juga perlengkapan penunjang kebutuhan siswa, seperti tas, sepatu, dan atribut sesuai jenjang pendidikan penerima.
Penyaluran sendiri telah dimulai sejak September. Pada tahap awal, paket untuk sejumlah SMA negeri unggulan telah diberikan kepada 355 siswa SMAN 10 Samarinda, 144 siswa SMAN 3 Tenggarong, serta 36 siswa SMAN 2 Sangatta Utara.
Sementara untuk jenjang SMK, distribusi awal telah dilakukan di Samarinda dan Balikpapan.
Armin mengatakan proses pemerataan bantuan memang membutuhkan waktu karena paket harus dikirim hingga ke berbagai wilayah Kaltim.
Untuk daerah yang aksesnya melalui jalur laut, faktor cuaca menjadi salah satu hal yang tidak bisa diabaikan. Ia meminta orang tua siswa tetap bersabar sembari menunggu distribusi dituntaskan.
“Masih ada sekitar 20 persen yang belum sampai. Bukan produksinya, karena tadi tertunda pelayarannya. Sebenarnya sudah selesai, tinggal mendatangkan,” katanya.
Dengan produksi yang disebut telah rampung, Disdikbud Kaltim kini tinggal mengejar proses pengiriman.
Pemerintah berharap kondisi cuaca segera memungkinkan sehingga paket yang masih tertahan dapat kembali didistribusikan.
“Sudah selesai semua sebenarnya. Tinggal mendatangkan. Jadi mudah-mudahan setelah kondisi memungkinkan, pengiriman bisa kembali berjalan,” pungkas Armin.
Sebelumnya, Pemprov Kaltim menargetkan pengadaan dan produksi seragam gratis selesai pada akhir September. Setelah itu, distribusi ditargetkan semakin masif hingga menjangkau sekolah-sekolah di wilayah pelosok pada awal Oktober.
Penulis: Hadi Winata
Editor: Nicha R



