Teks foto: Supriadi, petani di Lempake, menunjukkan tanah sawah yang mulai retak akibat minimnya pasokan air. (Hanafi/Media Kaltim)
SAMARINDA – Tanah di sejumlah persawahan Lempake mulai retak. Parit yang selama ini mengalirkan air ke lahan pertanian ikut menyusut seiring turunnya muka air Bendungan Benanga Lempake.
Data profil pertanian 2026 mencatat Kelurahan Lempake memiliki 530 petani aktif dengan luas baku area irigasi pertanian mencapai 714,56 hektare. Di tengah kemarau, ratusan petani tersebut kini bergantung pada cadangan air bendungan yang terus berkurang.
Data Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV per 29 Agustus 2026 menunjukkan Tinggi Muka Air (TMA) Bendungan Lempake berada pada elevasi 7,05 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Posisi itu turun lima sentimeter dibandingkan 26 Agustus yang masih 7,10 mdpl. Dengan elevasi normal 7,20 mdpl, muka air bendungan kini berada sekitar 15 sentimeter di bawah batas normal.
Berdasarkan perhitungan dalam rencana tahunan operasi waduk, pelayanan air baku dan irigasi diperkirakan masih dapat bertahan sekitar 10 hari apabila tidak ada tambahan air dari hujan.
Kondisi itu mulai dirasakan petani. Paniyem, salah seorang petani Lempake, mengatakan berkurangnya debit bendungan membuat aliran air menuju parit persawahan ikut menyusut.
Selama air masih tersedia di parit, petani dapat menggunakan mesin penyedot atau alkon untuk mengairi tanaman. Namun, ketika parit mengering, pilihan petani semakin terbatas.
Paniyem telah puluhan tahun menjadi petani. Saat ini ia bersama keluarganya mengelola lahan sekitar satu hektare yang dibagi menjadi lima bagian. Hasil panen terutama digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Petani lainnya, Supriadi (54), menilai persoalan tidak hanya terletak pada menurunnya cadangan air bendungan. Kondisi jaringan irigasi, terutama parit induk yang menyalurkan air menuju persawahan, juga perlu segera dibenahi.
“Intinya satu saja, irigasi. Kalau parit induk itu dibagusin, direhab, kemungkinan enggak semua, cuma ya petani itu balik asal,” ujar Supriadi.
Menurut dia, rehabilitasi parit induk dibutuhkan agar air yang masih tersedia dapat dialirkan lebih optimal ke persawahan. Pemerintah juga diharapkan menyiapkan alternatif sumber air apabila kemarau berlanjut dan kondisi bendungan terus menurun.
Kekhawatiran petani semakin besar karena modal sudah dikeluarkan sejak pengolahan lahan hingga masa tanam. Kekurangan air yang berlangsung lama berisiko mengganggu pertumbuhan padi dan memicu gagal panen.
Supriadi saat ini menggarap lahan berukuran 25 x 100 meter atau sekitar 2.500 meter persegi. Dalam kondisi normal, lahan tersebut menghasilkan sekitar sembilan karung padi basah dengan berat masing-masing 75 kilogram.
Dengan harga sekitar Rp6.500 per kilogram, satu kali panen menghasilkan sekitar 675 kilogram padi basah atau senilai Rp4,38 juta sebelum dikurangi biaya produksi.
Kini petani berusaha mempertahankan tanaman dengan memanfaatkan air yang masih tersedia di parit sambil menunggu hujan. Bendungan Benanga tetap menjadi tumpuan utama pengairan.
Dengan TMA 7,05 mdpl dan perkiraan pelayanan air baku serta irigasi sekitar 10 hari apabila tidak turun hujan, keberlangsungan pasokan air menjadi penentu bagi ratusan petani dan ratusan hektare persawahan Lempake. (MK)
Pewarta: Hanafi
Editor: Agus S.



