Mulutmu Harimau Mu!, DPRD Samarinda Ingatkan Etika Tenaga Kesehatan di Media Sosial

Foto: Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie. (Hadi Winata/Radar Samarinda)

SAMARINDA – Polemik komentar seorang dokter RSUD IA Moeis Samarinda yang viral di media sosial memantik perhatian luas, termasuk Komisi IV DPRD Kota Samarinda.

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menilai peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa etika profesi tenaga kesehatan harus dijaga, termasuk saat berada di ruang digital.

Menurut Novan, status sebagai dokter maupun perawat tidak dapat dilepaskan begitu saja dari kehidupan sehari-hari.

Masyarakat, kata dia, akan tetap menilai setiap tindakan dan pernyataan yang disampaikan sebagai bagian dari identitas profesi mereka.

“Walaupun itu terjadi di media sosial, tapi dokter ataupun perawat itu melekat statusnya. Jadi jangan berpikir bahwa itu terjadi di luar jam kerja karena secara tidak langsung status tersebut tetap melekat di masyarakat,” ujarnya, Kamis (6/8/2026).

Ia pun mengingatkan tenaga kesehatan agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat di media sosial.

Menurutnya, komentar yang kurang tepat dapat menimbulkan kesan negatif, terutama ketika berkaitan dengan pasien yang sedang berjuang menghadapi masalah kesehatan.

Baca Juga:   Fashion Street hingga Jazz Tengah Jalan Ramaikan Bara’s 2023

“Jangan sampai mulutmu harimau,” katanya.

Novan menilai persoalan yang muncul bukan semata-mata berkaitan dengan kapasitas rumah sakit, melainkan juga menyangkut pola komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien.

Ia menjelaskan bahwa pasien membutuhkan kepastian mengenai kondisi yang dihadapi, termasuk alasan keterlambatan pelayanan dan perkiraan waktu yang diperlukan sebelum mendapatkan ruang perawatan.

“Kenapa harus menunggu selama sekian jam baru diterima? Harusnya diberikan penjelasan mengenai kemungkinan waktu tunggunya,” tuturnya.

Menurut Novan, komunikasi yang terbuka akan membantu pasien dan keluarga memahami situasi yang terjadi sehingga tidak memunculkan kesalahpahaman.

Ia juga menyinggung fakta bahwa unggahan yang viral tersebut tidak secara langsung menyebut nama rumah sakit tertentu.

Namun, karena komentar yang menjadi sorotan berasal dari seorang dokter RSUD IA Moeis, perhatian publik akhirnya tertuju kepada institusi tersebut.

Selain itu, Novan meminta Dinas Kesehatan Kota Samarinda untuk memberikan perhatian lebih terhadap kualitas pelayanan, terutama kepada petugas yang berhadapan langsung dengan masyarakat.

Ia mendorong pimpinan rumah sakit maupun kepala puskesmas melakukan evaluasi dan penyaringan terhadap petugas pelayanan untuk memastikan mereka memiliki kesiapan mental dan kemampuan komunikasi yang baik.

Baca Juga:   Video Viral, Dikelilingi Polisi, Pria di Samarinda Nekat Curi Barang Milik Jemaah saat Wudhu

“Karena ini bisa menjadi bola liar. Kadang-kadang hanya karena salah berbicara atau terdengar ketus, respons masyarakat bisa menjadi berbeda. Apalagi orang yang sedang sakit tentu lebih sensitif,” ujarnya.

Novan menegaskan bahwa pelayanan kesehatan yang baik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan tenaga medis, tetapi juga oleh sikap empati dan pendekatan yang humanis kepada pasien.

“Orang datang kalau disambut dengan baik tentu akan merasa lebih nyaman. Saya sendiri juga pernah menerima laporan mengenai persoalan seperti ini,” pungkasnya.

Penulis: Hadi Winata
Editor: Andi Desky

BERITA POPULER