Teras Samarinda Segmen II Dipenuhi Sampah, DLH Bakal Lakukan Penanganan

SAMARINDA — Teras Samarinda Segmen II belum sepenuhnya lepas dari persoalan kebersihan. Tepi Sungai Mahakam di depan Pasar Pagi kini dipenuhi sampah plastik, kayu, hingga rumput liar yang menumpuk dan mengotori kawasan ruang publik tersebut.

Kondisi itu menjadi perhatian Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Samarinda, Suwarso yang turun langsung meninjau lokasi pada Senin (10/8/2026).

PHOTO 2026 08 11 12 08 32
Plt Dinas Lingkungan Hidup Suwarso saat meninjau teras samarinda segmen II. (Foto: Dimas/Media Kaltim)

DLH memastikan penanganan akan dilakukan dalam dua tahap, mulai dari aksi pembersihan dalam waktu dekat hingga menyiapkan solusi jangka panjang untuk mencegah sampah sungai kembali menumpuk.

Untuk langkah awal, DLH Samarinda akan menggelar kerja bakti massal pada akhir pekan ini dengan melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi teknis.

“Ini diagendakan hari Jumat kita kerja baktikan dengan seluruh unsur, baik dari DLH, BPBD, PUPR, Damkar, dan lain-lain. Kita kerja baktikan massal di sini,” ujar Suwarso.

Persoalan tidak hanya terletak pada sampah yang sudah terlanjur menumpuk. DLH juga menyiapkan langkah pencegahan agar sampah kayu dan rumput liar dari aliran sungai tidak kembali masuk dan menumpuk di kawasan tersebut.

Baca Juga:   Loa Bakung Membara, Hanguskan Kios dan Rumah

Salah satu opsi yang disiapkan adalah memasang sekat pembatas atau wiremesh pada titik ujung alur air.

Namun, Suwarso mengatakan penanganan tumpukan material yang sudah memadat hingga membentuk semacam daratan kecil di tepi sungai membutuhkan penanganan berbeda.

Menurutnya, kewenangan kawasan tersebut berada pada Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV. Karena itu, DLH telah berkomunikasi dengan pihak terkait untuk membahas teknis sekaligus kebutuhan anggaran.

“Secara status itu menjadi kewenangan BWS Kalimantan IV. Kami sudah coba komunikasikan untuk meninjau bersama teknis penanganan dan penganggarannya, karena kemungkinan memerlukan ekskavator amfibi atau ponton untuk mengangkutnya. Kalau hanya digeser ke tengah, saat air pasang akan kembali lagi,” terangnya.

Selain persoalan sampah, DLH Samarinda turut mengevaluasi kondisi vegetasi di kawasan Teras Samarinda Segmen II. Dalam peninjauan tersebut ditemukan sejumlah pohon mati dan rumput yang mulai mengering.

Suwarso mengatakan perbaikan tanaman hingga 20 Agustus 2026 masih menjadi tanggung jawab kontraktor. Setelah masa tersebut, DLH akan menyiapkan skema pemeliharaan lanjutan.

Baca Juga:   10 Panji Keberhasilan Pembangunan Diborong Samarinda

Salah satu persoalan yang perlu diperhitungkan adalah kebutuhan air untuk penyiraman tanaman.

Untuk menekan biaya operasional, DLH mempertimbangkan pemanfaatan armada mobil tangki yang telah tersedia dengan menyesuaikan alokasi bahan bakar minyak (BBM).

Namun, opsi lain juga tengah dikaji, yakni memanfaatkan air Sungai Mahakam untuk penyiraman.

Usulan tersebut sebelumnya disampaikan Sekretaris Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiandong.

Suwarso menilai penggunaan air sungai dapat menjadi pilihan yang lebih efisien karena sumber air berada tepat di sekitar kawasan Teras Samarinda Segmen II.

“Kalau menggunakan air Sungai Mahakam justru lebih hemat dan lokasinya dekat. Tinggal menempatkan mesin pompa untuk menyiram area ini. Selain itu, air sungai juga cenderung lebih subur untuk tanaman dibandingkan air PDAM yang mengandung kaporit. Semua opsi ini sedang kami pertimbangkan agar perawatan RTH tetap optimal dan efisien,” pungkasnya.

Pewarta: Dimas
Editor: Nicha R

BERITA POPULER