SAMARINDA – Dampak kemarau panjang kian meluas dan mencekik warga di kawasan pinggiran Kota Samarinda. Di Jalan Belimau, RT 21, Gang Joyo, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, krisis air bersih telah mencapai titik krusial.
Warga yang belum terjangkau jaringan pipa Perumda Tirta Kencana, kini terpaksa mengeluarkan biaya ekstra. Hanya demi membeli air bersih, setelah sumur galian warga mengering total sejak sebulan terakhir.
Kondisi keterbatasan akses air ini sebenarnya sudah menjadi persoalan menahun. Tanpa adanya aliran ledeng, warga sepenuhnya mengandalkan air sumur untuk memenuhi seluruh kebutuhan sehari-hari.
Wati, salah seorang warga terdampak, menceritakan bahwa pihak RT setempat sebenarnya sudah berulang kali mengusulkan perluasan jaringan pipa ledeng ke instansi terkait. Namun, impian mendapatkan akses air bersih terhalang oleh kendala biaya.
“Usulan sudah sering disampaikan lewat Ketua RT, tapi alasannya biaya pemasangan pipa induk ke kawasan kami cukup mahal,” ungkap Wati saat ditemui di kediamannya.
Ketika musim kemarau mulai melanda di awal periode, debit air sumur warga sebenarnya sempat menyusut namun masih dapat dipergunakan untuk aktivitas ringan. Sayangnya, terik panas yang berkepanjangan membuat cadangan air tanah hilang sepenuhnya.
“Awal kemarau masih ada airnya sedikit, bisa buat siram kembang atau cuci piring. Tapi pas sebulan belakangan ini, sama sekali enggak bisa dipakai lagi karena sumurnya kering kerontang,” lanjutnya.
Kondisi tersebut memaksa Wati dan tetangganya beralih ke penyedia air tangki swasta. Untuk satu kali pengisian air menggunakan mobil pikap berkapasitas tangki sedang, warga harus membayar sekitar Rp100 ribu. Air beli tersebut hanya dipergunakan untuk mandi dan mencuci, sementara kebutuhan konsumsi seperti memasak dan minum harus membeli air galon kemasan.
Bagi keluarga kecil seperti Wati yang hanya tinggal berdua, pasokan air satu mobil tangki biasanya dapat bertahan sekitar 10 hari. Namun, bagi keluarga dengan jumlah anggota lebih banyak, pengeluaran untuk air bersih melonjak drastis.
“Saya sudah beli tiga kali selama kemarau ini. Tetangga lain yang keluarganya banyak malah ada yang sudah beli empat sampai lima kali. Pengeluaran jadi membengkak,” keluhnya.
Di tengah himpitan ekonomi akibat pengeluaran ekstra untuk air, kehadiran bantuan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda bagaikan angin segar. Kedatangan armada mobil tangki BPBD ke Gang Joyo disambut antusias oleh puluhan warga yang langsung berbondong-bondong membawa ember, drum, hingga jeriken.
Wati tak mampu menyembunyikan rasa leganya saat mengantre pembagian air gratis tersebut. “Alhamdulillah, terima kasih banyak. Kami senang sekali kalau ada bantuan air seperti ini. Karena di sini memang air itu kebutuhan yang sangat mendesak,” ujarnya penuh harap.
Krisis air di Kelurahan Lempake menjadi cerminan nyata pentingnya percepatan pemerataan infrastruktur dasar di Kota Samarinda. Warga berharap pemerintah daerah dan pihak pengelola air minum dapat memberikan solusi jangka panjang, seperti subsidi penyerapan biaya penyambungan pipa, agar masalah kekeringan yang berulang setiap tahun dapat teratasi secara permanen.
Pewarta: Dimas
Editor: Muhammad Rafi’i



